Cara Dokter Melampiaskan Nafsunya - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
5986
post-template-default,single,single-post,postid-5986,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita Hot

Cara Dokter Melampiaskan Nafsunya

Aku menjadi dokter yang terpilih mewakili organisasi proyek perbaikan gizi masyarakat di sebuah kepulauan. Tempat aku bekerja jaraknya melulu satu jam pelayaran dan terletak dalam satu propinsi dengan lokasi tinggal kami. Atas persetujuan suami, kami berpisah dan masing-masing dua minggu aku kembali ke rumah.

Sepeninggalku, ternyata suamiku mengindikasikan dirinya sebagai gay. Dia memiliki pemuda tabungan teman istirahat dan pemuas sex. Selama aku dinas di kepulauan, pemuda itu sejumlah kali dibawa kembali menginap di rumah. Bagi menyembunyikan sikapnya, keseharian teman gaynya ditabung di luar, disewakan rumah. Kejadian ini memukul perasaanku. Segala upaya guna menyadarkan suamiku ternyata tidak membawa hasil.

Aku membawa kedukaanku di pulau dengan teknik melayani masyarakat setempat. Untuk memenuhi kekosongan waktu, aku buka praktek sebagai dokter umum. Suatu hari saat jam praktek nyaris usai, seorang pasien laki-laki tegap berkumis dan bercambang datang minta supaya diperiksa. Ia mengenalkan namamanya Hamid. Keluhannya tidak jarang pusing.
“Silakan Pak Hamid naik ke lokasi tidur biar saya periksa”.
Segera aku mengecek pernafasan, desakan darah dan lain-lainnya. Ketika tanganku memegang tangannya yang berbulu lebat, terdapat perasaan canggung dan geli. Sewaktu Pak Hamid pamit, dia meninggalkan amplop ongkos pemeriksaan. Ternyata isinya melebihi kewajaran tarip seorang dokter umum.
Hari berlalu, saat suatu malam ketika aku bakal mengunci kamar praktek, dihadapanku sudah berdiri Pak Hamid.
“Dokter, apakah masih ada masa-masa untuk cek saya ? Maaf saya datang terlampau malam sebab ada kegiatan tanggung”.
Aku kaget sebab kehadirannya tanpa aku ketahui. Dengan senyum geli aku membuka pulang ruang praktek seraya mempersilakan masuk.
“Dok, saya tidak memiliki keluhan. Hanya saya hendak tahu apakah desakan darah saya normal”.
Demikian Pak Hamid memulai pembicaraan.
“Saya dapat tidur lelap setelah santap obat dokter”.
Sambil memerika, kami berdua terlihat percakapan ringan, mulai dari sekolah hingga hobi. Dari situ aku baru tahu, Pak Hamid sudah dua tahun menduda ditinggal mati istri dan anak tunggalnya yang kemalangan di Solo. Sejak saat tersebut hidupnya membujang. Ketika pamit dari ruang praktekku, Pak Hamid menawarkan keadaan santai seraya menyelam di kepulauan karang.
“Dok, panoramanya paling indah, pantainya pun bersih lho”.
Aku setuju atas tawaran tersebut dan Pak Hamid bakal menyiapkan perangkat yang diperlukan.
Dalam speed boath yang menyeberangkan kami, melulu mengandung aku, Pak Hamid dan pengemudi kapal. Sesampainya disana, aku merasa canggung saat harus berganti pakaian selam di hadapan laki-laki. Tapi aku pun belum tahu teknik mengenakan pakaian selam andai tanpa pertolongan Pak Hamid. Terpaksa dengan pakaian bikini aku ditolong Pak Hamid menggunakan pakaian renang. Tangan kekar berbulu itu sejumlah kali menyentuh pundak dan leherku. Ada perasaan merinding.
Tanpa terasa pekerjaan menyelam menjadi pekerjaan berkala. Bahkan pergi ke lokasi penyelaman tidak jarang hanya dilaksanakan kami berdua, aku dan pak Hamid. Semakin hari jarak hubungan aku dengan Pak Hamid menjadi lebih akrab dan dekat. Kami telah saling tersingkap membicarkan keluarga setiap sampai dengan keluahanku tentang suamiku yang gay. Dia bukan lagi memanggilku Bu Dokter, tapi lumayan namaku, dik Nastiti.
Musim barat nyaris tiba, kami berdua di tengah perjalanan ke lokasi penyelaman. Tiba-tiba datang hujan dan angin sampai-sampai gelombang laut naik-turun lumayan besar. Aku mual, sampai-sampai kapal dibelokkan Pak Hamid ke arah sisi pulau yang terlindung. Kami turun ke pantai, duduk di bangunan kayu beratap rumbia tempat semua penyelam biasa tidur sambil merasakan bekal. Hanya terdapat dua bangku panjang dan meja kayu di lokasi itu. Angin kencang mengakibatkan tubuh kami basah dan dingin. Aku duduk mepet ke Pak Hamid. Aku tidak menolak saat Pak Hamid memelukku dari belakang. Tangan berbulu lebat tersebut melingkar dalam dada dan perutku. Dekapan tersebut terasa hangat dan erat. Aku memejamkan mata seraya merebahkan kepalaku di pundaknya, sampai-sampai rasa mabuk laut mulai reda.

Sebuah kecupan enteng melekat di keningku, lantas bergeser ke bibir, aku berjuang menolak, namun tangan yang melingkar di dadaku berubah posisi sampai-sampai dengan gampang menyusup dalam BHku. Tiba-tiba badanku terasa lemas ketika jari tangan tersebut membuat putaran halus di puting susuku. Bibir berkumis lebat tersebut menjelajah ke unsur sensitip di leher dan belakang telingaku. Persasaan nikmat dan merinding menjalar dalam tubuhku. Bibir tersebut kembali bergeser lambat menyusur dagu, bergerak ke leher, pundak dan kesudahannya berhenti di buah dadaku. Aku tidak tahu kapan kaitan BH tersebut terbuka. Dorongan kuat hadir di vaginaku, hendak rasanya terdapat benda dapat mengganjal masuk.
Tangan kekar tersebut akhirnya membopongku dan menempatkan di atas meja kayu. BHku sudah jatuh di atas pasir, mulut dan tanggan Pak Hamid bergantian menghisap dan meremas kedua gunungku, kanan kiri. Aku laksana melayang, kedua tanganku menjambak rambut Pak Hamid. Kepalaku tanpa terkendali bergerak ke kanan dan kiri semakin binal disertai suara eluhan nikmat. Oooohhhhh……oohhhh… ooooohhhh……aauuhhhhhh. Kedua tangannya semakin kencang meremas buah dadaku. Mulutnya bergeser perlahan ke bawah menelusur pusar…….. terus….vaginaku. Ahhh…… husss……. ahh…… aahhhhhh.
Ketika mulut tersebut menemukan klitorisku, jeritanku tak terbendung Auh..h…h… aahhh….. husss….. suatu benda empuk menyeruak bibir vaginaku. Bergerak perlahan dalam belaian halus serta putaran di dinding dalam, membuatku semakin melayang. Tanpa terasa eranganku semakin keras. Untuk meningkatkan kenikmatan, aku angkat tinggi pantatku ke atas. Ingin rasanya benda tersebut masuk lebih dalam. Tapi aku melulu memperoleh dipermukaan. Ooohhhh……..haahh…… haaahh…huuu……………. t..e…r…u….s…..se..se..se..diki t…atas. Ooohhh…….aahhh ……….. Sebuah hisapan kecil di klitorisku memperkuat genggaman tanganku di pinggir meja. Hisapan tersebut semakin lama semakin kuat…. powerful dan kuat….. menjadikan kesenangan tak terhingga…. memuncul denyutan orgasme. Otot-otot disekitar vaginaku mengejang nikmat dan nikmat sekali. Sesekali nafasku tersengal aaa………..hhhhhh……………huuu…………..a ahhhhh….aahhhh……… aaaahhhhhhhh……. ahhhh…… huhhhhhhh…ehhhhhh. Denyut tersebut menjalar dintara pangkal paha dan pantat ke semua tubuh. Orgasme yang sempurna sudah aku dapatkan. Puncak kesenangan telah aku rasakan.
Lemas sekujur tubuhku, aku hendak dipeluk erat, aku hendak ada suatu benda yang masih terbelakang dalam vaginaku guna mengganjal saldo denyutan yang masih terasa. Tapi aku melulu menemukan kekosongan. Tangan-tangan berbulu tersebut dengan pelan membuka pulang pahaku. Kedua kakiku diusung diantara bahunya. Kemudian terasa suatu benda digeser-geser dalam vaginaku. Semula terasa geli, tapi lantas aku sadar Pak Hamid sedang mengairi penisnya dengan cairan kawinku. Seketika aku bangun sambil memblokir kedua kakiku. Aku mendorong badannya, dan aku menangis. Sambil melemparkan muka aku sesenggukan. Kedua tanganku memblokir dada dan selangkangan. Pak Hamid tertunduk duduk dibangku menjauhi aku. Ia sadar aku tidak inginkan dijamah lebih dari itu. Sambil menelungkupkan badan di meja, tangisku tetahan. Pak Hamid mendekati dan dengan lembut ia membisikkan kata permintaan maaf. Diapun menyorongkan BH serta celana dalamku. Aku tetap menangis sambil memblokir muka dengan kedua tanganku. Akhirnya pak Hamid pergi menjauh mengarah ke kapal memungut bekal.
Kami duduk berjauhan tanpa kata-kata. Sekali lagi Pak Hamid mengemukakan permintaan maaf dan berjanji tidak mengulang kejadian itu. Ia memberikan botol air mineral kepadaku.

GABUNG SEKARANG BERSAMA AGEN BOLA SBOBET RESMI
“Maafkan aku dik Nastiti, aku khilaf, aku sudah lama tidak menikmati seperti ini sampai-sampai aku khilaf. Aku mohon maaf yah, aku harap kejadian ini tidak mengganggu persahabatan kita. Yuk anda minum dan santap siang, terus pulang”.
Aku merasa iba pada Pak Hamid. Ternyata dengan tulus dia masih dapat menahan syahwatnya. Padahal dapat saja memaksa dan memperkosaku.
Kesadaranku mulai pulih, emosiku mereda. Aku mulai beranggapan pada kejadian tadi, bukankah aku sudah terlanjur basah ketika ini ? Bukankah unsur dari kehormatanku sudah dijamah Pak Hamid ? Bukankah tubuhku yang sangat sensitif sudah dinikmati Pak Hamid ? Apa dengan kata lain mempertahankan kebersihan perkawinan ? Bukankah aku tidak pernah merasakan rasa laksana ini dengan suamiku ? Bukankah aku sudah kawin dengan seorang gay ? Yah aku sudah diusir dari rumahku oleh rekan gay suamiku. Tapi tersebut bukan salah suamiku. Ia tercetus dengan kelainan jiwa. Ia menjadi gay dengan menanggung penderitaan. Ia darurat memperistri aku melulu untuk menutupi gaynya. Aku hendak merasakan kenikmatan, namun aku tidak hendak jadi korban, aku tidak hendak punya anak dari hubungan ini dengan Pak Hamid.
Keberanianku mulai muncul. Aku melompat dan mendekap Pak Hamid. Kelihatan Pak Hamid ragu pada sikapku sampai-sampai tangannya tidak bereaksi memelukku. Aku bisikan kata mesra.
“Pak, aku kepingin lagi, laksana tadi, namun aku mohon kali ini tidak boleh dikeluarkan di dalam”.
“Maksud dik Nastiti….. ”
Sebelum dia menuntaskan kata-katanya, tanganku meraba ke penisnya. Kemudian tanganku menyusup dalam celana renangnya. Sebuah benda yang istirahat melingkar, tiba-tiba bangun sebab sentuhanku…
”Tapi tidak boleh dikeluarkan di dalam ya Pak….”.
“Terima kasih dik….”.
Senyum Pak Hamid berkembang. Kembali aku didekap, aku dipeluk erat oleh kedua tangan kekar. Aku benamkan mukaku di dada bidang berbulu.
Tanpa komando aku duduk di atas meja seraya tetap mendekap Pak Hamid. Aku diam, mataku terpejam saat pelan-pelan aku direbahkan di atas meja. Satu persatu pengikat BHku lepas sampai-sampai tampaklah susuku yang masih paling padat menyeluruh dengan putingnya yang berwarna coklat kemerahan dan telah berdiri dengan pongahnya. Kedua tangannya meraih dadaku, mulut hangat menyelusur gunungku, perlahan-lahan bergeser ke bawah, semakin ke bawah gerakkannya semakin liar. Gesekan kumis sepanjang perut membuatku menegang. Aku pasrah saat celana dalamku ditarik ke bawah lepas dari kaki sehingga sekarang aku telah benar-benar laksana bayi yang baru bermunculan tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhku. Mulut hangat tersebut kembali bermain lincah diantara bibir bawahku yang ditutupi rambut-rambut kemaluan yang berwarna hitam legam dan tumbuh dengan lebatnya disekeliling lubang kawinku dan clitorisku terasa telah mengeras pertanda aku telah dilanda nafsu kawin yang amat menggelegak.

Kenikmatan pulang menjalar di rahimku. Auh….e.e.e.e.e.e.e…..haaah…haa ah…haah. Auhhhhsss…… aku mengerang. Pak Hamid seraya berdiri di ambang meja mengusapkan benda panjang dan keras di klitorisku. Aa……hhhh…..uhhh.. jeritan kecil terbendung mengawali desakan penis Pak Hamid menyusup vaginaku. Pantatku diusung tinggi dengan kedua tangannya saat benda tersebut semakin dalam terbenam. Tanpa hambatan penis Pak Hamid masuk lebih dalam mengembara vaginaku. Dimulai dengan gerakan pendek maju mudur berirama semakin lama menjadi panjang. Nafasku tersengal menyangga setiap gerak kenikmatan. Aaah….ahh…..ahh…….haaaa………………… …..haassss…….
Entah berapa lama aku menerima irama gerakan maju mundur benda keras dalam vaginaku. Aku telah menikmati denyut orgasme. Auuuuuuuuhhhhh………… Jeritan dan genggaman tanganku di pundak belakang penanda aku menjangkau puncak orgasme. Gerakan benda tersebut dalam vaginaku masih tetap berirama, tegar maju mundur dan menciptakan gesekan dengan sudut-sudut sensitif. Tiba-tiba irama gerakan itu pulang menjadi cepat, semakin cepat….. suara eluhan Pak Hamid tersiar dan otot vaginaku pulang ikut menegang, yah… aku inginkan kembali orgasme… aaahhhhhhhhhhhh……. aahhhh…. Tiba-tiba benda dalam vaginaku ditarik keluar. Semprotan cairan hangat tentang pahaku dan meleleh di atas meja. Pak Hamid menjangkau puncak kenikmatan. Pak Hamid mengisi janjinya, tidak menerbitkan cairan mani dalam vaginaku. Aku lemas…..lemas sekali laksana tidak bertulang. Aku didekap lembut dan suatu ciuman di kening meningkatkan berkurang daya kekuatanku.
Tiga tahun lantas setelah kejadian di pulau itu, aku telah merasakan hari-hari bahagiaku. Aku kini telah menjadi nyonya Hamid. Di pelukanku terdapat si mungil Indri, buah hati kami berdua. Setelah perceraian dengan suamiku, satu tahun lantas aku menikah dengan Pak Hamid. Mantan suamiku mengirim berita ia kini sekolah di Australia. Tapi aku tahu seluruh itu melulu kamuflase, laksana dalam pengakuannya lewat telepon, mantan suamiku menetap di Sydney supaya dapat memperoleh kemerdekaan menjadi Gay.

 

 

Related Post