Cerita ABG Mendapat Kepuasan Sex dari Temanku - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
4178
post-template-default,single,single-post,postid-4178,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,no_animation_on_touch,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita hot

Cerita ABG Mendapat Kepuasan Sex dari Temanku

Perkenalkan namaku Evi, aku sudah menikah di usiaku yg baru menginjak 21 tahun. Wajahku lumayan cantik dan kulit berwarna putih. Postur tubuhku juga tinggi. Aku sudah memiliki seorang anak yang berumur 3 tahun. Aku memutuskan untuk nikah dini karena yang menikahi aku adalah seorang pengusaha sukses di luar Jawa.

Umurku dan umurnya terpaut sangat jauh. Dia jejaka tua yg dulu saat menikahiku sudah berumur 37 tahun. Suaminku bernama mas Eko. Kini dia berada di Kalimantan sedangkan aku tinggal di jawa. Dulu aku sempat iukut tinggal di Kalimantan tapi tidak betah karena jauh dari kota. Untungnya suamiku menyadari akan hal itu.

Setiap bulan mas eko selalu menyempatkan diri pulang ke Jawa untuk melepas rindu dgn anak dan istrinya. Mas Seno merupakan sosok pria yg bertanggung jawab dan sangat perhatian dgn keluarga. Setiap gajian dia selalu mengirim uang untuk kebutuhanku dan anakku. setiap bulannya aku dapat jatah uang 20juta. Dgn uang itu aku bisa berbelanja apa saja yg aku inginkan.

Perawatan tubuh dan wajah yg menjadi prioritasku agar penampilanku selalu terlihat cantik. Meskipun jarang dibelai suami aku harus tetap berpenampilan cantik dan seksi. Mas Eko bahagia sekali memilikiku, aku bisa memberikan kepuasan sex untuknya. Meskipun tenaga mas Eko tak sekuat dulu. Sebenarnya aku tidak pernah merasa puas saat burhubungan badan dgn suamiku, rasanya hambar. Tapi mau gimana lagi itu sudah menjadi kewajibanku aku harus melayaninya dgn baik. Apalagi cuma sebulan sekali pulangnya, bagiku kepuasan sex tak pernah kudapat.

Hiburanku hanya berkumpul dgn teman2ku di mall ato jalan kemana aja. Setiap jalan dgn teman2ku rasanya aku iri mereka cerita tentang suami2nya, sedangkan suamiku berada jauh disana. Mereka juga sering ngejekku, tapi ya sudahlah itu hanya candaan mereka.

Suatu ketika mas Eko tidak bisa pulang ke Jawa selama 3 bulan karena disana sedang menunggui tanaman sawitnya. Selama 3 bulan itu rasanya seperti 3 tahun dan selama 3 bulan itu aku hanya mendapatkan materi saja. Kebutuhan sex ku sama sekali tak terpenuhi. Batinku tertekan karena selalu jauh dari sex yg tak terlampiaskan.

Untuk menghilangkan kesuntukanku aku sering pergi dgn temanku yg bernama Erwin. Dia adalah teman sekolahku dulu. Dia masih bujang belum menikah. Aku sering chatting dgn dia karena hanya dia yg selalu ada waktu kosong untukku. Kegiatan Erwin sehari-harinya cuma kuliah kalo ga yg nongkrong dgn teman2nya.

erwin menjadi teman curhatku, dia tau semua keluh kesahku. Kadang kalo aku bertemu dgn Erwin aku mengajak anakku supaya tidak menimbulkan fitnah. Aku juga sangat akrab dgn Erwin. Setiap kali bertemu aku selalu menceritakan tentang rumah tanggaku. Erwin pun selalu memberikanku nasehat agar aku selalu bersabar. Memang tidak baik jika berumah tangga tidak tinggal serumah. Tapi mau gimana lagi aku ga bisa jika aku harus tinggal di kalimantan.

Suatu hari Erwin mengajakku pergi nonton, aku bergegas pergi untuk menghilankan penat. Kita nonton film romatis berasa masih jaman pacaran saja. Erwin memang tipical cowok yang romantis tapi hingga saat ini dia masih asyik jomblo. Setelah film usai aku dan Erwin pulang ke rumah.

Paginya Erwin berencana mengajakku pergi ke puncak dgn anankku. aku oke aja asal dgn anakku. Sesampainya di rumah aku bersiap-siap packing untuk besok.

Keesokan harinya aku sudah siap untuk pergi berlibur ke puncak. Aku sudah ijin dengan Mas Eko, tetapi aku sengaja menutupi jika aku pergi dengan Erwin. Sebenarnya nggak ada apa-apa cuma aku takut mas Eko berprasangka buruk terhadapku. Aku, putriku dan Bik Rumi berangkat menuju rumah Erwin. Tampak Erwin sudah menunggu di depan rumah dengan membawa tas ransel dan berpenambilan bak anak muda kece, aku juga nggak mau kalah dong,

“Ayo Win kita berangkat sekarang” ucapku.

“Tunggu sebentar Vi kameraku tertinggal” jawab erwin.

Setelah semua sudah siap kami langsung menuju puncak, perjalan sekitar 3 jam dari rumah. Sepanjang perjalanan putriku diam tidak menangis tampaknya dia sangat happy. Dia dan Bik Rumi tertidur pulas karena jalan macet total, mungkin karena hari libur. Sesampainya di villa tepat jam 1 siang, Erwin memesan kamar 1,

“Loh Win, kog cuma pesan kamar satu aja sih?” tanyaku.

“Kan satu Villa ada dua kamar di dalamnya Vi, daripada sewa banyak kamar kan sayang buang uang” jawab Erwin.

“Oh gitu ya…yaudah deh” balasku.

Setelah kunci diberikan kita berempat menuju kamar. Memang benar apa kata Erwin masuk ke kamar ada ruang tamu bed 2. Dan di dalam ada ruangan 1 lagi untuk Erwin tidur. Aku, putriku dan Bik Rumi tidur di dua bed depan. Ya okelah, kita siap berlibur 2 hari disini. Udara yang sangat dingin membuat putriku hanya berdiam diri di kamar ditemani Bik Rumi.

Aku dan Erwin pergi untuk menikmati pemandangan dan ke kebun teh. Erwin bertingkah seperti suamiku jadi teringat mas Eko. Jalan ke kebun teh sangat jauh keringat bercucuran membasahi pipiku. Tiba-tiba Erwin mengusap keringatku. Aku terdiam sambil memandangi Erwin. Aku terbawa suasana dan menikmati udara yang sangat dingin ini. Aku dan Erwin berdiri di warung pinggiran disitu jual minuman hangat serta jagung bakar yang khas. Aku berhenti di warung itu istirahat sejenak,

“Kamu sudah ijin sama suami kamu kan Vi..?” tanya Erwin.

“Sudah..dia mengijinkan kog..”

“ya sudah berarti aman tidak akan timbul masalah, lama banget Mas Eko nggak pulang ya Vi?”

“Iya 3 bulan dia ga pulang, kangen sih tapi mau gimana lagi. Pengen banget nyusul tapi aku kurang cocok disana, aku harus bersabar menunggu suamiku pulang dan aku harus menahan rasa” jawabku.

“Rasa apaan tuh Vi?” tanya Erwin.

“Biasa suami istri juga butuh berhubungan layaknya pasangan” jawabku

“Walaupun aku belum menikah aku tau kok Vi apa yang kamu maksud” ucap Erwin.

Dengan sedikit malu aku menatap wajah Erwin. Aku curhat mengenai pribadiku, dia menyadarinya. Dia mengelus rambutku sambil memberikan pengertian. Rasanya nyaman banget berada di samping Erwin. Pas lagi curhat Erwin memelukku dengan tiba-tiba, aku sangat terkejut. Aku berfikiran mungkin hanya pelukan seorang sahabat saja.

Waktu semakin sore, aku harus pulang ke villa. Sampai di kamar putriku sudah tertidur pulas. Aku membersihkan badan mandi agar terlihat fresh. Dengan mengenakan baju santai seperti rok pendek dan aku bersolek. Setelah mandi aku dan Erwin duduk di ruang TV sambil bercanda. Dia sampai menggelitik aku hingga aku tertawa keras.

Aku sudah mengantuk, aku pergi ke tempat tidurku. Semetara Erwin masih menonton tv, tengah malam Erwin mendekati tempat tidurku. Tiba2 dia tidur di sampingku menarik selimutku. Aku sungguh sangat terkejut. Padahal di sampingku ada Bik Rumi, aku takut jika mereka terbangun melihat aku tidur dengan Erwin,

“Apa2an sih Win kog kamu tidur disini”

“Aku pengen menikmati malamku bersamamu Vi”

“Jangan Win aku sudah berkeluarga, aku nggak mungkin mengkhianati mas Eko”

“Sudahlah jangan menolak, aku tahu kamu rindu belaian laki-laki kan?”

Erwin langsung mencium keningku kemudian dia mnegecup bibirku. Padahal samping tempat tidurku ada putri dan pembantuku. Rasanya nggak tenang banget,

“Kita pindah aja di kamarku yuk Vi?”

Tanpa berfikir panjang Erwin menggendong aku menuju kamarnya. Entah apa yang akan dilakukan Erwin aku sangat terbawa suasana. Seperti biasa dia bercanda aku selalu digodanya. Layaknya suami istri yang sedang bergurau di ranjang. Dia kembali memeluk aku dengan erat, aku yang memakai lingeri tanpa bra membuat payudaraku menempel di dada Erwin.

Gairah nafsuku muncul dengan tiba-tiba saat Erwin mengulum bibirku. Lingeriku terbuka terlihat pahaku yang mulus. Aku terbawa dan membalas kuluman itu. Ketika Erwin mulai membuka lingeriku aku hanya mengikuti saja. Payudaraku menggantung kencang Erwin pun jadi semakin bergairah. Aku direbahkan di kasurnya, tangan Erwin lalu meremas payudaraku, dia berusaha membangkitkan gairah sex ku. Lidahnya berputar-putar di putingku dan sesekali dia menghisap putingku. Tangan kanan memainkan jemarinya memilin putingku.

“Aaahhh…Win aku horny berat nih”

“Tenang Vi, aku akan memuaskanmu malam ini”

Enak banget permainan lidah Erwin di payudara dan putingku. Kemudian Erwin melepaskan payudaraku, dia melepas celananya. Tampak dari dalam CD penis Erwin yg sudah tegak berdiri,

“Buka semua donk Win”

Erwin pun menuruti perintahku lalu terlihatlah penis yang sangat besar dan berbulu lebat. Erwin lantas membuka celana dalamku, kedua kakiku dia buka lebar. Selakanganku dia jilat hingga tubuhku menggeliat karena nikmat. Tangannya kembali bermain di memekku yang rimbun akan bulu-bulunya,

“Memekmu sangat menggemaskan Vi”

Tangannya membuka lipatan-lipatan memekku. Dibuka lebar dan dia berusaha mencari lubang memekku itu. Dia membasahi memekku dengan mengecup ujung luar lubang itu. Terus dia kecup hingga memekku basah, mengeluarkan cairan lendir. Erwin bersemangat dan membiarkan cairan itu meleleh keluar,

“Aaahhh Winn…jilat donk Win memekku…” kata-kata itu keluar dari mulutku.

Sangat lama dia memainkan memekku, hingga aku tak kuasa. Erwin kembali mencium bibirku, dadanya bergesekan dengan payudaraku sedangkan penis bergesekan dengan memekku. Nafsu birahi itu terus memuncak. Hingga saatnya Erwin mencoba memasukkan penisnya ke dalam lubang memekku,

“Aaahhh masukan lebih dalam lagi Wiinn…aahhh…”

“Sleeeeppp….” akhirnya seluruh batang penis Erwin masuk ke dalam memekku.

Erwin mengocok kemaluannya di dalam, maju mundur gerakannya. Keringatku bercucuran membasahi tubuhku. Erwin tak kuasa melihat payudaraku yg ikut bergoyang seiring dgn sodokan penisnya ke dalam memekku. Sambil memainkan penisnya, mulut Erwin mengecup puting susuku yang berwarna kecoklatan,

“Ooohhh..nikmat sekali Wiinn…aahhh…”

Erwin terus menggoyangkan gerakan-gerakan yg menimbulkan kenikmatan y sungguh luar biasa. Aku memeluknya erat dan tak kuasa aku mengeluarkan cairan lagi,

“Ooohhh Wiiinn aku keluaaaarrr….aaarrgghhh…” Aku sudah pasrah dan sangat menikmati goyangan penis Erwin di dalam lubang kenimatanku,

“Aku sudah nggak tahan keluarin sekarang ya Vi…”

“Crooottt…crooott…crooottt…”

Erwin menyemprotkan cairan tepat di luar pas di depan lubang memekku. Nikmat banget rasanya udah lama tubuhku ini tak disentuh pria. Erwin mengambil tisu dan membersihkan tubuhku. Aku terbaring lemas, Erwin mendekatiku mencoba memberikan selimutnya. Aku dan dia sudah sangat capek. Kita tidur berdua di ranjang dengan posisi masih telanjang.

Tangan Erwin tidak lepas dari dekapan, dia terus memelukku memegang erat payudaraku seakan tidak mau aku tinggalkan. Hingga kita tertidur pulas.

Alarm berbunyi tepat jam 5. Aku membangunkan Erwin untuk mandi. Aku dan dia mandi bareng di bath up, disitu kita masih sempet ngesex di air. Setelah itu aku bergegas membangunkan Bik Rumi untuk pulang.

Jam 8 kita chek in dari villa, aku menyempatkan pergi ke taman biar putriku bermain disana. Waktu semakin sore aku emengajak Erwin pulang. Sepanjang perjalanan pulang aku terus mengingat kejadian semalam.

Sejak saat itu aku menjalin hubungan dengan Erwin. Bik Rumi pun tau hubunganku, karena Erwin sering menginap di rumahku. Perselingkuhan berjalan hingga mas Eko meninggal dunia dan aku menikah resmi dengan Erwin.

Related Post