Cerita tante tante montok - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
11431
post-template-default,single,single-post,postid-11431,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita hot

Cerita tante tante montok

Cerita hot – Diawali
dengan masuknya aku ke salah
satu kampus yang kebetulan
memang tempat cita-citaku
sebagai ahli komputer. Pada tahun 1994, kepindahanku dari
Jakarta Barat ke Bandung,
tepatnya aku tinggal di daerah
perumahan yang dulu pernah
ditinggali kedua orang tuaku,
dan sekarang aku tinggal bersama pembantu dan
seorang anak kecil. Beranjak dari kehidupanku
yang jauh dari kedua orang
tua dan aku baru saja memiliki
motor untuk mendukungku
berangkat ke kampus. Aku
mulai terbiasa dengan kehidupan bertetangga dan
aku sering dipanggil untuk
membantu tetangga dekat
yang kadang kuperhatikan
sepertinya adalah seorang
wanita beranak satu dan suaminya jarang di rumah.
Usianya kira-kira 32 tahun, di
sini namanya aku samarkan
saja yaitu Anna. Aku
memanggilnya Tante Anna. Satu tahun sudah aku tinggal,
di akhir tahun 1995 aku mulai
merasakan gejolak nafsu yang
amat sangat terhadap wanita.
Pada suatu malam aku mulai
merasa ingin sekali bermain/ bertamu ke rumah tante Anna
namun aku selalu tidak berani
dan merasa takut kalau nanti
suaminya akan datang dan aku
akan dikomentari tidak baik. Bulan itu adalah bulan Januari
1996, usiaku pada saat itu
baru 19 tahun dan tepat pada
bulan Januari tanggal 20 aku
genap 20 tahun. Di sini aku
mengkisahkan hal sangat nyata yang terjadi dalam
diriku. Malam itu malam Jum’at,
cuaca sangat tidak mendukung
dan tiba-tiba hujan sangat
deras dengan diikuti angin
kencang. Aku sangat sedih dengan
kesendirianku, karena malam
ini adalah malam kelahiranku.
Aku duduk-duduk seorang diri
sambil menghisap rokok
kesukaanku, namun malam semakin tidak mendukung
karena cuacanya. Aku
berusaha mencari kesibukan
dengan membaca-baca buku
pelajaran, tiba-tiba aku
dikejutkan dengan bunyi pagar samping yang khas, seorang
wanita menghampiriku yang
ternyata adalah tetangga
sebelahku (Tante Anna). “Ada apa tante?” aku mulai
bertanya.
“Bob, (namaku) tolong dong
pasangin lampu kamar saya di
rumah,” Ternyata lampu kamar tante
Anna putus dan aku disuruh
memasangkannya. Lalu aku
mengikutinya dari belakang
menuju rumahnya melalui pintu
belakang. Di saat aku mengikutinya aku sempat
terangsang dengan
sentuhannya pada saat
memasuki pintu belakang,
karena ternyata dia tidak
menggunakan bra dan aku sempat gemetar. Sementara ini aku
berkonsentrasi dengan
permintaanya agar aku
memasangkan lampu di dalam
kamarnya. Setelah selesai
kukerjakan, cepat-cepat aku keluar kamarnya dan berusaha
tenang, kemudian aku diminta
untuk duduk dulu minum kopi
karena kopinya sudah
disuguhkan. Aku duduk sambil
melihat tayangan TV dan aku lihat anaknya yang baru satu
sedang tidur pulas di depan
TV. Kemudian tidak berapa
lama baru anaknya
dipindahkan ke kamar.
Sekarang tinggal aku dan tante Anna berdua di ruangan
tengah. Waktu sudah menunjukkan
pukul 22.30 dan aku minta izin
untuk pulang namun aku
dicegah, ia memintaku
menemaninya ngobrol. Lama
kelamaan aku mulai mengantuk dan dimintanya aku untuk
rebahan dan diambilkannya
bantal dan aku menurut saja.
Ia bercerita bahwa tadi ada
telepon dari temannya,
katanya ia ditakut-takuti karena sekarang malam Jum’at
ada hantu kalau sendirian di
rumah. Asyik juga lama-lama acara
mengobrolnya hingga tanpa
kusadari tante Anna mulai
mendekatiku dan meletakkan
kepalanya di paha sebelah
kiriku, karena aku rebahan agak di belakang dari tante
Anna. Perasaanku mulai tak
karuan, jantungku berdebar
sangat keras serta sekujur
tubuhku dingin. Karena baru
pertama kali ini aku diperlakukan seperti itu (aku
masih perjaka). Tiba-tiba
tangan tante Anna mulai
bergerak menuju
selangkanganku, dan
meremasnya kemudian mengusapnya. Saat itu aku
memakai celana pendek
berbahan lemas. “Hei, Bob!, ini kamu kok
bangun?” tanya tante Anna. Saat itu aku sangat malu dan
tidak bisa berkata-kata lagi.
Kemudian Tante mematikan
lampu dan memintaku pindah
ke kamarnya dengan
menarikku ke atas tempat tidur. Pikiranku sangat kacau
dan sangat gugup saat tiba-
tiba aku dipeluk dan ditindih
kemudian diciumi. Hingga pada
saat bibirku dikulumnya aku
mulai panas dan terangsang amat sangat. Lama aku dibuatnya terlena
dalam kemelut yang dibuatnya.
Hingga tante itu mulai
menuruni lekuk tubuhku sampai
pada selangkanganku dan
membuka celanaku. Sesaat kemudian seluruh pakaianku
sudah terlepas dan apa yang
terjadi ternyata penisku
dimasukkan ke mulutnya. Aku
merasa sangat tegang dan
memang baru pertama kali aku mengalami hal seperti ini.
Dengan lembut dan penuh
penghayatan, penisku
dipegangnya, kadang
dijilatnya kadang dihisapnya
namun juga kadang digigitnya hingga sampai pada buah
zakarku juga di kulumnya. “Bob, jangan keluar dulu ya?”
ujarnya dengan mulutnya yang
tertutup oleh penisku.
“Akh.. Mmnyamm” Aku sudah dapat membaca
bahwa tante sangat haus akan
sex. Seperti orang yang lama
tidak bersetubuh hingga
dengan ganasnya aku mulai
ditindihnya dan aku mulai merespons. Dengan naluri
rangsangan, aku dorong Tante
Anna kemudian aku buka
pakaiannya secara perlahan
sambil menciuminya, kemudian
kulumat teteknya yang tidak begitu besar namun masih
kencang. Aku hisap dan
kumain-mainkan lidahku di
sekitar puting susunya, Tante
Anna mulai terangsang sambil
menggeliat-geliat dan menekan kepalaku agar aku
lebih keras lagi menghisapnya. Lama aku bermain di sekitar
payudaranya sampai akhirnya
aku disuruh menjilat bagian
yang sensitif di antara
selangkangannya. Aku mulai
sedikit mengerti. Dengan dibantu tangannya, aku
mengerti yang mana yang
harus aku jilat dan kulumat.
Hingga pada akhirnya aku
ditariknya kembali ke atas
sampai aku menindihnya dan dadaku menekan toketnya
yang semakin agak keras. Lalu
aku didorong ke sampingnya
dan aku mulai ditindihnya
kembali namun sekarang tante
Anna memegang penisku yang semakin keras kemudian
dengan perlahan tante Anna
membimbingnya memasuki
liang kenikmatannya. Posisi tante Anna berada di
atas seperti orang naik kuda,
menggoyang-goyangkan
pinggulnya dan kadang menaik
turunkan bokongnya. Lama
sekali dia bertahan pada posisi itu, hingga akhirnya
Tante menjerit kecil menahan
sesuatu namun sambil
mencengkeram bahuku.. “Akhh, Bob, saaya keluar nih,
ahh.. Ahh.. Ohh.. Bob kamu
belum keluar ya?” Kemudian aku membalikkan
tubuhnya dan sekarang aku
ganti berada di atasnya
dengan penisku masih
menancap di liang kenikmatan
itu. Aku mulai menyerang, dan sekarang aku
mengeluarmasukkan penisku.
Lalu aku mengambil posisi
duduk di antara
selangkangannya sambil
mengocoknya. Suara yang keluar dari mulut Tante Anna
membuatku sangat
terangsang. “Bob, yang keras dong, lebih
cepat kamu kocoknya,” kata
tante sambil memegang kedua
tanganku. Aku merasa belum
akan sampai, tapi tiba-tiba
tante Anna mulai menggeliat- geliat sangat kasar hingga aku
dipeluknya.
“Bob, ah.. Saya mau keluar
lagii. Bob.. Ahh.. Ohh Bob” Lalu aku disuruhnya mencabut
penisku dan tante Anna keluar
menuju kamar mandi. Tidak
berapa lama dia kembali dan
membawa kain basah lalu
mengusapkannya di penisku yang mulai lengket. Kemudian,
tante Anna mulai menaiki
tubuhku kembali dan
memasukkan penisku ke
vaginanya yang ternyata
sudah kering. Ia memulai dengan gerakan lambat
dengan menggoyangkan
pinggulnya maju mundur dan
aku kemudian diminta
berposisi di atas. Sekarang aku yang mencoba
memasukkan penisku ke dalam
vaginanya dan mulai bereaksi
namun sangat seret dan
terasa penisku dijepitnya. Aku
mencoba memasukkannya lebih dalam dan menekan
penisku agar lebih masuk
kemudian aku mencoba
dengan perlahan kugerakkan
maju mundur diiringi goyangan
pinggul Tante Anna, sesekali kedua pahanya mengapit
rapat. Lama aku mulai
merasakan terangsang.
Dengan mengulum toketnya
aku mulai bereaksi dan aku
mulai merasa ingin keluar. Akhirnya aku keluar dengan
diiringi jeritan kecil tante Anna
yang ternyata juga keluar
bersamaan sampai aku tak
bisa menahan diri. Kemudian
aku langsung dipeluknya erat- erat dan tidak boleh mencabut
penisku sampai aku tertidur. Terdengar suara samar-
samar dari kejauhan, orang
sudah ramai di luar seperti
tukang roti dan lainnya. Aku
terbangun dan kulihat tak ada
seorangpun di sampingku dengan pintu kamar masih
tertutup rapat dan hordeng
jendela masih tertutup. Aku
sempat kaget dan kulihat
diriku dalam keadaan tanpa
sehelai benang pun yang menempel di kulitku. Aku
berusaha mencari pakaianku
yang tadi malam dilempar ke
sisi spring bed Tante Anna. Tak
berapa lama kemudian Tante
Anna membuka pintu dan masuk kembali ke kamar. “Bobby! Kamu sudah bangun?”
“Ya..” jawabku sambil melihat
seluruh tubuh Tante Anna yang
ternyata baru selesai mandi
dengan hanya menggunakan
handuk. Handuk itu hanya menutupi
sebatas toketnya dan pangkal
pahanya yang putih
merangsang. Lalu aku duduk di
pinggir tempat tidur sambil
memandangi pemandangan yang indah itu. Tiba-tiba saja
penisku yang sudah loyo
bangun kembali, namun
kuurungkan niatku untuk
bermain di pagi hari. Dengan
cepat aku keluar dari kamar menuju kamar mandi. Selesai dari kamar mandi aku
masuk kembali ke kamar tidur
untuk minta handuk, tapi
ternyata yang kulihat di dalam
kamar, Tante Anna belum juga
berpakaian sementara handuk yang melekat di tubuhnya
sudah tidak ada. Aku pandangi
terus tubuh tanpa busana itu,
lalu aku mendekatinya dan
sempat kucium bahunya,
namun dengan gerakan yang cepat sekali aku didorongnya
ke atas tempat tidur oleh
tante Anna dan tanpa basa
basi lagi dikulumnya lagi
penisku hingga basah oleh
liurnya. Pagi ini ternyata aku sudah
mulai on kembali oleh kuluman,
hisapan, dan belaian tante
Anna pada penisku. Lalu aku
dimintanya berdiri dan
melumat toketnya yang sudah agak mengeras pada
putingnya yang berwarna
agak kemerahan. Kujilat,
kuhisap kadang kuremas pada
toket yang satunya. Kembali
aku didorong dan ditindihnya lalu.. Bless.. Slepp.. Ternyata
penisku sudah digiringnya
masuk kembali ke liang
kenikmatannya. Dengan
agresif dan penuh nafsu,
digoyangkannya maju mundur pantat Tante Anna hingga aku
pun mengiringinya dari bawah,
sambil kuremas-remas kedua
toketnya dengan kedua
tanganku. “Ah.. Aah.. Ahh.. Ohh, Booby
saya puaas ssekalii. Bob, saya
mau.. Keeluaar.. Ahhohh..” Lalu Tante Anna mencabut
penisku dari memeknya dan
membersihkannya dengan kain
di sekitar, kemudian aku
dengan ganasnya memasukkan
kembali senjataku lalu kugoyang-goyangkan lalu
kutekan kembali hingga Tante
Anna menjerit kecil.. “Aahh.. Oohh, Bobb.. Mentok
nih? Terus bob tekan punya
kamu, oh Bob!” Lama sekali aku memainkan
Tante Anna, kemudian aku
mencoba kembali dengan
posisi Doggy Style. Tante
Anna sambil membungkukkan
badannya di atas kasur kucoba untuk memasukkan
penisku dan Blees.. Slepp.. “Ahh, Bobb.. Terus Bob,
Masukin sampai dalam, oh
Bobb.. Yang kasar Bob”
Lalu dengan cepat aku memaju
mundurkan pantatku hingga
aku sudah tidak tahan lagi. Dan kemudian aku sudah
sampai pada dimana
kenikmatan itu terasa sampai
ujung rambut. Dan cairan yang
kukeluarkan tidak kubuang
keluar. Setelah selesai, aku mulai
merasa letih dan sangat lapar.
Aku mencoba beristirahat
sebentar, kutatap langit-
langit yang ada di kamar itu.
Kuatur nafasku perlahan dan kupeluk kembali Tante Anna,
kuusap-usap toketnya lalu aku
mencoba menghisap-hisap
pelan hingga sampai kumain-
mainkan dengan tanganku.
“Bob, udah ah, nanti lagi”. Lalu aku lepaskan tanganku
dan aku langsung bangun
menuju kamar mandi. Pukul
07.15 aku sudah rapi, lalu aku
minta izin untuk pulang.
Setelah itu aku mulai dengan pekerjaanku di rumah. Di
dalam rumah aku sempat
berfikir tentang apa yang
telah terjadi semalam dengan
Tante Anna. Malam pun tiba, aku seperti
biasa ada di rumah sambil
menyaksikan tontonan TV.
Tiba-tiba pintu samping ada
yang mengetuk dan kubuka,
ternyata Tante Anna membawa makanan buatku.
Dengan senyumnya aku
ditawari makan lalu aku
diciumnya, namun tangan tante
Anna kembali menggerayangi
penisku. Aku terangsang tapi niatku untuk bersetubuh lagi
dengannya tertunda karena
aku ada janji dengan teman.

Tags: