Cerita Dewasa Tante Ngulum Kontol - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
4571
post-template-default,single,single-post,postid-4571,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita hot

Cerita Dewasa Tante Ngulum Kontol

Dua bulan sejak pertemuanku kembali dengan Hesti, ia mengundangku ke pesta pernikahan mereka di Bogor. Pesta kecil itu hanya dihadiri oleh beberapa kerabat saja, dari keluarga suami Hesti dan koleganya di kampus.

Aku hadir dengan ?pasangan tetapku? sejak menjanda, Budi dan Hesti (atau suaminya) rupanya sudah menceritakan ke?janda?an ku pada kerabat dekatnya sehingga beberapa mata lelaki termasuk keluarga suami Hesti begitu bersemangat berkenalan denganku, aku GR juga. Kuyakin semua yang tadi berkenalan denganku pasti berharap dapat mengambil hati dan simpati dari aku.

Siapa sih yang tidak mau denganku? Janda dua anak dengan perusahaan multinasional yang berkembang pesat ini masih menyisakan terlalu banyak pesona yang diinginkan lelaki manapun. Tua muda remaja sampai kakek-kakek di pesta itu sering kali ?tertangkap basah? sedang melirik gatal kearahku. Sementara si tuan rumah justru asik dengan suamiku eh?.anak angkatku, mereka ngobrol tentang materi kuliah, serius sekali kedengarannya.

Hesti sudah akrab dengan Budi sejak aku saling memperkenalkan mereka dulu. Dan Hesti- yang juga dosen akuntansi Budi itu- ibarat monitor yang kupakai mengawasi Budi di kampus. Hesti hampir tiap hari melapori aku tentang perkembangannya, dari pergaulan di lingkungan kampus hingga daya tangkap Budi terhadap mata kuliah yang diberikannya.

Baca Juga: Sendiri Dirumah, Istri Diperkosa Supir

Diakhir pesta, hanya kami-aku, Budi, Hesti dan suaminya yang masih asik mengobrol santai. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Seluruh undangan dan kerabat sudah pergi dan anak-anak Hesti sudah berangkat tidur rupanya. Budi terlibat obrolan serius dengan suami Hesti, tak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku dengan Hesti duduk di pojok halaman depan, jauh dari mereka. Kami bercanda tentang segala rahasia rumahtangga kami. Hesti yang terlebih dahulu menceritakan masalahnya, ternyata suami Hesti impoten! Aku terhenyak juga mendengarnya karena sejak melahirkan anak keempat yang sekarang sudah berumur 10 tahun, pak Hendro (suami Hesti) yang umurnya memang jauh diatas Hesti itu menderita penyakit kencing manis yang cukup akut, ditambah dengan terjadinya sebuah kecelakaan lalulintas yang sialnya semakin memperparah penyakitnya sampai kemudian jadilah ia impoten. Aku terkejut mendengar ceritanya, tapi heran juga, hesti bertutur sambil senyam-senyum seperti senang.

?Hes, kenapa ketawa? Suami sakit begitu kok diketawain?? tanyaku setengah berbisik

?hihi?.santai aja Sis, aku ngga terlalu mikirin itu,? jawabnya berbisik pula

?emang kamu selingkuh ya! Pasti deh! Nah lo! Ketauan, dasar liar kamu itu ngga berubah dari dulu, iya kan?? langsung main tuduh saja aku. Tapi aku kenal benar si Hesti, sejak remaja dulu, ia memang doyan gonta-ganti pacar, jadi kalau sekarang pun ia masih begitu tentu wajar saja.

?hihihi?.Siska, siska, kamu kayak nggak tau aku aja sis?? yang begituan sih aku kan jagonya, hahaha,? brengsek si Hesti, tertawanya membuat Budi dan Pak Hendro sampai menoleh kepada kami.

?Hey! Ini urusan perempuan, laki-laki kagak boleh ikut campur!? katanya kepada pak Hendro, ia setengah berteriak karena jarak antara tempat kami yang cukup jauh sekitar 15 meter.

?Jangan keterlaluan ah, Hes! Kan ngga enak ama suami kamu?? aku menepiskan tangan di depan wajahnya, mengingatkannya akan perasaan pak Hendro kalau tahu pembicaraan kami.

?Duu..du..du, putri malu, segitunya kamu ya? Itu masalahku, lha kamu sendiri apa ngga selingkuh ayooo?? sergahnya tiba-tiba saat aku hendak kembali mengingatkannya agar tak terlalu keras bicara. Aku tak enak pada pak Hendro, lelaki tua itu cukup berwibawa dan membuatku sungkan.

?ayo, kamu ngapain kalo pas lagi ngebet banget kepingin begitu? Masa sih mau swalayan terus? Beli vibrator? Nggak seru dong sis??

?Jadi benar kamu berselingkuh? Sama siapa?? aku tak memperdulikan pertanyaan beruntunnya, malah terus mengejar jawaban dari Hesti.

?sudah kubilang, kalau aku sih gampang aja, Sis. Barang begituan banyak dimana-mana! Mau yang chinese, arab atau bahkan afrika yang hiiiihhhh!?

?Heeeesss! Jangan keterlaluan begitu ah, jadi benar kan kamu selingkuh??

?Yaaaahhhh?apa boleh buat Sis, kamu sudah tahu suamiku tak mampu lagi,? wajahnya berubah serius sekarang.

?Trus?, sama siapa?? kejarku

?Emang kamu mau? Ntar aku cariin dech..,? ia mencoba mengalihkan

?Enggak, enggak, aku mau tahu siapa selingkuhanmu, pokoknya harus tahu!? ujarku pura-pura marah.

?iya..iya?tapi jangan marah begitu dooong, aku kan Cuma becanda??

?jadi kamu ngga selingkuh? Trus gimana ngatasi libido kamu yang hhhh itu??

?aku ada affair dengan seseorang, Sis,? jawabnya datar, dan kali ini mimik mukanya jujur

?siapa itu Hes,?

?temanku di kampus,? ia berkata sambil menunduk, aku jadi seperti polisi yang sedang memeriksa tersangka maling.

?Dosen? Pegawai administrasi UI??

?hek eh,? ia mengangguk. Asistenku sendiri, Sis, tapi Please kamu jangan cerita orang lain ya?? ia merajuk

?Hesti, hesti. Kamu pikir aku ini siapa sih? Kamu kan sahabatku dari dulu, Hes. Ngga mungkin lah aku mau ngomong sama orang lain,? aku merangkul pundaknya dan meremas jemari tangan kirinya, untuk menyakinkannya atas kata-kataku.

?tapi aku takut, sis,? sambungnya kemudian

?takut apa? Hey, biasanya kamu dulu perempuan yang paling berani di sekolah,?

?dia?.dia?.dia suami orang, Sis,? ia tertunduk lagi, seperti menekan perasaan malu.

?Hes, kamu jangan gitu dong! Aku kan sudah bilang kalau selingkuh itu jangan sama orang yang?..,? belum lagi kuselesaikan kata-kataku yang cenderung menghakimi itu, Hesti memotong.

?Tuh kan, iya..iya aku tahu aku salah, tapi mau gimana Sis? Masa mau begituan sama mahasiswaku? Celaka dong, ngga ada wibawa aku jadinya,?

?Trus?mmm, kenapa ngga cari yang komersiil aja??

?gigolo maksudmu??

?mmm!? aku mengangguk

?pssst?aku pernah,? bisiknya

?trus..trus?? tambah penasaran aku jadinya

?ngga cocok, seringkali aku pake G tapi yang cocok ngga ketemu, mau terus cari yang gitu aku takut,? terhenti lagi, matanya melirik ke arah suaminya yang masih saja asik ngobrol dengan Budi.

?aku takut penyakit, Sis. Soalnya temanku yang dosen kimia di Fakultas Kedokteran ada yang kena, sekarang sudah koit, iiiihhh aku ngeri dech,? jelasnya sambil menyorongkan muka padaku, wajahnya tampak sedikit khawatir. Mungkin membayangkan nasib temannya itu.

?sekarang do?i meninggal, sis. Mmmm teman ku yang kena AIDS itu, iiihhhh!?

?emang kamu kena juga? Kok kayak takut banget,?

?enggak-enggak, tapi waktu itu aku langsung check ke laboratorium?,?

?nah lo!? aku memotong

?week! Hasilnya negatif!?

?sampe segitu takutnya, Hes?? tanyaku

so..soalnya G yang doi pernah pake, pernah juga aku rasain?iiihh kapok dech aku, Sis,? ia merinding lalu memelukku. Hesti dan aku memang dari sejak SMA dulu sudah sehati, seperti sudah kukatakan sebelumnya, dulu kami selalu berbagi masalah, berbagi persahabatan, cerita dan tidak ada rahasia diantara kami. Bahkan pernah suatu ketika kami terlibat cinta segitiga dengan seorang cowok di sekolahku, tapi ujung-ujungnya kami sepakat untuk sama-sama meninggalkannya dengan pertimbangan persahabatan kami lebih penting dari masalah cinta-cintaan seperti itu.

Saat ini ingin rasanya aku melakukan apapun yang kubisa untuk menolongnya?.

?Tapi Hes, aku ngga setuju kalau kamu harus pacaran sama teman kamu yang sudah beristri itu. Ngga baik menghancurkan rumah tangga orang, Hes,? aku berkata begitu sambil menyandarkan tubuhnya di kursi taman yang panjang , dan kini kami berhadap-hadapan. Pembicaraan kami semakin serius saja, tak peduli malam kian larut. Budi dan pak Hendro sudah masuk kedalam rupanya, kulihat dari sini mereka asik bermain catur di ruang tamu rumah Hesti.

?Iya, Sis. Aku pikir juga begitu, temanku itu menyayangi keluarganya. Ia orang baik-baik. Dan aku juga ngga mau sampai mereka hancur gara-gara masalah ini,?

terdiam kami beberapa saat. Tak tahu harus beri saran apa lagi kepadanya. Aku hanya bisa membelai wajah sahabat lamaku ini, ia masih tampak cantik juga di usia yang terpaut setahun dibawahku itu.

?Sis, aku boleh minta sesuatu ngga dari kamu?.,mmm..tapi,?

?Boleh, Hes, boleh, minta aja, aku akan penuhi!? jawabku dengan antusias. Kupikir ia pasti akan memintaku untuk mrncarikan jalan keluar atas masalahnya tadi. Gampang! Kukenalkan saja dengan salah seorang karyawanku yang ok punya, pasti deh Hesti mau.

?tapi permintaan ini hampir mustahil, Sis. Aku takut ini akan justru merusak hubungan kita?.,? diam lagi. Giliran aku yang penasaran.

?apaan sih Hes? Masak hubungan kita yang sudah seperti saudara ini akan rusak hanya gara-gara permintaan tolong kamu itu? Emangnya kamu minta nyawaku? Hehehe?ngga la gih! Aku masih mau hidup hahaha senaaang!? tiba-tiba aku jadi tertawa, Hesti sampai terkejut.

?Sis! Aku serius?.aku mau seperti kamu, sebahagia kamu??,? ia memotong tawaku. Aku berhenti, dan kembali serius.

?Ok sweety, what do you want me to do? Bilang apa yang aku bisa kasih ke kamu say, percayalah, aku akan berikan apa saja yang kamu mau. Ingat Sis, punyamu adalah punyaku juga, itu ide gila kita dulu waktu SMA, dan sampai sekarang aku masih pegang itu, yah sekarang kamu mesti katakan apa maumu sayang,?

?aku sudah?su..sudah?ah, kamu ngga akan marah kan, Sis?? ia masih saja ragu mengatakan keinginannya.

?ngga mungkin aku marah sayaaaaang?., kamu sudah apa? Jangan bikin penasaran gitu dong ah?,? kupegang kedua tangannya untuk meyakinkan.

?aku takut mengatakannya Sis, aku tahu itu akan membuat kamu shock,? ia masih menolak.

?OK, aku ambil nafas dulu??..hmmmm huuusssss,? kutarik nafas dalam-dalam, hatiku masih penasaran akan permintaan hesti.

?OK, sudah, aku sudah tenang, sumpah demi tuhan aku ngga akan marah. Ngga akan shock,?

?Benar, Sis? Benar kamu ngga akan marah dan merusak hubungan kita ini??

?bahkan kematian pun tak kan memisahkan kita?..,? aku berkata pelan dan dalam. Membuatnya yakin.

?mmm?sumpah?? ia masih ragu rupanya

?sumpah demi tuhan!, kau ambilkan aku Injil sana!? kuacungkan dua tangan ke atas. Ia semakin yakin rupanya. Tangannya kini menggenggam telapak tanganku. Wajahnya mendekati telingaku, well, dia akan membisikkannya?.

?Sis, aku sudah tahu hubunganmu dengan Budi????,? bisikan halus yang terdengar bagai petir di siang bolong! Menyambar tubuh dan hatiku, menggetarkan jantungku dan membakar tubuhku. Aku serasa melayang mendengarnya, nyawaku serasa terpisah dari raga. Aku lemas dipelukan Hesti. Kakiku ingin berdiri tapi tak mampu. Hesti mengeratkan pelukannya. Malah kini mencium.

Itu rahasia terbesar dalam hidupku! Bahkan hesti sahabatku itupun tak boleh mengetahui skandalku dengan Budi, bagaimana dengan Budi, pastilah ia yang bercerita tentang hal ini. Lalu mengapa? Apakah yang telah membuat Budi menceritakannya? Apakah telah terjadi sesuatu antara Hesti dan Budi? Semudah itukah Budi menceritakannya tanpa ada sesuatu? Ah aku tahu, pastilah telah terjadi hubungan yang jauh antara mereka! Tak mungkin Budi mengatakannya tanpa ada latar belakang apa-apa! Bagaimana denganku? Oh tuhan, haruskah aku ditinggal Budi? No! tapi aku takut Budi juga akan mengatakannya pada orang yang lain lagi, dan pastilah semua akan hancur! Oh keluargaku akan hancur! Bagaimana kalau Rani sampai mengetahuinya? Ya Tuhan tolonglah aku! Seribu pikiran menjalari kepalaku, tubuh lemasku tergolek di paangkuan Hesti sekarang. Ia justru lebih tenang.

Ah, aku tahu?..aku tahu arah pembicaraan ini, hey! Jangan panik dulu! Teriak batinku. Bukankah Hesti, sahabat yang telah kau anggap saudara ini hanya ingin berbagi denganmu? Bukankah kau juga menyayangi Hesti seperti saudaramu? Dan?hmmmm, bukankah?..lebih nikmat mengulang kembali cinta segitiga yang pernah kau lakukan dengan Hesti dulu? Pastilah sekarang ia akan mengatakan bahwa ia telah melakukan hal yang sama dengan yang telah aku dan Budi lakukan, pastilah Hesti sudah pernah tidur dengan Budi, oh seperti apa rupanya? Ada perasaan cemburu bercampur penasaran dalam benakku.

?Maafkan aku, Sis. Itulah sebabnya tadi aku ragu mengatakannya?.tapi please Sis, aku yang salah. Aku yang telah membuat Budi bercerita tentang ini, kalau kamu ingin menghukum aku saat ini juga aku siap Sis. Bahkan kalau kamu suruh aku bunuh diri juga aku mau?,?

Aku tak mampu menjawab. Hanya hening, nafas kami terdengar sayup.

?Sis, aku sudah?.sudah?..,? lagi-lagi ia berkata ragu, namun nada-nadanya aku sudah tahu arah pembicaraan ini. Beberapa saat setelah itu aku sudah cukup tenang sebenarnya. Pikiran-pikiran positifku berhasil mengalahkan shock tadi.

?Hes, kamu sudah pernah melakukannya dengan Budi, iya kan?…mmmm?,? aku akhirnya meneruskan kata-kata Hesti yang terputus tadi.

?I?ii..iya, Sis. Maafkan aku?ini semua salahku?..aku ngga tahan?.aku yang lebih dulu merayunya?aku..aku?.,? Hesti terbata-bata,

?Hestiiiiiiii!!!!…..mmmmmmhhhhhh!!!!,? aku berteriak sambil mencubit pipinya. Keras sekali, gemas! Jengkel! Dan?.aneh, aku berubah secepat itu. Hesti sampai berteriak keras juga. Untung rumah itu luas sehingga tak ada orang yang mendengarnya.

?Aduuuuhhh!!! Mama!!! Sakiiitttt!!!!? teriaknya saat aku tak mau menghentikan cubitan di pipinya. Dari situ ia yakin aku sudah tenang dan bisa diajak bicara.

Jadi, kamu nyolong ya! Ini hukuman buat orang yang suka nyolong! Kamu jahat! Hesti! Untung kamu nggak kena penyakit itu, kalo kena, aku juga kamu korbanin! Huh rasain?.!!? Aku menjewer, ia terus berteriak, sambil tertawa cekikikan. Aku agak terkontrol.

?I?m deeply sorry, Sis, aku benar-benar gak tahan. Habis kamu yang kenalin,? bisiknya sambil memelukku. Aku membelai punggungnya. Ya sudahlah, kupikir memang sudah rejekinya si Hesti ikut mencicipi anak angkatku itu.

?asal jangan ketahuan orang lain lho, Hes. Aku ngga mau hubungannya dengan si Rani jadi rusak gara-gara ini,?

?Jangan khawatir deh, sayang. Aku jaga rahasia. Cuma kamu yang paling tahu aku, tempatku mengatakan semuanya. Kan kita ngga ada rahasia? Itu sumpah kita, ingat?? Hesti berkata begitu sambil melepaskan pelukannya. Kami jadi berhadap-hadapan di bangku panjang itu.

?Justru aku yang semestinya juga protes ke kamu, sis,? lanjutnya

?protes apaan?? aku tak mengerti.

?lho kan kamu nggak pernah memberitahukan ini sebelumnya??

?masa yang gitu diceritain? Ah?., sudahlah Hes, jadi kamu mau minta bagian yang itu ya?? aku mengelak dan balik bertanya.

? Iya sih, Sis. Itu juga kalau kamu ngasih?.kalo ngga sih?.ya ngga apa-apa?,?

?Aku kasih, tapi apa iya doi mau dibagi gitu??

?Sini aku bisikin?.,? ditariknya kepalaku mendekat

?Doi bilang mau main bertiga?!!?

?Gila!!!? aku berteriak, tapi nanti dulu. Batinku bilang bahwa akan begitu mengasikkannya kalau itu kami lakukan.

?Malah dia suruh aku yang ngomongin ini ama kamu, dia takut katanya,?

?aduuh gimana ya Hes?..aku bingung, belum lagi habis shock yang barusan itu,?

?sudah ah, biar aku yang ngatur, kalian enjoy aja, mau??

?terserah deh, Hes?.,? padahal dalam hati aku berteriak ?MAU DONG!!!? iihhh sereem. Gimana nanti ya? Aaahhhh?.kuat ngga si Budi menghadapi kami berdua? Pengalaman baru bagiku! Dan Budi juga! Dan mungkin juga Siska! Ah, aku tak sabar ingin segera melakukannya!

?Kalau begitu, hari lusa aku setting tempat dan waktunya dulu, biar siip, setuju??

?mm,? aku mengangguk.

Jam 2 dini hari aku dan Budi pulang. Dalam perjalanan kami terdiam, membisu, membeku, aku atau tepatnya kami sama-sama kikuk, suasana yang tidak pernah terjadi sebelumnya antara aku dan dia. Budi sebenarnya sudah tahu apa yang aku bicarakan tadi dengan Hesti, tapi aku maklum, tentu malu baginya untuk menanyakan itu padaku. Aku juga sama, sungkan. Masak aku mau bilang ke Budi; ?eh Bud, hari jumat kita main bertiga!? iiihh mengerikan! Budi lah yang mendahului mengatakannya pada saat mobil memasuki rumah.

?Tadi ibu ngomong apa sama Bu Hesti, bu??

?Nggak, ngga ngomong apa-apa, Cuma becanda aja?,? jawabku singkat. Aku tak berani menatapnya, kutahu Budi sedang melihatku.

?ibu bohong?.tadi waktu pamitan Bu Hesti sempat bisikin saya?.,?

?kamu kan juga sudah bohong sama ibu?,? aku memotong, dan itu spontan kukatakan supaya ada keseimbangan, aku dan Budi sama-sama sudah berbohong. Kami lagi-lagi terdiam beberapa saat sampai kemudian Budi merangkul pundakku, aku juga tak kalah, kugandeng tangannya. Dengan begitu hatiku plong sudah. Tapi justru karena lagi-lagi membayangkan Budi yang telah pernah bersetubuh dengan Hesti, aku jadi horny juga. Apalagi ditengah kecamuk hati dan pikiranku, Budi dengan telaten melepas satu persatu pakaian yang kukenakan, aku telanjang sudah. Padahal kami baru sampai di ruang baca rumahku. Ditelanjangi juga dirinya sendiri, lalu dengan penuh birahi disetubuhinya aku di atas meja baca yang panjang itu. Ia berdiri sementara aku tergolek diatas meja dengan kaki terjuntai bebas. Ah nikmatnya, tiga kali lagi aku orgasme. Beberapa saat kemudian Budi klimaks juga, kali ini ia memuncratkan spermanya ke wajahku, sebagian besar kutelan, hmmm gurih!

Selesai bersetubuh baru kami bicara.

? PEMBACA YTH.;

SESUAI PESAN BUDI KEPADAKU AGAR PENULISAN INI JADI LEBIH VARIATIF DAN MENGALIR, AKU MEMINTA HESTI UNTUK MENULISKAN KISAH PERKENALAN DAN AFFAIR NYA DENGAN ANAK ANGKATKU. JADI TULISAN BERIKUTNYA ADALAH PERSIS DENGAN PENUTURAN HESTI KEPADAKU MALAM ITU.

THANKS-FRANCISKA

Nama lengkapku, Hestini Paulina D (?D? adlah inisial nama keluargaku yang asli Manado). Aku saat ini aktif memberi kuliah Akuntansi dan Perbankan di Univ. Indonesia, mengikuti jejak suamiku yang dulunya juga staff pengajar di PT yang sama. Seperti yang dituturkan Siska sebelumnya, aku dan dia sudah sangat dekat sejak kami remaja dulu. Kami sama dalam banyak hal, sama-sama usil dan nakal seperti remaja-remaja putri pada umumnya semasa kami muda. Dan persahabatan itu terus semakin dekat sampai kami pernah berikrar saling memberi, saling melindungi, dan saling menerima. Kami sudah layaknya saudara kembar saja, kemana-mana pasti bersama, aku sering bermalam di rumah Siska demikian juga sebaliknya. Sampai kemudian Siska yang lebih dulu 2 tahun menikah dengan seorang pekerja di pabrik milik keluarganya. Sejak itu kami jarang bertemu karena beberapa tahun kemudian, Siska dan aku larut dalam kesibukan masing-masing.

Singkat cerita dikemudian hari kami bertemu di Jakarta, itupun secara kebetulan sekali saat aku melihatnya di layar TV. Ia masih juga jelita seperti dulu ia kembang di sekolah kami. Tanpa bermaksud menyombongkan diri, aku dan Siska memang kerap jadi idola saat itu. Dan kalau boleh dibilang, hingga saat inipun hal itu masih berlaku, kami masih sering menjadi rebutan para lelaki. Bahkan ada yang tak peduli kami telah berkeluarga.

Di penghujung semester pertama tahun 1998 itu, oleh Siska, aku deperkenalkan kepada anak angkatnya. Namanya Budi Hartawan, yang kebetulan adalah mahasiswaku juga di UI. Sebagai mahasiswa Fak Ekonomi, sejak itu Budi jadi getol melakukan pertemuan denganku, seringkali ia datang ke ruang kerjaku untuk konsultasi. Ada kecurigaanku terhadap hubungan antara Siska dan Budi, sikap keibuan Siska kulihat teramat berlebih ketika seringkali kupergoki tingkah aneh mereka yang mesra seperti menyimpan rahasia. Sampai suatu saat dengan niat ingin memastikan hal tersebut, aku memanggil Budi ke ruanganku, alasanku pada saat itu aku memintanya untuk membantu aku dalam evaluasi hasil mid semester kawan-kawannya. Aku tahu ia akan senang dimintai bantuan seperti itu karena sebagai anak yang cerdas, ia termasuk haus ilmu.

Sampai diruangan, bukannya menganalisa hasil ujian yang kulakukan tapi aku mengajaknya mengobrol soal keluarga Siska yang baru satu tahun kurang itu mengalami masalah berat akibat perceraiannya dengan Pak Jimmy. Aku cukup ahli dalam membuat semua lawan bicaraku menuruti keinginanku. Alur pembicaraanku kusetir sedemikian rapi sehingga Budi tak tahu kalau aku memancingnya untuk bercerita ada apa dibalik kemesraan antara dia dan Siska. Dengan bijak dan penuh logika pula, aku memancing penuturan Budi untuk mengarah ke pengakuan polosnya tentang skandal mereka itu. Dan setelah ia mulai terpojok, pengakuanpun aku dapatkan. Saat itu, aku begitu terkejut (se-terkejut Siska saat mengetahui skandalnya sudah aku ketahui!). Tak kusangka, Siska yang setahuku dulu adalah gadis pendiam, kalem, polos dan bersih itu kini ternyata sudah enambulan lebih menjalani kehidupan seksual dengan anak angkatnya sendiri! Dan lebih heboh lagi, Budi telah meniduri dua orang anggota keluarga itu, Rani ? yang telah resmi menjadi calon isterinya ? dan Siska sendiri, ibu Rani! Gila3x!!!

Lebih gila lagi aku, setelah beberapa tahun tak ?disentuh? dan menyentuh lelaki (karena penyakit suamiku) aku langsung membuat obsesi yang tidak-tidak. Malamnya saat beranjak ke tempat tidur, hanya ada Budi di kepalaku! Seperti apakah permainan seks anak ingusan itu? Adakah ia memiliki ?barang? yang berukuran besar? Senikmat apakah rasanya disetubuhi oleh lelaki muda dengan aura seks yang begitu bersinar itu? Aku tak bisa lepas dari pertanyaan-pertanyaan seronok itu sehingga dalam semalamnya, karena tak bisa melampiaskan nafsu pada suami, aku terpaksa masturbasi sampai sepuluh kali! Dua kali di kamar anakku yang sedang berlibur ke desa dan empat kali di kamar mandi! Baru saat fajar mulai menyingsing, aku menelan obat tidur dan terlelap dalam mimpi basah! Waktu itu aku sudah bersumpah pada diriku bahwa keesokannya aku harus berhasil mendapatkan Budi! Masalah bagaimana dengan Siska, itu nanti. Yang penting aku dapat Budi! Budi! Budi!

Perut yang lapar membangunkan aku pada jam 12.30 siang itu. Dan karena suamiku sedang tugas ke daerah, aku langsung keluar rumah. Tujuanku satu, Hotel ! aku akan makan siang disana, sekaligus juga ?makan? barang nikmat si Budi!

Setelah memesan makan, aku langsung menyambar HP. Kukontak Budi dan kuminta datang ke hotel, kuajak ia makan siang di kamarku dan sebagai alasan kukatakan bahwa semalam aku tak sempat pulang karena seminar Organisasi Ikatan Akuntan Publik (dimana aku menjadi salah seorang ketua) yang diadakan di hotel ini berakhir jam 4 dini hari. Budi percaya saja. Saat ia masuk kekamar dan melihat aku dengan pakaian tidur sutra yang putih berenda serta transparan membiaskan lekuk-lekuk tubuhku yang sudah tak lagi mengenakan CD dan Beha, kuperhatikan ia seperti menelan ludah sambil mencuri-curi pandang kearah belahan dadaku yang memang kubiarkan sedikit terbuka. Setelah beberapa saat sebelumnya aku mempelajari siapa Budi, dan type perempuan seleranya, aku yakin penampilanku saat ini dengan pakaian dan rambut yang terikat ke belakang, memperlihatkan leherku yang putih mulus akan memancing libidonya. Tak percuma aku sering membeli buku-buku tentang rangsangan seks dan rahasianya, sehingga saat itu meskipun kami hanya mengobrol tentang keluarga Siska, aku sangat yakin bahwa Budi sudah berhasil kukuasai. Tinggal mengeluarkan ?jurus pamungkas? saja!

?Bud, ibu sudah dengar semua ceritera dan pengakuan kamu itu. Dan menurut ibu, hal itu biasa saja. Tapi ada satu hal yang ingin ibu minta dari kamu?..,? ujarku mulai merayu, tanganku menjulur dan mendarat di permukaan paha kirinya yang masih berbalut celana panjang. Aneh, ia tak sama sekali menampiknya meski gugup. Hanya saja Budi jadi kikuk, mungkin karena aku dosennya, dosen yang paling dihormati di kalangan mahasiswa karena keanggunan dan ketegasan sikapku (Nggak nyombong lho!), yang biasanya ia sangat hormati dan kagumi seperti sering Budi katakan dengan jujur kepadaku.

?A?a..apa?an sss sssiiih buuu?? ia terdengar gagap sambil berusaha memperbaiki sikapnya. Tapi tak kuasa ia ?mengusir? tanganku yang kini perlahan sekali merayap menuju pangkal pahanya.

?jangan takut sayang, ibu maklum atas apa yang kamu alami di keluarga Bu Siska itu, ibu juga maklum anak seperti kamu tahu membalas budi?..tapi bolehkah ibu juga minta diperlakukan sama dengan yang kamu lakukan terhadapibu angkatmu itu??

?Haaah! Ii?.iibu? Jjjj jjjangaan Bu! Saya takuut,? ujarnya dengan masih gugup. Padahal aku yakin, ia sebenarnya mau berkata ?yes? karena dari mimik wajahnya tak tampak perasaan takut seperti yang ia katakan itu.

?takut sama siapa say? Kita hanya berdua disini, tak ada seorangpun yang mengetahui. Kalaupun kamu takut dan segan dengan ibu angkatmu itu, biarlah aku yang membereskan masalahnya. Siska dan aku sudah seperti saudara?.,? aku berpindah duduk menempel di samping kirinya, dengan santai agar budi tenang, aku membawa tangannya merangkul bahuku. Tak ada perlawanan dari Budi. Ia masih diam saja, mungkin bingung dan shock dengan kejadian ini.

?Ibu jamin, tidak akan terjadi apa-apa terhadap kamu, nak?ayolah?,? akhirnya tanpa banyak bicara lagi, kuserbu bibirnya. Beberapa saat ia diam saja, namun ketika tanganku yang kiri menyusup ke balik celananya barulah ada reaksi. Ia balas mengulum lidahku, menyedot keras, malah lebih buas dari aku. Dan begitu tanganku menyentuh kemaluannya yang ?OH MY GOD!!!? besarnya seperti ketimun jawa yang panjang dan keras itu (benar kata Siska), ia balas meremas payudaraku. Uh! Kali ini benar-benar kutemukan gairah lelaki sejati. Tanpa perlu dituntun lagi, bibir anak muda itu turun merambah leher jenjangku, turun lagi keatas wilayah dadaku, lalu tangannya melepas pengait baju tidur itu, tass! Terbuka bagian depanku. Budi langsung menerkam, mencumbu kedua buah dadaku dengan gemas. Ia menyedot, aaaahhh! Lidahnya menjilat?.yesss!!! sebelah lagi tangannya meremas?oooohhhh?.aku hanya dapat mendesah dan menjerit kecil. Tanganku dengan gesit pula melepas satu persatu kancing bajunya, zipper celananya dan terakhir celana dalamnya. Yes! Kami telanjang bulat lat lat sudah!

Hmmm?Bud, kamu tahu ibu menginginkan ini sejak pertama mengenal kamu,? aku berkata begitu sambil berbaring telentang membuka kedua pahaku lebar, seolah menantang anak muda berpenis besar itu untuk segera menjamahku. Ia perlahan bergerak menuju arahku di tempat tidur. Masih ragu rupanya, meski matanya melotot ke arah selangkanganku yang berbulu lebat dan sedari tadi sudah basah itu.

?Dan terus terang ini kali pertama aku punya firasat yang sama persis dengan apa yang akan kualami saat malam pertama dengan suamiku dulu, Ibu yakin, sejak saat ini kamulah lelaki yang akan memuaskan birahi ibu yang meledak-ledak. Ayo sayang sssss?setubuhi ibu..,? vulgar sekali kata-kata itu, akupun tak percaya sanggup mengeluarkannya dari bibirku yang biasa berbicara sopan dan ilmiah tentang teori-teori ekonomi ini. Tapi oh Tuhan! Demi melihat tubuh atletis dan kemaluan besar, panjang miliknya?.aku rela harus melakukan apa saja untuk mensegerakan barang itu menusuk-nusuk relung kelaminku!!! Tak sia-sia usahaku untuk membuatnya panas, karena tingkah dan kata-kata seronokku itu kini Budi berubah dari seorang yang malu-malu menjadi mahluk buas yang seakan ingin ?menghabisi? tubuhku saat itu juga!

?Baiklah, Bu?.kalau itu yang ibu inginkan maka terimalah persembahan saya ini!? katanya singkat dan bersemangat. Lalu dengan sebuah loncatan kecil kearah tubuhku yang tergolek menantang itu, ia langsung menindih. Menyumpal mulutku yang masih saja ingin mengeluarkan kata-kata, dengan terkaman bibirnya. Pahaku diangkatnya tinggi keatas, dan tak kusangka, mungkin ini hasil pelajaran seks yang diberikan oleh Siska kepadanya, dengan sekali betot, vaginaku langsung tertembus, penisnya langsung menerobos, masuk dan menghujam hingga mentok di dasarnya!

?Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa???Buuudiiiiiiiihhhh aduuuuhhh!!!!!? aku berteriak keras, bukannya merasa nikmat, tapi sakitnya minta ampun. Seperti terkena sengatan listrik tegangan tinggi rasanya selangkanganku. Oh Tuhan, ampuni aku! Pastilah vaginaku tak siap menerima benda seukuran penis si Budi ini, oh Mama! pastilah robek vaginaku ooohhh!!! Dan sekarang tanpa mau mempedulikan aku yang kesakitan, budi menggoyang turun naik dengan cepat sekali. Menghujamkan kemaluannya keluar masuk vaginaku.

?aampuuunn?Bud, ampun Bud, ampuuuuunnn sakiiitttt!!!? teriakku lagi sambil meronta dan mencoba menahan gerakannya. Tapi ia tak peduli, terus saja menggoyang, kepalanya menggeleng-geleng, matanya memejam dan tubuhnya yang kuat itu terus ditabrakkannya ke pangkal pahaku. Oh Tuhan! Matilah aku?.oohhh tapi, tapi, beberapa menit saja rasa itu perlahan hilang dan berubah menjadi geli. Dan ooohhh, aku mulai merasakan impuls-impuls nikmat dari hujaman penis besar itu. Malah kini tanganku merangkul pinggangnya, menuntun gerakannya turun naik diatas tubuhku. Ya ampuuunnn, aku sampai tak berpikir bahwa vaginaku baru saat ini menerima ?tamu? yang lebih besar dari ukuran ?pintunya?.

Baru saja aku mulai menikmatinya, lalu tangan Budi berulah lagi, kali ini ia masih tetap menggenjot turun naik dengan keras. Tapi tangannya tak lagi bertumpu di kasur, sepasang payudaraku kini dibuatnya seperti handle pintu saja, ia berpegangan di kedua susuku. Oohhh Tuhan! Baru sekarang aku diperlakukan sekasar dan senikmat ini! Aku terus berteriak, teriakan yang memberi tanda pada lelaki lawan mainku ini bahwa perempuan yang kini ia ?sikat? tengah mengalami sebuah keadaan luar biasa akibat genjotan di selangkangan itu.

?Ooohh my God! Oh my God! Oh God Yesss!!!! Yesss!!! Yess!!! Ohhh Budiiihhh Ohhh Budiiihhh oooooouuuhhhhh,? hanya itu yang sanggup kukeluarkan untuk mengimbangi kebuasannya.

?hhhh?.hhhh?hhhh?.hhhh hhhaahh..aahhh?ahhhh,? hanya desah itu pula yang sedari awal tadi kudengar dari mulut Budi di sela-sela kecupannya. Pendek-pendek seperti melambangkan keperkasaan dan penguasaannya pada permainan itu. Dan benar firasatku tadi, aku takkan mampu menandinginya, berselang beberapa menit saja setelah itu, aku mulai merasa akan menggapai orgasme. Oh?ini pertama kali dalam tiga bulan aku mengalaminya. Lebih dari apa yang selama ini kutahu tentang rasa dan nikmatnya orgasme dengan orang lain. Kucoba untuk menahan, melawan, membayangkan seseorang memukuli aku, tapi semua percuma, sia-sia! Kenikmatan yang menjalari tubuhku bahkan melebihi imunitas alami seorang wanita menahan klimaks bersenggama. Akhirnya aku melepas, mengejan, melepas lagi, dan mengejan lagi. Badanku kaku, kupeluk Budi keras sekali, kugigit pula bahu kanannya dan kujambak rambutnya dan pahaku berusaha menjepit keras pinggulnya.

?Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh!!!! Ibu keluaaaaaarrrrr!!!!!? teriakku, namun apalah dayaku seorang perempuan. Meski bagian atas tubuhnya diam dan matanya terpejam menahan nikmat denyutan dalam vaginaku, tapi pinggulnya terus menggenjot, penisnya terus mengocok. Tak peduli cairan dari rahim membanjiri liang vaginaku.

Rasa nikmat yang tadi mendera dengan dahsyat itu kini berubah jadi rasa geli, aku tak tahan. Budi terus saja bergoyang.

?Ouuufff?.stop sayang, ooouuhhh stop dulu, Bud! Please?..,? aku memohon tapi tetap saja ia tak peduli.

Related Post