Berawal dari Langganan - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
6507
post-template-default,single,single-post,postid-6507,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita Hot

Berawal dari Langganan

Telah 2 bulan ini aku menjalankan bisnis menjual juice buah asli dalam bentuk gelas dan botol kecil. Aku sendiri belum pernah menghitung apakah rugi atau ada untung walaupun sedikit. Setiap hari harus bangun subuh untuk mengupas; mblender dan mengepres gelas dengan alat pemanas plastik agar tidak tumpah, itupun terkadang masih ada satu dua gelas yang tak menutup sempurna. Kemudian mengedropnya di beberapa tempat yang telah kami tawarkan sebelumnya. Saat awal menawarkan kerja sama ini memang berat, karena unsur meyakinkan orang adalah teramat penting.

Sudah beberapa kali kami menerima pesanan dalam bentuk botol kecil maupun gelas oleh instansi maupun perorangan. Hal itu bermula dari kami menyebar penawaran dalam bentuk kertas photo copyan di perempatan jalan dan acara acara arisan dan sejenisnya. Tentunya harga telah kami sesuaikan sebelumnya, lain bila untuk dijual lagi. Mereka jelas tidak keberatan dengan harga yang telah kami tetapkan tersebut, sebab rata rata dari kalangan menengah ke atas.

Acara seperti arisan tentu pesertanya adalah para ibu ibu, baik yang masih muda maupun setengah baya. Normal saja jika melihat kaum hawa yang menawan hati kita akan merasa tertarik. Di sinilah pengalamanku akan kuceritakan. Sebut saja Ibu Lis. Suaminya seorang notaris yang cukup sukses di kotaku. Ibu Lis dulu pesan juice dalam bentuk botol kecil dengan nilai 150ribu, jumlah yang cukup lumayan bagi kami.

Rupanya akan dijualnya lagi di arisan kelompoknya. Ibu Lis adalah sosok ibu rumah tangga yang quite enough personality, wajar mengingat latar belakang suaminya. Tingginya 155cman; semampai; rambut sebahu; manis wajahnya ( skor 7 ); dengan umur kutaksir 40an. Tidak ada perasaan apapun saat pertama bertemu mengantar pesanan. Aku menghormatinya sebab pelanggan merupakan ujung tombak penjualan. Dari mereka yang merasa puas tentu diharapkan akan bercerita kepada teman; saudara; dan lembaganya untuk ikut mengorder kepada kita.

Terhitung sudah 3x ini Ibu Lis memesan juice dalam nilai yang lumayan. Dulu belum kuberikan nomor hpku karena langsung order pada tanteku. Berhubung yang mobile aku, akhirnya tante memberi nomor2 langganan khusus padaku. Hari ini Ibu Lis pesan juice lagi, tentu nilainya ok. Ia sms

˝Mas, bisa diantar ke rumah jam berapa ?˝ Bergegas kujawab
˝Ya Ibu mau jam berapa pasti saya antar ˝.
˝Ok..jam 9 kalo gitu ya. Saya tunggu˝. Balas lagi,
˝Ya Bu..terima kasih˝. Setelah semua selesai kupacking, starter motor,wusss berangkat. Sampai di rumahnya pukul 8.15. Aku mencari tombol bel rumahnya, tet..tet ( cukup 2x, di atas 3x kurang ajar ).

Ibu Lis keluar dari dalam rumah masih memakai baby doll.

Lho kok sudah nyampai..?
Iya Bu..biar sama2 enak.
Oo..makasih lho Mas. Jadi saya juga bisa cepet berangkat. Oh ya..ini uangnya. Ibu Lis menyodorkan sejumlah uang dan kuhitung ada lebihnya,
Kembali 20 ribu Bu..
O ya..nggak pa2. Buat Mas aja..udah pagi2 nyampenya. Ia menjawab sambil tersenyum.
Manis juga dia.., begitu pikirku.
Sebentar dulu.., ia menyuruhku menunggu, entah ada perlu apa lagi. Setelah keluar lagi sambil membawa kunci mobil,
Mas..bisa minta tolong dimasukkan mobil sekalian..?
Oh..bisa Bu, aku menjawab sambil menerima kunci mobilnya.

Kutekan tombol alarm mobil dan kuletakkan cooler juice di jok tengah. Hal yang tak kusadari adalah ternyata Ibu Lis mengikutiku. Saat mengangkat cooler yang lumayan berat,

Saya bantu Mas.. Aku terkejut kaget,
Oh..bisa kok Bu..makasih. Tapi ia tetap ikut mengangkat dan aku tak merasa bahwa rupanya tadi sempat menyenggol sisi dada kanan Ibu Lis. Setelah 5detik kemudian baru aku menyadarinya,
Maaf Bu..nggak sengaja..
Apanya..ohh..nggak papa. Ia hanya tersenyum. Segera kurapikan letak cooler, kukunci mobil dan kuserahkan kuncinya.
Sudah Bu..maaf yang tadi.. Ia menerima kunci dan berkata
Udah..nggak papa kok Mas..terima kasih sudah dibantu ya..
Iya Bu..saya yang terima kasih.. Aku cepat2 starter motor dan segera kabur dari rumahnya,
Waduh gawat..semoga dia gak marah dan masih mau pesen..Untung gak ada yang liat juga tadi… Berbagai pikiran serba salah dan malu memenuhi pikiranku.

Tapi segera kutepis,

Ahh..gak tau..semoga tidak apa2. Masih kenceng juga susunya.. Aku nyengir mengingat kejadian tadi.

Saat masih di jalan mendadak hpku bergetar, aku menoleh kiri kanan jalan untuk menepi guna melihat siapa yang telpon atau sms aku. Kubaca tertera Ibu Lis,

Mas, mau ngrepotin lagi, bisa nggak..?
Ada apa ya.., aku berpikiran macam2,
Kalo saya bisa, saya bantu Bu…
Gini lho Mas, sopir yang biasa sama saya nggak bisa nganter, istrinya agak panas badannya. Kalo Mas nggak sibuk, saya minta tolong dianter. Saya sih bisa nyetir, tapi kalo jaraknya agak jauh masih takut. Aku nggak langsung balas smsnya,
Gimana nih..sebetulnya udah selesai semua sih. Tapi nanti kalo tante tanya mo ke mana tak jawab apa..?
Bisa kok Bu, udah selesai semua kok. Nanti Ibu jemput saya di jalan di deket rumahnya tante saja.
Oh gitu, ya udah. Makasih banyak Mas, ngrepotin terus.
Nggak ngrepotin kok Bu. Kalo saya bisa ya saya bantu. Balas2an sms berakhir.

Sesampainya di rumah tante, aku parkir motor dan mencari tanteku yang sedang di dapur.

Tan, aku dijemput temenku. Diajak cari buku..tak tinggal dulu ya. Tanteku menjawab,
Ya..semua kerjaan sudah selesai tho. Udah semua kok Tan..keluar dulu ya..
Ati2 ya.., tante menjawab sambil masih asyik memasak.

Lalu aku ke kamar mengambil sebungkus rokok untuk menemani menunggu Ibu Lis datang nanti. Aku berjalan ke jalan besar depan gang rumah tanteku. Aku duduk di batu di trotoar dan kukeluarkan sebatang rokok lalu kunyalakan. Sambil merokok aku berpikir,

Disuruh ke mana ya sama Bu Lis..moga gak jauh2 amat. Selang 10menit kemudian sebuah mobil mendekati trotoar.

Aku tak menyadarinya karena asyik menikmati rokok.

Ayo Mas..berangkat… Aku menoleh ke samping dan kulihat sebuah mobil yang kukenal,
Lho itu Bu Lis sudah datang. Kaca kiri depan turun setengah dan kulihat sebentuk wajah Ibu Lis.
Oh iya Bu berangkat sekarang. Ibu Lis memakai kaca mata hitam yang pasti ber merk; bergaun terusan warna oranye cerah; berkalung manik2 kecil2 warna biru; di kursi kiri tergeletak tas hitam mengkilat.

Ibu Lis lalu keluar dan kubukakan pintu kiri depan. Tercium parfum yang kukenal. Kemudian aku menuju pintu kanan; duduk; menyesuaikan kursi dan spion mobil; baru menjalankan mobil. Semua itu tak lepas dari pandangan Ibu Lis,

Mas teliti sekali ya… Aku menoleh,
Iya Bu..kan biar saya nyaman nyetirnya dan demi keamanan. Ibu Lis tersenyum mendengarku.

Sambil menyetir aku sempatkan melirik Ibu Lis,

Tambah manis aja kalo udah dandan. Oh iya..memang manis dan ada dana sih…
Oh ya Bu..ini mau ke mana..?
Ke jalan Mayjen Sungkono Mas… Memang cukup jauh dari rumah Ibu Lis.
Mas..maaf umurnya berapa? Ibu Lis bertanya.
30 lebih Bu…
O ya..kalo gitu terpaut sedikit dengan saya. Kalo gitu panggil Mbak aja biar enak.
Emm..nggak enak Bu…
Nggak pa2 kok.
Tapi kalo sedang berdua saja..maksud saya kalo di mobil atau sms. Di luar itu tetap Ibu..ya Bu..eh Mbak.. Ia tertawa mendengar aku agak gugup.
Iya Mas..oh ya..sampai lupa. Nama Mas siapa..udah beberapa kali ketemu belum tau nama..maaf lho Mas..
Nggak pa2 kok Mbak..Iwan Mbak.

Aku baru menyadari, rok terusan itu panjangnya sedikit di atas lutut dan..belahan dadanya sedikit lebar. Maka saat posisi duduk Ibu Lis berubah ke kiri, belahan dada sebelah kiri ikut terlihat walau hanya sedikit. Itupun sudah cukup membuatku ada bunyi ting2 di kepala. Dan panjang rok itu ikut naik sedikit bila Mbak Lis mengobrol padaku dengan sedikit memiringkan tubuhnya ke kiri. Cukup putih juga kulitnya..Iyalah..dirawat.. Mbak Lis tak sadar atau membiarkan saja posisi gaunnya.

Lumayan..pagi2 gratisan pemandangan indah, bunyi pikiranku berdendang.

Kami mengobrol apa saja hingga mendekati jalan dimaksud.

Arah mana ini Mbak..?
Masih terus..itu ada mobil hijau keluar dari gang Mas masuk aja. Nanti saya beri tahu nomornya. Setelah 5menitan,
Nah..itu ada banyak mobil berhenti. Rumahnya no 40, pagar biru. Aku menghentikan mobil tepat di depan rumah,
Mbak turun dulu..nanti cooler nya saya yang bawain.
Duh..makasih lho Mas..ngrepotin lagi…
Mbak..jangan bilang gitu terus..saya jadi gak enak.
Iya deh.. Setelah berputar dan mencari tempat parkir, aku turun dengan membawa cooler.

Lalu aku masuk ke rumah, di sana sudah banyak ibu2. Ada yang masih muda dan banyak juga yang sebaya Mbak Lis. Ia menghampiriku dan berbisik

Taruh di dapur aja Mas..biar di atur pembantu2 nanti.. Aku mencari dapur yang dimaksud dan kuletakkan di sana.

Cerita Sex 2016 Berawal Dari Langganan

Sempat kudengar ada yang bertanya siapa itu, maksudnya aku tentu, dan dijawab keponakannya. Aku langsung keluar rumah dan menuju mobil. Belum sampai mobil Mbak Lis memanggilku,

Mas..ini ada sedikit sangu buat Mas..kalo nunggu saya pasti bosan. Paling 23jam lagi baru selesai acaranya.
Ha..oh..aduh..nggak usah Mbak..aku ada kok.. Padahal cuma ada 20ribu di dompetku.
Sama kayak siapa aja..udah ambil aja.., sambil tangan kananku digenggamnya, halus, dan terasa ada sebentuk uang di tanganku.
Makasih Mbak..kalo gitu nanti tak jemput 2 3jam lagi ya..
Atau..nanti kalo mau bubar tak sms aja Mas…
Iya deh Mbak… Mbak Lis bergegas kembali ke rumah dan aku masuk mobil.

Kulihat ada selembar uang 100ribu di tangan.,

Wahlumayan nih..buat apa ya..nonton atau main game ya… Aku bertanya pada diriku sendiri, akan digunakan untuk apa uang ini.
Ah..pikir nanti aja..yang jelas sekarang ke mall deket sini. Kulirik jam tangan,
Gak usah ngebut..masih banyak waktu. Sesampainya di mall, aku belum putuskan akan ke mana.

Akhirnya aku ingin main game dulu sepuasnya, lalu makan. Tak terasa waktu melesat bagai anak panah. Jam tanganku menunjukkan bahwa tak lama lagi arisan akan berakhir. Aku segera menyelesaikan makanku; membayar di kasir; menuju parkiran mobil; dan meluncur di jalan guna menjemput Mbak Lis.

Benar saja. Hpku berbunyi,

Halo..Mas..setengah jam lagi saya dijemput ya. Mau selesai nih acaranya.
Oh ya Mbak..ini tinggal 2kman kok.
Ya deh… Sampai di sana, kulihat Mbak Lis dengan teman temannya sudah di depan pagar. Aku berhentikan mobil dan kubuka pintu depan kiri serta pintu tengah untuk memasukkan cooler, yang dibawa pembantu pemilik rumah.
Daagghh..sampai ketemu lagi ya semua.., Mbak Lis berpamitan.

Tak sengaja kulirik, ada beberapa teman Mbak Lis yang senyum2 padaku dan Mbak Lis, entah apa maksudnya. Kami pun kembali bergabung dengan kendaraan kendaraan lain di jalan raya.

Habis Mbak juice nya..?.
Iya..syukur. Pakai ngancam juga soalnya..ha3x…
Wah..ganas juga Mbak ini…
Ganas..maksudnya..?.
Ha..oh..maksudku serem juga Mbak..pakai acara ngancam segala.
Ohh..tak pikir ganas apa, sambil tersenyum.

Aku tersenyum juga dan benakku berkata

Lha..yang tak maksud memang itu..tapi kayaknya Mbak gak ngeh. Maksudnya ganas apa tadi apaan ya..?Tau deh. Kami lalu berbincang ke sana kemari, tiba tiba Mas..mau ngrepotin sekalii lagi..kalo nggak capek dan bosen tak mintain tolong sih… Aku bertanya2 dalam hati
Apa lagi… Mau tak anter ke mana Mbak..?.
Gini..aku pingin ke Batu..nglepasin pikiran dan capek..gimana..?. Mbak Lis menatapku dengan pandangan yang kubayangkan seperti film Sinchan bila memohon sesuatu pada Mamanya.
Gak ada acara ke mana2 sih aku Mbak..kalo Mbak sendiri gak capek..ya ayo aja.
Bener nih..wah..makasih banget ya Mas..semoga gak kapok ya.., dengan tangan kanannya memegang, tepatnya kurasa mengusap, tangan kiriku yang sedang menyetir. Yah..makasih lagi..gak jadi aja wis.., aku menggodanya.
Eh..iya..iya..ngambek ya.., rupanya Mbak Lis takut kalo aku benar2 tidak jadi menemani ke Batu.

Aku hanya terseyum lebar. Padahal dalam hati aku sedikit mengeluh

Waduh..udah jam segini..jalan Porong kan gak bisa diprediksi. Ahh..liat nantilah. Jadilah sepanjang perjalanan ke Batu ada saja hal2 yang kami bicarakan.

Sewaktu di daerah Pandaan, kulirik Mbak Lis yang rupanya telah tertidur.

Pantes..tak ajak ngomong gak njawab..Kasihan..capek pastinya. Mbak Lis sepertinya pulas, nafasnya turun naik teratur.
Kalo pas gini Mbak Lis tambah manis aja..Lha..belahan dada kirinya kok tambah lebar lagi. Tak benerin atau nanti bangun malah. Biar ajalah, nanti kalo bangun tak kasih tau. Lumayan..ada yang bisa dilihat pas jalan bikin kesel hati.

Menjelang sampai Batu, kudengar ada gesekan baju dan kursi,

Udah bangun Mbak Lis rupanya.
Duh..enaknya tidurnya Mbak..kayaknya capek banget.
Hmm..iya nih..nggak tau kok ngantuk bener dari tadi. Mbak Lis mengerakkan dua tangannya ke depan dan terdengar derak jari2nya.
Maaf ya Mas..tak tinggal tidur..lama lagi.
Gak pa2 Mbak..kalo gak dibikin tidur nanti nyampe Batu malah bisa gak enak semua badan. Kan katanya mau rileks sejenak.
He3x..iya..Oh ya..nanti sebelum nyampe Batu makan dulu yuk..laper nih.
Iya Mbak..udah nahan dari tadi, sambil aku nyengir.

Akhirnya kami mencari rumah makan,

Mau makan apa Mas..?.
Enaknya sih dingin gini makan sate..sate apa ya..kambing aja wis.
Aku juga tapi gabung sama Mas aja ya..10 tusuk Mas aku lima aja. Biar bikin panas badan kata orang. Aku pesen lele penyet aja..Mas juga..?.
Liat nanti Mbak..kalo punya Mbak gak habis tak habisin nanti. Kami makan sambil berbincang2.

Aku lihat sekeliling, rupanya sedari tadi ada beberapa yang memperhatikan kami, mungkin dianggap sepasang kekasih. Karena kuakui kami cukup akrab, padahal baru pertama kali ini sedemikian dekat.

Mas mau ngabisin lele ini..kenyang aku.
Hmm..ya deh..sayang udah dibeli. Setelah makananku habis
Mbak..aku ngrokok ya..?, aku minta persetujuannya.
Gak pa2 Mas..kan biasanya emang gitu. Apalagi udara dingin gini. Aku menyalakan 234 sebatang, pusss..
Enaknya..kenyang pas di tempat dingin lagi. Rokok pun habis
Terus..ke mana sekarang Mbak..?.
Sambil jalan aja yuk… Kami pun kembali ke mobil setelah Mbak membayar makanan kami.

Di dalam mobil

Mas..emm..jalan dulu aja wis.
Ada apa sih Mbak..bilang aja.
Gak dulu..jalan aja ya. Aku hanya memendam pertanyaan Ada apaan sih..ada masalah ta Mbak Lis..?. Aku menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, menunggu keluarnya perkataan Mbak Lis.

Selang 10menit kemudian

Gini Mas..aku pingin nginap di Batu. Tapi kalo Mas keberatan ya sebentar aja di sana. Deg, hatiku
Waduh..gimana nih..sebetulnya gak pa2 sih. Aku juga free.
Tapi orang rumah Mbak gimana..?, aku bertanya.
Kalo Mas setuju..ya sekarang tak telpon bilang di ajak temen2 nginap di manalah..
Ya udah..nanggung juga, udah jam segini. Aku gak ada acara ke mana2, nanti tante tak telpon juga, jawabku.
Makuasih buanyak ya Mas..jarang2 lho ada anak kayak Mas.
Ah Mbak..jadi besar nih.., godaku.
Besar apanya Mas..?.
Ya besar kepala lah Mbak.., aku tertawa.
Uhh..bisa aja, sambil tangan kanannya menggelitiki pinggangku.
Kok gak geli Mas..?, tanyanya heran.
Dari kecil tu aku gak pernah geli kalo digelitikin. Katanya sih..kuat.., aku tidak meneruskan kalimatku.
Kuat apa Mas..?.
Emm..kuat nge sex, entah dengan keberanian apa aku berbicara itu.Pikirku
Biar aja..lagian kita udah kayak kakak adik dari tadi.
Hah..masak sih..aku baru denger.
Ya kan kata orang Mbak. Duduk Mbak Lis lebih miring ke kanan, sepertinya tertarik dengan perkataanku
Jujur aja..Mas pernah main sama cewek kan..?. Aku kaget juga
Ya iyalah Mbak..kalo main ma cowok tu kalo cewek udah gak memuaskan lagi..hi3x.
Terus..udah berapa kali?.
Baru 6 7 kali an. Emang kenapa Mbak?.
Nakal juga ya..Terus..ceweknya gimana..maksudku puas apa gimana?. Aku berpikiran
Wah..omongan kita udah menjurus2 nih..Cuek ah.
Seingatku dan perasaanku sih puas kayaknya. Kenapa Mbak tanya2 terus kayak polisi sih..Emang siapa mau mraktekkin sama aku..temen Mbak..atau..?.
Atau apa eh siapa Mas?, Mbak Lis penasaran sepertinya.
Yaaa..Mbak kali..hi3x.
Heii..nakal amat ya.., dengan tambahan mencubit lengan dan kuping kiriku.
Aduh..atit kan..Abis nanyanya gak habis2, aku berlagak seperti anak kecil.
Huh..awas ya nanti.., Mbak Lis duduk menghadap depan lagi dengan tangan di dada dan bibir yang meruncing.
Ha3x..duh..manis..maap ya..Cup3x.., aku membujuknya dengan menepuk2 lengan dan pipi kanannya.
Ih..pakai pegang2 pipi, Mbak Lis berkata sambil mengelus pipi kanannya seakan2 tersentuh sesuatu yang tidak enak.

Aku hanya tertawa. Kita seperti saudara atau anak kecil saat itu.

Kami mencari penginapan yang banyak tersebar di Batu. Tiba di penginapan, CS penginapan bertanya Mau dua kamar Bu? Mbak Lis cepat menjawab

Nggak 1 aja, yang single bed ya Mbak, makasih. Aku pura2 tidak mendengarnya dan keluar ruangan untuk menyalakan rokok lagi
Mungkin Mbak takut tidur sendiri di tempat yang baru seperti ini. Udara bertambah dingin
Tau gini tadi bawa jaket atau sweater, aku menakupkan tangan kanan di dada.
Mas..kenapa..dingin ya?
Ya iyalah Mbak..masak kepanasan di sini, sambil nyengir.
Berhubung kita gak bawa baju ganti, cari yuk di sekitar sini, ajak Mbak Lis.
Terserah Mbak aja, jawabku.

Kami keluar penginapan dan menuju pasar yang terdekat. Mbak Lis membeli baju hangat 1; daster 1 dan underwear 1set. Sedang aku diberi uang dan jelas aku beli keperluanku sendiri, hanya 1 kaos dan 1 kaos hangat. Kami membuat janji bertemu di dekat mobil.

Beli apa Mas?. 1 kaos sama 1 kaos hangat.
Ha..gak beli cd ta?.
Gak Mbak..biasa cowok, kataku sambil garuk2 kepala.
Jorok ah..walaupun besok kita pulang tapi udah seharian kan. Tak beliin aja wis.
Tapi Mbak.., belum sempat kulanjutkan Mbak Lis sudah melesat ke kios sebelah mencari cd yang dirasa pas buatku. Kami telah berada di mobil kembali
Nih Mas..moga cukup, Mbak Lis menyerahkan kresek hitam padaku.

Kulihat ukurannya ternyata benar, warna biru

Kok bisa tau Mbak ukuranku? Makasih ya Mbak.
Yaa kira2 aja. Cowok tu juga harus jaga kebersihan.
Iya Mbakku sayang.., rajukku.
Huu..nggombal sekarang ya.
Ya kan emang bener. Kita kayak udah saudaraan lama dan dekat.
Iya juga sih…

Tak lama kemudian kami telah berada di penginapan lagi.

Kamar berapa Mbak?.
201 Mas. Aku menuju CS dan mengambil kunci.

Penginapan itu cukup bagus dengan fasilitas kolam renang dan lapangan tenis. 5menit kemudian kami telah berada di depan pintu kamar. Aku keluarkan kunci dan kubuka pintu

Silakan Mbak yang manis.
Ah..Mas nggombal lagi.
Ya udah kalo gak mau dibilang manis..Mbak yang agak lumayan, kugoda lagi.
Gak mau bilang manis ya wis..gak pa2, Mbak Lis tidak melihatku, langsung masuk.

Aku agak mengejarnya dan kugelitik pinggangnya.

Ehh..geli tau, Mbak Lis menghindar sambil badannya berputar tapi tak urung terkena sedikit.

Aku tertawa melihat tingkahnya. Kukunci pintu dan lampu2 langsung menyala.

Sepertinya bintang 3 ini. Padahal kita cuma semalam..ah biar aja. Mbak kan memang duitnya lebih dari orang kebanyakan, pikirku.

Kami meletakkan belanjaan di meja dekat tv. Aku menuju kamar mandi untuk buang air kecil sekalian cuci muka, lengket kurasa dari tadi. Pintu kamar mandi sengaja tak kukunci, toh hanya kami di dalam kamar. Saat penis masih mengeluarkan air tiba2 pintu terbuka. Ternyata Mbak Lis melongokkan kepala ke dalam

Lho..gak dikunci tho..pipis ya Mas. Aku menoleh dan
Iya Mbak..kan cuma ada kita dan ya aku pipis lah, masak nyemen tembok.
Huu.., cuma itu sahutannya dan pintu disisakan celah, tidak ditutup lagi.

Aku lalu mencuci muka dengan sabun. Keluar dari kamar mandi kulihat Mbak Lis sedang mengeluarkan belanjaannya dan dipaskan di badannya. Cocok kok Mbak dasternya, aku mengomentarinya.

Eh..iya. Daster itu berwarna putih berbunga biru kecil2, agak tipis.

Mbak Lis meletakkannya lagi dan menuju kamar mandi dan kudengar suara khas wanita sedang buang air kecil. Dari kaca yang ada di depan tempat tidur kulihat pintu kamar mandi tidak ditutup Mbak Lis, tersisa celah. Tapi tak kuhiraukan, nanti dianggap kurang ajar kalau ketahuan. Aku menyalakan tv dan kucari channel kartun, pas, Tom.

Related Post