Aku Terpaksa Menjadi Wanita Panggilan - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
5985
post-template-default,single,single-post,postid-5985,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita Hot

Aku Terpaksa Menjadi Wanita Panggilan

Ibu kota memang keras. Semüa orang di dalamnya harus berjüang dan berkorban biar tidak tersingkir, dan tidak semüa jalan yang dapat dilalüi itü terang-benderang…Izinkan saya menceritakan cerita hidüp saya. Nama saya Darmini, namun orang nggak tidak sedikit yang mengenal nama pribumi saya. Bapak dan Simbok memanggil saya Denok, itü panggilan biasa üntük anak perempüan di kampüng saya, tapi dengan kata lain nggak cüma itü. Denok jüga berarti montok alias sintal, dan rüpanya makna itü yang lebih diingat tidak sedikit orang dalam kehidüpan saya di Ibükota.

Masa kecil saya dikuras di kampüng. Saya anak semata wayang, sekelüarga petani penggarap yang tak berpünya. Sejak kecil saya diajari menari oleh Simbok, sebab beliaü sendiri waktü müda ialah seorang penari, dan masih tidak jarang ditanggap kalaü terdapat acara di kampüng. Sayang, kehidüpan kami yang damai di kampüng terhenti saat süatü hari saya dan Simbok dapati Bapak gantüng diri.

Ternyata Bapak pünya tidak sedikit ütang karena gila jüdi, dan bapak tidak mampü bayar ütangnya itü. Kami jelas sedih sebab Bapak südah tidak ada, namun jüga bingüng karena sejumlah hari sesudah Bapak dimakamkan, kami diüsir dari rümah sebab rümah kami disita bandar jüdi yang memberi ütang untuk Bapak. Kami tak pünya lokasi tüjüan, dan üang tabungan kami tak seberapa. Simbok kesudahannya nekat menyuruh saya pindah ke Ibükota menggali penghidüpan

“Denok, anda ndak dapat apa-apa lagi di sini, di kota kita dapat coba cari uang, mudah-mudahan di sana mendingan daripada di sini,” kata Simbok.

Baca Juga: Bersama Rekan Kerja Nadya

Saya cuma alumni SMP, Simbok alumni SD. Kami sama-sama nggak sadar hidup di Ibukota begitu beratnya. Melamar kerja kesana-kemari, nggak diterima karena dirasakan pendidikan tidak cukup tinggi. Cari kerja yang nggak butuh ijazah, saingan tidak sedikit sekali. Akhirnya setelah lumayan lama mencermati sekian banyak kesempatan yang ada, Simbok menyimpulkan untuk memanfaatkan kemahiran kami. Dengan bermodal pakaian dan perangkat yang kami bawa dari kampung, serta radio tape bekas dan kaset-kaset musik tradisional yang kami beli dari pasar loak dengan saldo uang, mulailah kami berdua menjadi penari jalanan.

Waktu gadis-gadis seumur saya yang di kota sedang siap-siap ujian akhir SMA atau menjalani tahun kesatu kuliah, dan yang di desa menantikan dijodohkan oleh orangtuanya, saya mulai menjalani kehidupan baru, menjajakan kemahiran seni tari bareng Simbok. Awalnya kami berkeliling Ibukota, sekadar menggali keramaian di mana kami dapat memperoleh sejumlah lembar rupiah demi menyambung hidup.

Kami biasa mulai pagi-pagi, menjajaki jalan-jalan Ibukota untuk menggali orang-orang yang inginkan kami hibur dengan tarian kami. Ternyata nggak mudah juga menggali uang dengan teknik seperti ini, paling-paling yang kami dapatkan hanya lumayan untuk santap kami berdua, satu atau dua kali pada hari itu. Dan nggak di seluruh tempat kami dapat mendapat pemirsa yang mau membayar, kadang-kadang kami justeru diusir atau dihardik. Setelah lumayan lama, kami ketemu lokasi di mana kami dapat selalu dapat pemirsa dan uang: satu pasar induk yang lumayan besar, dan lingkungan di sekitarnya.

Kami pun mencarter satu kamar kontrakan murah di sekitar Pasar. Banyak orang di Pasar, yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, haus hiburan murah yang bisa buat mereka ingat dusun masing-masing. Kehadiran kami di sana tidak jarang kali disambut senyum, tawa, dan lembar-lembar dana yang kumal hasil perasan keringat mereka. Walaupun tak jarang lembar-lembar itu diserahkan kepada kami dengan tidak cukup sopan contohnya dengan diselipkan ke pakaian kami.

Apa saya dan Simbok memang menggoda? Entah ya. Saya sendiri tidak merasa cantik. Sebagai anak petani yang tidak jarang main di luar semenjak kecil, kulit saya jadi agak gelap terbakar matahari. Tapi Simbok pun dari dulu tidak jarang kali mengajari dan mengingatkan saya guna merawat tubuh biarpun dengan teknik sederhana, jadi biarpun sawo matang, kulit saya tetap mulus dan tidak jerawatan lagipula bopeng-bopeng lho.

Oh ya, tadi kan saya telah cerita makna nama panggilan saya, Denok. Dipikir-pikir benar pun sih bila dibilang saya montok. Enggak tahu kenapa, biarpun rasanya dari kecil makanan saya bergizi pas-pasan, kok tetap saja badan saya dapat jadi ya. Sebelum remaja saja tetek saya telah tumbuh, dan kini jadinya subur gumebyur sehingga saya tidak jarang kali kuatir dengan kemben saya tiap kali menari. Bokong saya pun kencang gara-gara disusun latihan olah tubuh dalam tarian.

Ada yang bilang bahenol, saya sih matur nuwun saja bila ada yang anggap begitu. Herannya, biarpun atas bawah gede, tengahnya tidak ikut gede, perut dan pinggang saya masih singset. Saya anggap masih singset soalnya kayaknya nanti badan saya bakal jadi laksana badan Simbok, tengahnya mulai ikutan lebar. Nah, bila Simbok tersebut memang cantik. Sampai usia segitu juga beliau tetap cantik. Apalagi bila sudah gunakan sanggul dan rias, wuihh. Semua orang nengok dan nggak lihat apa-apa lagi.

Saya sendiri tidak jarang kali merasa jelek lho bila tampil bareng Simbok. Ah, tapi sejagat cuma saya sendiri yang nganggap muka saya jelek. Di samping Simbok, orang-orang yang biasa nonton kami menari kok semuanya bilang saya cantik. Saya pikir, tersebut sih pinter-pinternya Simbok mendandani saya aja. Waktu kesatu kali didandani bikin ngamen, saya protes, kok repot amat. Rambut harus disasak, disanggul, disunggar, gunakan tusuk dan kembang. Muka harus dibedaki tebal-tebal, sampai lain warna dengan badan. Mungkin bermukim tahi lalat di pipi saya saja yang nggak ketutupan. Alis saya yang telah tebal dibuat tambah tebal. Bibir pun dikasih gincu warna merah mentereng. Saya waktu tersebut ngeluh,

“Kok telah kayak penganten aja, Mbok.”

Simbok menjawab, “Yang namanya penari tersebut nggak boleh biasa-biasa aja, nduk. Mesti kinclong, manglingi. Kita harus buat senang yang nonton.”

Lama-lama saya biasa pun memakai riasan laksana itu, justeru saya jadikan guyonan sama Simbok.

“Mbok, aku wis saban hari jadi penganten, ntar bila nikah beneran harus kayak apa diriasnya?” Rias wajah yang tebal jadi unsur seragam kerja saya, sama laksana kemben, kain batik, dan selendang.

Tapi memang yang namanya nasib tersebut jalannya nggak terdapat yang tahu. Dua bulan kami menetap di sekitar Pasar, musibah datang lagi. Waktu sedang nyebrang jalan, Simbok ketabrak mobil. Luka parah. Saya panik, orang-orang di dekat ramai-ramai ngangkut Simbok ke lokasi tinggal sakit. Tapi Simbok nggak tertolong. Simbok meninggal di lokasi tinggal sakit sesudah dua hari dua malam berjuang diselamatkan dokter di sana. Sebenarnya semenjak ketabrak pun Simbok telah nggak terdapat harapan, namun entah mengapa beliau lama sekali meninggalnya.

Sekaratnya hingga seharian. Sampai nggak tega saya melihatnya. Waktu tersebut ada yang bisik-bisik, barangkali Simbok pasang susuk, makanya meninggalnya susah. Orang kok tega ya ngomong laksana itu. Tapi apakah tersebut benar atau nggak, saya nggak inginkan tahu, biarlah tersebut jadi rahasia Simbok. Saya kesudahannya sendirian di Ibukota, sepeninggal Simbok. Ditambah lagi, uang berakhir untuk mbayar lokasi tinggal sakit dan pemakaman, justeru mesti berutang ke mana-mana.

Saya nggak dapat mengadakan acara macam-macam bikin Simbok, hanya dapat mendoakan sendiri semoga arwah Simbok dapat tenang di alam sana dan ketemu lagi dengan Bapak. Seminggu lebih saya di kontrakan saja sebab terlalu sedih. Mungkin saban hari saya menangis, sedih menilik Simbok, pun kesepian. Akhirnya saya memaksa diri untuk terbit lagi, ngamen lagi, sebab uang sudah berakhir dan saya pun mesti hadapi semua tukang tagih utang yang nggak inginkan tahu kendala saya.

Jadi, seminggu setelah Simbok dimakamkan, saya pulang siap-siap guna keluar, menari. Di hadapan cermin saya tata rambut saya sendiri, saya pasang sanggul dan kembang, saya bedaki muka saya biar nggak kelihatan bekas-bekas menangis, saya gunakan lagi kemben dan kain, saya sampirkan selendang di leher. Ealah, pas terbit kamar saya justeru ketemu dengan ibu yang punya kontrakan.

Si ibu nggak pake basa-basi langsung nagih tunggakan 2 bulan. Saya nggak punya uang, jadi saya cuma dapat bilang maaf, dan si ibu justeru ngancam secara halus. Nggak apa-apa nggak bayar, katanya, tapi kelak kamu terbit dari lokasi saya. Haduh biyung, kok nggak habis-habis ya cobaan bikin saya. Saya inginkan usaha dulu, kata saya, nanti bakal saya bayar. Hari tersebut saya berangkat ngamen, berjuang cari uang bikin hidup.

Sang Juragan Beras

Sialnya, hari tersebut pasar agak sepi, dan setelah dua jam saya baru bisa Rp5000 setelah menari di pangkalan ojek. Saya nggak dapat konsentrasi, kepala sarat dengan pikiran, gimana metodenya supaya nanti bila pulang telah punya lumayan uang guna bayar kontrakan. Belum utang-utang lainnya. Menjelang siang, saya sedang jalan di deretan toko-toko besar di samping Pasar.

Dan di depan toko beras sangat besar di Pasar, saya menyaksikan Juragan sedang menghitung segepok uang. Beliau baru saja terima duit banyak, rupanya terdapat orang yang berakhir mborong. Saya waktu tersebut cuma kenal beliau sebagai ‘Juragan’. Beliau empunya toko beras yang besar itu. Beliau telah tua, lebih tua daripada Simbok, barangkali umurnya telah 50 atau 60 tahun. Kepalanya nyaris botak, rambutnya tipis beruban, kumis dan jenggotnya jarang-jarang. Badannya besar dan perutnya gendut.

Sekali dua kali saya dan Simbok pernah menari di depan tokonya, dan pegawai-pegawainya memberi kami duit tapi beliau tidak. Tapi beliau pernah meminjamkan uang untuk Simbok, dan Simbok sempat mengembalikannya. Saya beranikan diri mendekat Juragan. Dia sendirian di depan toko, sedangkan anak buahnya sibuk di dalam dan di belakang. Tokonya sedang sepi, tidak terdapat pembeli.

“Juragan,” pinta saya. “Anu… saya…”

Juragan menyaksikan saya dengan acuh. “Ada apa, Denok?”

“…saya… saya…” Duh, saya nggak powerful bilangnya. Tapi saya mesti bilang. “…saya boleh pinjam uang, Juragan? Uang saya sudah berakhir untuk ongkos pemakaman Simbok… kini saya harus bayar kontrakan dua bulan…”

“Hah?” Juragan menyaksikan saya dengan aneh, “Kamu butuh uang?”

“Tolong, Juragan,” saya meminta lagi, “Saya telah ditagih, hari ini mesti ada, atau saya diusir. Saya janji bakal kembalikan secepatnya.”

Eh, kok Juragan langsung mengantongi segepok dana yang tadi dia hitung-hitung.

“Denok,” kata beliau dengan dingin, “Aku ini pedagang, bukan tukang ngasih utang. Kamu butuh uang? Kerja sana. Atau anda jualan aja.”

“Saya sekarang pun lagi kerja, Juragan,” saya jengkel namun tidak berani menunjukkan; kelihatannya Juragan tidak inginkan meminjamkan uang. “Cuma takutnya saya tidak dapat dapat lumayan uang hari ini bikin bayar kontrakan. Kalau jualan, saya ndak punya apa-apa, harus jual apa?”

Tapi kemudian tatapan Juragan kok berubah jadi aneh… Beliau mendekati saya dan merangkul saya. Tangannya yang besar tersebut memegang bahu saya.

“Siapa bilang anda nggak punya apa-apa?” bisiknya. “Badan anda bagus, Denok. Aku inginkan kok mbayar bikin itu.” Beliau unik badan saya menghampiri ke badannya, hingga pipi saya nempel di samping dadanya yang gemuk.

“Ihh?!” saya kaget dengar bisikan Juragan itu. Duh, inikah yang namanya bisikan iblis? “Badan… saya?” Bisikan Juragan terus terngiang di kepala saya. Merinding bulu kuduk saya menginginkan apa maksudnya itu.

“Kalau anda mau, Denok, aku lunasi tagihan kontrakanmu yang dua bulan tersebut sekalian mbayar guna bulan depan,” bisik Juragan lagi.

Duh, biyung, saya harus gimana? Saya butuh uang, namun apa harus dengan teknik seperti ini? Tapi bila nggak, bagaimana lagi? Yang terdapat saya akan diusir, nggelandang, dan…ujung-ujungnya sama saja. Saya nggak punya opsi lain…

“…mau, Juragan…” saya berbisik, lirih sekali hingga nggak kedengaran. Kalau saja nggak ketutupan bedak, barangkali sudah kelihatan muka saya berubah merah laksana cabe.

Juragan ketawa, badannya yang gendut tersebut sampai terguncang-guncang. “Bagus, Denok. Ayo ikut aku. Kamu ikutin aja kataku, nanti kubayar kamu, ya?”

Lantai atas toko beras tersebut rumah Juragan. Juragan membawa saya naik tangga di samping toko, masuk ke rumahnya. Juragan ternyata bermukim sendirian. Saya penasaran, apa Juragan nggak punya istri? Kami masuk ke lokasi tinggal Juragan. Saya terus memandangi lantai, tidak berani mengusung kepala, namun sekali-sekali saya ngintip kesana-kemari menyaksikan keadaan.

Juragan rupanya bermukim sendirian di atas tokonya. Ada potret tua yang mengindikasikan Juragan dengan seorang perempuan—istrinya kah? Juragan menggandeng tangan saya masuk ke satu kamar. Kamar tidurnya. Dia nyuruh saya duduk di ranjang. Saya duduk, seraya menundukkan kepala. Juragan berdiri di depan saya, meneliti sekujur tubuh saya. Dia menyentuh dagu saya, seraya bilang,

“Denok, angkat kepalamu, lihat aku.” Saya nurut. Mungkin dia lihat mata saya ketakutan separuh mati.

“Buka kembenmu,” katanya.

Dia taruh selembar duit Rp50.000 di samping saya. Saya menengok, menyaksikan uang itu. Besar sekali bikin saya. Biasanya seharian menari saya tidak pernah bisa uang sejumlah itu. Tapi saya tetap ragu. Juragan tiba-tiba mau memungut lagi duit itu.

“Kalau nggak inginkan ya sudah,” katanya dengan nada tidak cukup senang.

Tapi saya tahan uang tersebut dengan tangan saya, kemudian saya ngangguk. Haduh, Simbok, Bapak, ampuni saya. Saya lepas ikatan kemben di punggung saya, kemudian pelan-pelan saya urai lilitan kain kemben merah yang membebat badan saya. Pas bermukim selembar lilitan yang memblokir tetek saya, saya jadi malu, dan saya tahan selembar tersebut dengan lengan saya. Juragan tersenyum menyaksikan saya.

“Wahh…susu anda gede, ya? Bikin orang nafsu ajah…” saya lihat Juragan nyengir lebar sesudah ngomong itu. sumpah, baru kali ini terdapat laki-laki blak-blakan ngaku laksana itu.

Lembar duit lima puluh ribu yang tadi diletakkan Juragan di sebelah saya dia ambil, lipat, kemudian dia selipkan ke… aduh! Dia selipkan ke belahan dada saya!

“Itu bikin kamu, Denok,” katanya. Duh, nggak percaya rasanya. Sebelumnya saya dan Simbok harus menari seharian, hingga pegal-pegal, bikin dapat uang tidak cukup dari lima puluh ribu. Tapi… sekarang saya bisa uang sebanyak tersebut … kok mudah banget?

“Beneran bikin saya…?” Masih tidak percaya, saya tanya lagi.

“Iya… asal anda buka semuanya,” kata Juragan seraya menyeringai. “Badan anda bagus, Denok. Montok… bahenol…”

Duh, apa maksudnya itu? Apa Juragan suka dengan tubuh saya? Seumur-umur belum pernah terdapat orang yang bilang tersebut ke saya… Jantung saya deg-degan mendengarnya. Juragan unik kain kemben yang masih disangga tangan saya, dan kainnya meluncur begitu saja tanpa saya tahan. Saya masih tutupi gunung kembar saya dengan kedua tangan. Aduh… malu banget rasanya, telanjang di depan orang lain…Tapi saya dapat dapat uang…

“Nah, Denok, kini buka kainnya, ya?” kini Juragan mohon saya buka pun kain batik coklat yang saya pakai.

Mungkin sebab tadi saya malu-malu dan lambat sekali masa-masa buka kemben, Juragan mendekati saya dan menyingkap kain batik saya. Saya sontak mundur, namun tangan Juragan kemudian memegang pundak saya.

“Jangan takut, Denok…” katanya.

Juragan pun memegang paha saya yang masih beberapa tertutup kain batik. Dia remas tidak banyak paha saya. Suara “Eihh” terbit dari mulut saya, malu sebab sentuhan Juragan. Tangannya kemudian nyelip ke bawah kain saya! Kulit tangan Juragan bersentuhan dengan kulit paha saya, dan saya kian deg-degan. Dia terus remas-remas paha saya. Saya nggigit bibir, takut terbit suara macam-macam dari mulut saya. Tangan satunya terus nyibak kain saya, hingga ke dekat pinggang… Duh, biyung, sedang diapakan saya ini? Kain saya bermukim nyangkut di pinggang saja, sedangkan kedua kaki, betis, dengkul, hingga paha saya telah dikeluarkan dari bungkusnya, tidak banyak lagi kancut saya kelihatan!

“Rebahan saja, Denok!” suruh Juragan.

Saya nuruti perintahnya, pelan-pelan saya rebahkan badan atas saya. Kedua tangan saya tetap nutupi sepasang tetek saya. Sanggul yang belum saya copot (apa seharusnya saya copot juga?) ngganjal belakang kepala saya. Dan seraya saya rebahan itu, tangan Juragan bertindak sangkutan terakhir kain saya di pinggang. Aduhhh biyung. Kedua tangan saya untuk tugas: satu melintang di depan dada, satu turun ke bawah nutupi kancut saya.

Saya ragu-ragu, namun nggak tahu kenapa, saya pun kok ngerasa gairah saya bangkit? Waduh? Kok begini jadinya? Juragan terus-terusan menyaksikan sekujur tubuh saya, seraya memuji.

“Ayo dong, nggak usah ditutupin,” kata Juragan. “Tanganmu disingkirin dong? Denok, bila kamu inginkan kupegang, kutambah dua puluh ribu, ya…”

Kedua tangan saya dipegang Juragan, kemudian pelan-pelan ditaruh di samping badan saya. Duh, buyar deh pertahanan saya. Sekarang susu saya nggak terdapat lagi yang menutupi. Sekarang kancut saya kelihatan.

“Euh… Juragan… inginkan pegang?” kata saya bingung. “Ja… jadi kini tujuh puluh ribu?”

Juragan pun sudah buka baju, dan melulu dengan bercelana pendek beliau naik ke ranjang, posisi merangkak di atas badan saya. Gede sekali badannya, kalau disaksikan di atas tentu saya ketutupan.

“Eh!?” pekik saya masa-masa tangan Juragan yang besar menggenggam tetek saya.

“Wooh, Denok, lunak ya susumu,” kata Juragan. “Kenyal-kenyal bila diremas…”

“Kh… ihh… apa iya…?” kata saya, seraya merasa jari-jari Juragan memenceti sepasang tetek saya. Muka Juragan menghampiri ke muka saya.

“Bibir anda nggemesin, Denok. Merah, sepertinya empuk… Ayo, cium aku,” pintanya.

“Ci… cium?”

“Ya. Belum pernah ciuman? Nggak sulit kok, hanya bibir ketemu bibir.”

“Eh… bila cium bibir saya belum pernah, Juragan… paling-paling cium pipi, cium tangan…”

“Ya udah, nggak apa-apa! Ayo…”

“…”

Muka Juragan yang lebar tersebut menempel ke muka saya, bibirnya yang lebar menempel ke bibir saya, memaksa mulut saya terbuka. Duh, lidahnya ikut main juga, masuk-masuk ke mulut saya, menyuruh bergulat lidah saya. Beda sekali rasanya dengan cium pipi atau cium tangan, rasanya hangat, geli… Saya tidak cukup suka bau mulut Juragan, jijik dengan lidahnya yang basah, namun saya merasa nggak inginkan melawan, nggak tahu kenapa… Lidahnya melumat lidah saya, bibirnya melumat bibir saya.

Lama sekali kami ciuman, ciuman saya yang kesatu, kepala saya terhimpit kepalanya. Duh, yang saya kerjakan ini salah nggak ya? Iya, saya mulai sadar saya sedang jual badan saya… tersebut sebenarnya salah, namun kok… mengapa saya jadi nggak peduli? Kenapa saya justeru jadi bergairah menginginkan bagaimana sepertinya saya sekarang? Saya hampir telanjang, susu saya berakhir diremas-remas, bibir merah saya dilalap, dan badan saya dihimpit badan laki-laki. Bunyi-bunyi jilatan, desahan, dan cairan di mulut saya. Dan saya malah kian larut. Lidah saya mulai menjilat balik lidah Juragan. Air liur Juragan saya telan.

“Uaahhh…” keluh saya saat Juragan akhirnya unik bibirnya.

Sisa liur kami dari ciuman basah tadi masih nyantol laksana tali yang menyambung bibir saya dan bibir Juragan.

“Juragan… rasanya kok lain ya…” kata saya. “Jiah!”

Saya kaget masa-masa Juragan mencubit-cubit pentil saya.

“Gimana Denok, anda suka dihirup seperti tadi? Enak kan?”

“Ahn…” desah saya sebab keenakan pentil saya dimain-mainkan, akibatnya omongan saya telah nggak terkendali,

“Iya Juragan… saya suka dihirup kayak tadi…”

“Bener? Bagus, bagus,” Haduh! Juragan nyentuh unsur depan kancut saya! Katanya, “Aku buat kamu tambah enak di sini ya?”

Juragan menyibak kancut saya dan menowel… menowel… itil saya!

“Coba bila begini…”

“Nhaaaa!! Iyhaaah? Aahh… jangan!!”

Seperti kesetrum saya masa-masa itil saya ditowel dan dikocok jari-jari Juragan. Kenapa ini… kok badan saya bereaksi laksana itu?

“Ooh… heehhh… aduh Juragan… kena…pa ini?” saya meracau, bingung dengan badan saya sendiri.

Saya belum pernah disentuh orang di unsur situ. Sumpah, saya nggak tahu terdapat apa gerangan. Rasanya terdapat sesuatu yang mau terbit dari dalam badan saya… Saya takut. Juragan terus memain-mainkan itil saya tanpa ampun. Rasanya panas dingin, kalang kabut, merinding! Dan… aduh, nikmat! Ditambah lagi, kini Juragan memasuk-masukkan jarinya pun ke… belahan memek saya!

“Aduh, aduh, ahh… Juragan! Juragan udah… jangan! Ah… saya… saya… aduh juragan terdapat yang mau terbit Juragan… aduh…”

Memang, saya merasa laksana mau pipis… Haduh bagaimana ini, masa’ saya pipis di depan Juragan? Jari-jari Juragan terus main di kemaluan saya, dan nggak tahu kenapa, saya justeru ngangkat-ngangkat selangkangan saya!

“Uuuuaaahhh… iyaaA!!”

Bobol-lah pertahanan saya akhirnya, dan tersiar bunyi “criiit” dari itil saya yang memuncratkan sesuatu. Aduhhh… malunya. Saya merasa laksana barusan pipis di ranjang Juragan. (Belakangan saya tahu tersebut bukan pipis). Tapi… kok rasanya enak dan nikmat sekali, hingga ada yang terbit dari badan saya setelah itil dan memek saya dimain-mainkan Juragan? Sampai saya ngangkat pinggul saya?

“Haahh… haduhh…” Saya tersengal-sengal, sehabis ngecrit, badan saya seperti berakhir kena setrum atau kesambar petir. Duh, edan tenan. Sampai gemetaran. Juragan senyum di depan muka saya, seraya bilang, “Nah, tersebut buat permulaannya, Denok…”

Dan tahu-tahu saja, Juragan telah buka celana, dan menempelkan… menempelkan… anunya di belahan memek saya!

“Aduh, Juragan…! Itu… Kok ditempel ke anu saya?!” kata saya. Memang saya belum tahu tidak sedikit mengenai badan laki-laki dan wanita.

“Ini namanya kontol, Denok,” Juragan menjelaskan, “Kontol ini inginkan masuk ke memekmu…”

Saya melotot menyaksikan anunya Juragan yang gede dan berurat itu. “Tapi… namun nggak akan muat, Juragan!”

“Nggak apa-apa… Kukasih anda tiga puluh ribu lagi bila kamu inginkan kumasuki.”

Kali ini Juragan tidak nunggu jawaban saya. Beliau langsung saja menurunkan badannya yang besar itu, menghimpit badan saya di bawahnya. Dan anunya… kontolnya… masuk ke memek saya! Ampuun! Sakit! Saya hingga njerit!

“AaaaAAAA!! Aduuuu!!”

Juragan mendengus dan menggerung. “Huoooh! Kamu masih perawan ya Denok!? Sempit banget!”

Perawan? Aduh biyung… saya diperawani Juragan! Badan Juragan yang berat menindih badan saya, dadanya menggencet susu saya, kontolnya yang gede tersebut mencoblos memek saya… menerobos kebesaran saya… Saya merasa sakit campur nikmat campur malu… Aduh, Bapak, Simbok, saya telah bukan perawan lagi!

“Aku masuk lebih dalam lagi, ya, Denok?” Juragan bertanya tanpa menantikan jawaban, menerobos tambah dalam ke anu saya. Saya cuma dapat bersuara ah uh saja. Lalu pelan-pelan Juragan unik kontolnya sampai terbit semua… Beliau raih belakang kepala saya, nyuruh saya melihat. Di kontolnya kelihatan bercak darah, darah perawan saya! Haduh biyung. Juragan ketawa, kemudian beliau cium bibir saya lagi. Sambil mencium, anunya dia masukkan lagi ke memek saya.

Saya njerit lagi, namun mulut saya ketutupan mulutnya. Sesudah tersebut Juragan terus nggenjot saya, terbit masuk, terbit masuk, tambah lama tambah kencang. Badan saya diguncang-guncang, kepala saya menenggak-nenggak, sepasang susu saya gondal-gandul, digoyang gerakan Juragan. Saya hingga nggak dapat ngomong, cuma dapat ndesah dan njerit nggak karuan.

Saya berjuang minta Juragan tidak boleh kencang-kencang, namun beliau tidak mendengarkan. Tapi…kok saya merasa nikmat, ya? Duh, saya lagi di… dientot sama Juragan, dan saya baru tahu ngentot itu… enak… telah gitu… saya… dibayar? Kenapa ndak dari dulu saja, ya?Terlintas benak seperti tersebut dalam kepala saya. Tapi saya acuhkan. Saya luluh dampak gempuran-gempuran Juragan. Waktu beliau rebahan dan mohon saya tegak, saya nurut. Dan badan saya gerak sendiri, naik-turun seraya masih tersodok kontolnya.

“Aah! Aiih!! Hiih!”

Duh, saya telah nggak tahu lagi apa yang terbit dari bibir saya, atau laksana apa sepertinya saya. Muka saya tentu kelihatan mesum banget. Dada saya gonjang-ganjing. Juragan kelihatan senang.

“Hah… uh… Ayo terus Denok… aku senang ndengar suaramu bila dientot… mbikin tambah nafsu. Kamu pun suka, kan?” Juragan berjuang ngajak bicara. Saya njawab dengan lenguhan dan ocehan nggak jelas, ah-ah uh-uh. “Hauhh… Ga…n! Enakh… ahh…”

“Denokh… uh… nanti bila udah sampai… anda njerit yang keras ya?” pinta Juragan di sela-sela nafasnya yang memburu.

“Sampai?” Saya bingung apa maksudnya.

“Nanti pun kamu… uh… hh… rasa sendiri,” kata Juragan.

“Yang seperti… uh… tadi. Aku mau… keluarin di dalam kamu bila kamu udah… sampai, ya?”

“Hah… ough… di… dalam?” sumpah, saya nggak ngerti apa maksudnya Juragan, dan nggak sempat mikir juga. Mana sempat mikir, bila kepala saya sarat dengan perasaan nikmat sebab dientot Juragan. Tapi nggak lama lantas saya merasa terdapat yang memuncak dalam badan saya, laksana waktu itil dan memek saya dimain-mainkan tadi. Apa telah waktunya?

Saya nggak dapat kendalikan badan saya. Saya kian getol nggoyang pinggul, menikmati kontol Juragan dalam anu saya.

“Eahh!! Uwahh!! Haduhh!! JURAGAAAN!! ANNGGGHHHH!!” Dan menjeritlah saya.

Juragan mendengar saya njerit, dan langsung memegangi tangan saya seraya ngangkat pinggulnya sampai-sampai burungnya masuk sedalam mungkin ke memek saya.

“Khn! Ghooh!”

Mata saya melotot, mulut saya nganga, barangkali lidah saya menjulur keluar, saya telah nggak peduli semesum apa tampang saya selagi saya menjerit keasyikan itu. Saya menikmati ada yang terbit di dalam kemaluan saya. Basah dan hangat. Dari anunya Juragan. Bagi kesatu kalinya terdapat orang yang menebar benihnya di dalam badan saya.

“Hiyahh…” erang saya.

Badan saya condong ke depan, kedua tangan saya bertumpu ke dada Juragan, kepala saya mendongak, menganga seraya memekik. Dan kesudahannya ambruklah badan saya ke dada Juragan, ngos-ngosan, mendesah-desah. Susu saya yang tergencet jadi menyembul ke samping badan, pentilnya mencuat keras. Beberapa lama saya terkulai di atas badan Juragan yang empuk. Dia kemudian menggeser saya dan bangun, lalu menggunakan lagi bajunya. Sambil berpakaian, dia ngomong ke saya.

“Hehehe. Lumayan juga dapat ndapat perawan siang-siang begini… Kalau anda mau, Denok, cari uang tersebut nggak susah…”

Beliau jatuhkan enam eksemplar lima puluh ribuan ke dekat muka saya. Saya nggeletak nggak karuan di ranjang Juragan, mandi keringat, ngos-ngosan.

“Itu bikin kamu,” kata Juragan. “Cukup kan bikin bayar kontrakan anda tiga bulan?”

Saya berbaring agak lama hingga akhirnya kekuatan saya kembali. Buru-buru saya gunakan lagi kemben dan kain saya. Haduh, tampang saya tentu sudah ndak karuan. Bedak saya hingga luntur dan nempel di seprai ranjang Juragan. Juragan terus duduk menyimak saya yang kalang kabut gunakan baju. Beliau diam saja. Saya pamitan dan buru-buru turun. Di bawah, di depan toko mulai ramai. Beberapa orang pegawai Juragan manggil saya, namun saya nggak berani menghadapi mereka, lagipula pas acak-acakan begini. Saya sampai separuh lari meninggalkan toko beras Juragan, langsung ke kontrakan. Ee, ternyata ibu empunya kontrakan lagi nangkring di depan.

“Siang-siang kok udah balik, Denok? Lah, kok berantakan gitu? Habis ngapain kamu?”

Semua pertanyaannya saya acuhkan, saya jejalkan duit yang saya bisa ke tangannya, kemudian saya langsung mabur ke kamar. Saya langsung buka pakaian serta sanggul, masuk kamar mandi, dan mandi…ngguyur sekujur tubuh, cuci muka. Masih nggak percaya apa yang barusan saya kerjakan dengan Juragan. Saya barusan serahkan keperawanan saya ke Juragan… ditukar duit kontrakan tiga bulan. Apa saya kecil hati atau malu? Apa saya harusnya kecil hati atau malu? Nggak tahulah… Tapi yang terjadi justeru tangan saya mulai meraba-raba selangkangan saya, memainkan itil saya laksana yang dilaksanakan Juragan tadi…

Saya si Denok, penari jalanan. Ini cerita kehidupan saya. Sesudah hari itu, terdapat yang berubah dalam kehidupan saya. Saya tetap menggali penghidupan dengan menari guna orang-orang di Pasar. Tapi terdapat yang lain…sekarang, kapan saja saya butuh uang, saya nggak lagi segan-segan menawarkan badan saya untuk laki-laki. Saya tahu ini nggak benar, dan mestinya saya berhenti, namun godaan fulus terlalu kuat. Saya si Denok, penari jalanan, seluruh orang di Pasar kenal saya.

Siapa yang tidak kenal si Denok yang berkemben merah, berbedak dan bergincu tebal, bertahi lalat di pipi. Dan kini saya dikenal pun sebagai Denok yang susunya montok, pantatnya sintal, goyangannya mantap. Sudah malam, dan saya baru saja menari buat sejumlah orang supir truk pengangkut sayur yang berakhir bongkar muatan. Saya kalungkan selendang saya ke salah seorang, saya beri senyum manis dan saya bisikkan harga saya bila dia mau.

“Bener nih, segitu?” kata si supir yang bertubuh kerempeng, berambut cepak, dan mulutnya bau minuman.

“Iya Bang… tapi bikin satu orang aja ya… bila yang beda mau ikutan, nambah.”

“Hehehe,” katanya seraya menjamah kemben saya.

“Mau dong nyobain,” dia remas tetek saya.

Dari seluruh orang yang terdapat di sana, hanya dia dan satu orang temannya yang ‘nanggap’ saya. Saya bawa supir-supir tersebut ke barisan kios kosong di dalam pasar, yang nggak laku-laku dicarter karena letaknya terlampau ke dalam. Saya buka salah satunya dan saya nyalakan lampunya, dan dua orang supir tersebut pun saya layani di sana. Saya digilir mereka berdua di sana. Mereka mohon saya layani mereka sekaligus. Jadilah saya diapit mereka berdua… satu orang ngentoti memek saya, dan yang satunya saya kasih bokong saya.

“Waduh, Neng, pantatnya sempit amat, nih,” kata orang yang nyoblos pantat saya. “Baru kesatu kali?”

“Ah, enggak Bang,” kata saya malu-malu, disela nafas memburu.

Temannya iseng menanya, telah pernah sama berapa orang saya bersetubuh. Berapa ya? Saya pikir barangkali dua puluh atau lebih. Saya nggak ngitung. Saya nggak peduli… yang saya pikir hanya kerja laksana ini lebih mudah dapat uang. Saya pun nggak pernah merasa sendirian lagi.

“Uohhh… buang di dalem boleh gak Neng?” tanya supir yang di depan saya.

Saya ngangguk. Dia muncrat di dalam memek saya. Saya ngerti tersebut sebenarnya bahaya, namun rasanya lebih enak… anget dan lebih puas aja rasanya. Dan sesudahnya, saya bisa duit. Sebulan-dua bulan setelah Juragan ngambil kegadisan saya, saya jadi makin kawakan sebagai lonte. Sudah tidak sedikit orang di Pasar yang menikmati badan saya: kuli, pedagang, preman, petugas, tukang ojek, supir dan beda sebagainya. Dan saya juga jadi kian akrab dengan mereka semua.

Saya laksana nyimpan seluruh rahasia mereka. Hihihi… Saya tahu siapa yang kontolnya sangat gede, siapa yang lemah syahwat, kadang-kadang saya hingga tahu urusan lokasi tinggal tangga mereka. Saya tahu orang-orang yang sehari-harinya kelihatan galak atau rajin ke lokasi ibadah, tapi bila sudah pengen, mereka nyari saya juga. Saya pun berkali-kali istirahat dengan Juragan. Juragan tidak jarang nyuruh saya jajaki hal-hal baru. Misalnya ngemut dan nyedot. Atau gunakan tetek saya bikin njepit kontol.

Juga bahwa lubang pantat saya dapat dientot juga. Duh, masa-masa kesatu kali nyoba itu, saya jejeritan. Sakit! Minta ampun sakitnya. Tapi lama-lama kebiasa juga. Saya pun jadi kian kenal dengan Juragan. Perempuan yang terdapat di foto bareng Juragan tersebut benar istrinya, tapi telah meninggal. Meninggal waktu mencetuskan anak kesatu, anaknya pun tidak selamat. Juragan sekitar ini kesepian, dan kehidupannya hanya ngurus toko beras saja.

Saya jadi kasihan sama Juragan, ternyata beliau sendirian pun seperti saya. Saya pun jadi tahu bahwa dulu, sewaktu muda dan masih bermukim di kampungnya, Juragan pernah kepincut seorang penari juga. Cuma waktu tersebut Juragan belum punya apa-apa, lagipula penari tersebut juga tabungan seorang camat. Juragan cuma dapat nonton dan mengagumi dari jauh tiap kali si penari tersebut mentas.

Kata Juragan, saya serupa penari itu. Mungkin karena tersebut juga Juragan selalu mohon saya gunakan pakaian dan riasan penari menyeluruh tiap kali beliau nanggap saya…Yah, saya pun ikut senang bila bisa buat Juragan senang. Makin hari saya kian larut dalam kehidupan sebagai penari yang pun jualan badan. Karena uang, harga diri saya lupakan, dan saya jadi bahan pelampiasan nafsu laki-laki.

Tiap kali terdapat orang menggencet saya, menjamah saya, menginjak badan saya… sebetulnya saya ingat jalan ini tidak benar, namun badan saya terus mohon lebih. Saya jadi nggak tahu lagi apa saya masih terus melakukannya melulu karena duit. Makin lama saya kian gawat. Melayani dua-tiga orang sekaligus. Sudah nggak terhitung orang yang membuang embrio di dalam rahim saya. Saya pun kian berani.

Akhirnya saya nggak dapat lagi hitung berapa orang yang sudah menikmati badan saya, dan saya juga bunting… Wajar, bila ingat telah begitu tidak sedikit orang yang dapat menghamili saya. Tapi saya terus melacur walaupun perut saya membesar. Dan saya pun terus datang ke Juragan. Terakhir kali saya istirahat dengan Juragan, perut saya telah mulai menonjol, dan beliau kelihatan agak cemas dengan saya.

“Sudahlah Denok… Kamu berhenti saja, ingat suasana kamu,” kata Juragan seraya pelan-pelan menggenjot saya.

“Ndak apa-apa Juragan…” kata saya.

Saya tersenyum bikin Juragan. Saya ingat dulu saya tidak senyum bikin beliau masa-masa kesatu kali beliau tiduri saya. Tapi sekarang, salah satu semua pelanggan saya, saya cuma dapat senyum guna Juragan… Senyum setulus hati. Kenapa? Entahlah… saya sendiri pun nggak tahu. Mungkin sebab sesudah Simbok meninggal, Juragan-lah yang sangat dekat dengan saya? Yang jelas saya sungguh merasakan saat-saat bareng Juragan. Termasuk sekarang, masa-masa beliau sedang senggama dengan saya, seraya tampangnya khawatir. Rasanya saya ingin buat beliau nggak khawatir. Bukannya sakit, malu, atau jijik, saya bahagia tiap kali badan Juragan bersatu dengan badan saya.

Hampir satu tahun sesudah saya dan Simbok meninggalkan lokasi tinggal untuk jadi penari jalanan di Jakarta, terdapat satu lagi kejadian yang ngubah hidup saya. Saya telah enam bulan bunting, namun tetap masih keliling menari… Saya seharusnya telah berhenti. Tapi saya mbandel. Saya pingsan di jalan. Pastinya terdapat yang menyaksikan dan menolong saya, soalnya saya siuman di lokasi tinggal sakit. Tengah malam. Dan di samping lokasi tidur lokasi tinggal sakit, duduk sendirian seraya pegangi tangan saya, terdapat Juragan.

“Kamu telah sadar Denok? Syukuuur…” kata Juragan sewaktu menyaksikan saya siuman.

Juragan menangis. Saya nggak dapat apa-apa sebab masih lemas. Selanjutnya Juragan kasih tahu saya, beliau dan anak buahnya yang bawa saya ke lokasi tinggal sakit. Dan bahwa saya keguguran.

“Duh, untung anda masih selamat, Denok… Tapi anakmu…” Juragan bilang tersebut semua seraya nangis.

Beliau bilang terkenang istrinya, dan telah takut saya akan mengalami kejadian yang sama. Beliau genggam tangan saya erat-erat, nggak dilepas-lepas. Dan…

“Denok, maaf… maafin aku. Kalau bukan sebab yang kesatu kali itu, anda nggak usah sampai laksana ini… Aku salah, Denok, aku yang ndorong anda sampai jadi begini… Salahku gede sekali sama kamu, Denok…”

Dengan tidak banyak kekuatan yang telah muncul, saya jajaki rangkul beliau sebisanya.

“Juragan… nggak apa-apa… barangkali ini telah jalan hidup Denok…”

“Nggak, nggak boleh lagi, Denok… Mulai kini biar aku yang nanggung kamu, Denok. Kamu nggak boleh lagi melacur. Biar aku nebus dosaku ke kamu, Denok.”

“Juragan…” saya cuma dapat bilang tersebut karena masih lemah, sambil berjuang senyum. Kata-kata Juragan sarat arti…

Juragan mendekatkan mukanya ke muka saya

“Jangan panggil Juragan lagi… panggil namaku saja… namaku…”

Ibukota memang keras. Tapi bikin mereka yang gigih dan mujur, tidak jarang kali ada jalan. Sesudah saya terbit dari lokasi tinggal sakit, Juragan melamar saya. Sekarang saya telah jadi istri Juragan, dan kehidupan saya jadi jauh lebih baik. Waktu kondangan pernikahan, seluruh orang di Pasar datang dan memberi selamat ke saya, si Denok, penari jalanan berkemben merah yang telah ketemu jodoh.

Untungnya, Juragan tergolong dihormati di Pasar dan seluruh orang tidak terdapat yang mempersoalkan pilihan beliau guna mengusung saya yang hina dan pernah terjerumus ini. Kini hari-hari saya dikuras mengurus Juragan dan menolong Juragan menjalankan toko beras. Juragan dan saya sadar bahwa perbedaan usia kami tersebut jauh banget, dan Juragan pun sudah tidak muda.

Saya berjuang menjalankan peran sebagai istri dengan sebaik-baiknya guna Juragan. Tapi terdapat peran lama saya yang nggak saya lupakan. Sekali-sekali, bila Juragan minta, saya bakal kenakan lagi kemben merah dan batik, sanggul dan kembang, bedak tebal dan gincu merah, untuk lantas melayani Juragan di ranjang. Memang dulu penampilan penari saya yang menciptakan Juragan kesengsem, dan memang dengan berpakaian laksana itulah saya jalani malam kesatu kami. Itu jadi memori penting bikin kami, masa-masa Juragan ditemui seorang penari jalanan.

 

 

Related Post