Dapet Memek Kakanya - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
6463
post-template-default,single,single-post,postid-6463,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita Hot

Dapet Memek Kakanya

Selesai sekolah Sabtu itu langsung dilanjutkan rapat pengurus OSIS. Rapat itu dilakukan sebagai persiapan sekaligus pembentukan panitia kecil pemilihan OSIS yang baru. Seperti tahuntahun sebelumnya, pemilihan dimaksudkan sebagai regenerasi dan anakanak kelas 3 sudah tidak boleh lagi dipilih jadi pengurus, kecuali beberapa orang pengurus inti yang bakalan naik pangkat jadi penasihat.

Usai rapat, aku bergegas mau langsung pulang, soalnya sorenya ada acara rutin bulanan: pulang ke rumah ortu di kampung. Belum sempat aku keluar dari pintu ruangan rapat, suara nyaring cewek memanggilku.

Didik .. aku menoleh, ternyata Sarah yang langsung melambai supaya aku mendekat. Dik, jangan pulang dulu. Ada sesuatu yang pengin aku omongin sama kamu, kata Sarah setelah aku mendekat.

Tapi Rah, sore ini aku mau ke kampung. Bisa nggak dapet bis kalau kesorean, jawabku.

Baca Juga: PUKAU

Cuman sebentar kok Dik. Kamu tunggu dulu ya, aku mberesin ini dulu, Sarah agak memaksaku sambil membenahi catatancatatan rapat. Akhirnya aku duduk kembali.

Dik, kamu pacaran sama Nita ya? tanya Sarah setelah ruangan sepi, tinggal kami berdua. Aku baru mengerti, Sarah sengaja melamalamakan membenahi catatan rapat supaya ada kesempatan ngomong berdua denganku.

Emangnya, ada apa sih? aku balik bertanya.

Enggak ada apaapa sih .. Sarah berhenti sejenak. Emmm, pengin nanya aja.

Enggak kok, aku nggak pacaran sama Nita, jawabku datar.

Ah, masa. Tementemen banyak yang tahu kok, kalau kamu suka jalan bareng sama Nita, sering ke rumah Nita, kata Sarah lagi.

Jalan bareng kan nggak lantas berarti pacaran tho, bantahku.

Paling juga pakai alasan kuno Cuma temenan, Sarah berkata sambil mencibir, sehingga wajahnya kelihatan lucu, yang membuatku ketawa. Cowok di manamana sama aja, banyak boongnya.

Ya terserah kamu sih kalau kamu nganggep aku bohong. Yang jelas, sudah aku bilang bahwa aku nggak pacaran sama Nita.

Aku sama sekali tidak bohong pada Sarah, karena aku sama Nita memang sudah punya komitmen untuk tidak ada komitmen. Maksudnya, hubunganku dengan Nita hanya sekedar untuk kesenangan dan kepuasan, tanpa janji atau ikatan di kemudian hari. Hal itu yang kujelaskan seperlunya pada Sarah, tentunya tanpa menyinggung soal seks yang jadi menu utama hubunganku dengan Nita.

Nanti malem, mau nggak kamu ke rumahku? tanya Nita sambil melangkah keluar ruangan bersamaku.

Kan udah kubilang tadi, aku mau pulang ke rumah ortu nanti, jawabku.

Ke rumah ortu apa ke rumah Nita? tanya Sarah dengan nada menyelidik dan menggoda.

Kamu mau percaya atau tidak sih, terserah. Emangnya kenapa sih, kok nyinggungnyinggung Nita terus? aku gantian bertanya.

Enggak kok, nggak kenapakenapa, elak Sarah. Akhirnya kami jalan bersama sambil ngobrol soalsoal ringan yang lain. Aku dan Sarahpun berpisah di gerbang sekolah. Nita sudah ditunggu sopirnya, sedang aku langsung menuju halte. Sebelum berpisah, aku sempat berjanji untuk main ke rumah Nita lain waktu.

Diamdiam aku merasa geli. Masak malam minggu itu jalanjalan sama Sarah harus ditemani kakaknya, dan diantar sopir lagi. Jangankan untuk ML, sekedar menciumpun rasanya hampir mustahil. Sebenarnya aku agak ogahogahan jalanjalan model begitu, tapi rasanya tidak mungkin juga untuk membatalkan begitu saja. Rupanya aturan orang tua Sarah yang ketat itu, bakalan membuat hubunganku dengan Sarah jadi sekedar romanromanan saja. Praktis acara pada saat itu hanya jalanjalan ke Mall dan makan di food court.

Di tengah rasa bete itu aku coba menghibur diri dengan mencuricuri pandang pada Mbak Indah, baik pada saat makan ataupun jalan. Mbak Indah, adalah kakak sulung Sarah yang kuliah di salah satu perguruan tinggi terkenal di kota Y. Dia pulang setiap 2 minggu atau sebulan sekali. Sama sepertiku, hanya beda level. Kalau Mbak Indah kuliah di ibukota propinsi dan mudik ke kotamadya, sedang aku sekolah di kotamadya mudiknya ke kota kecamatan.

Wajah Mbak Indah sendiri hanya masuk kategori lumayan. Agak jauh dibandingkan Sarah. Kuperhatikan wajah Mbak Indah mirip ayahnya sedang Sarah mirip ibunya. Hanya Mbak Indah ini lumayan tinggi, tidak seperti Sarah yang pendek, meski samasama agak gemuk.

Kuperhatikan daya tarik seksual Mbak Indah ada pada toketnya. Lumayan gede dan kelihatan menantang kalau dilihat dari samping, sehingga rasarasanya ingin tanganku menyusup ke balik TShirtnya yang longgar itu. Aku jadi ingat Nita. Ah, seandainya tidak aku tidak ke rumah Sarah, pasti aku sudah melayang bareng Nita.

Saat Sarah ke toilet, Mbak Indah mendekatiku.

Heh, awas kamu jangan macemmacem sama Sarah! katanya tibatiba sambil memandang tajam padaku.

Maksud Mbak, apa? aku bertanya tidak mengerti.

Sarah itu anak lugu, tapi kamu jangan sekalikali manfaatin keluguan dia! katanya lagi.

Ini ada apa sih Mbak? aku makin bingung.

Alah, purapura. Dari wajahmu itu kelihatan kalau kamu dari tadi bete, aku hanya diam sambil merasa heran karena apa yang dikatakan Mbak Indah itu betul.

Kamu bete, karena malem ini kamu nggak bisa ngapangapain sama Sarah, ya kan? aku hanya tersenyum, Mbak Indah yang tadinya tutur katanya halus dan ramah berubah seperti itu.

Eh, malah senyamsenyum, hardiknya sambil melotot.

Memang nggak boleh senyum. Abisnya Mbak Indah ini lucu, kataku.

Lucu kepalamu, Mbak Indah sewot.

Ya luculah. Kukira Mbak Indah ini lembut kayak Sarah, ternyata galak juga! Aku tersenyum menggodanya.

Ih, senyamsenyum mlulu. Senyummu itu senyum mesum tahu, kayak matamu itu juga mata mesum! Mbak Indah makin naik, wajahnya sedikit memerah.

Mbak cakep deh kalau marahmarah, makin Mbak Indah marah, makin menjadi pula aku menggodanya.

Denger ya, aku nggak lagi bercanda. Kalau kamu berani macemmacem sama adikku, aku bisa bunuh kamu! kali ini Mbak Indah nampak benarbenar marah.

Akhirnya kusudahi juga menggodanya melihat Mbak Indah seperti itu, apalagi pengunjung mall yang lain kadangkadang menoleh pada kami. Kuceritakan sedikit tentang hubunganku dengan Sarah selama ini, sampai pada acara apel pada saat itu.

Kalau soal pengin ngapangapain, yah, itu sih awalnya memang ada. Tapi, sekarang udah lenyap. Sarah sepertinya bukan cewek yang tepat untuk diajak ngapangapain, dia mah penginnya romanromanan aja, kataku mengakhiri penjelasanku.
Kamu ini ngomongnya terlalu terusterang ya? Nada Mbak Indah sudah mulai normal kembali.

Ya buat apa ngomong mbulet. Bagiku sih lebih baik begitu, kataku lagi.

Tapi .. kenapa tadi sama aku kamu beraninya liraklirik aja. Nggak berani terusterang mandang langsung?

Aku berpikir sejenak mencerna maksud pertanyaan Mbak Indah itu. Akhirnya aku mengerti, rupanya Mbak Indah tahu kalau aku diamdiam sering memperhatikan dia.

Yah .. masak jalan sama adiknya, Mbaknya mau diembat juga, kataku sambil garukgaruk kepala.

Setelah itu Sarah muncul dan dilanjutkan acara belanja di dept. store di mall itu. Selama menemani kakak beradik itu, aku mulai sering mendekati Mbak Indah jika kulihat Sarah sibuk memilihmilih pakaian. Aku mulai lancar menggoda Mbak Indah.

Hampir jam 10 malam kami baru keluar dari mall. Lumayan pegalpegal kaki ini menemani dua cewek jalanjalan dan belanja. Sebelum keluar dari mall Mbak Indah sempat memberiku sobekan kertas, tentu saja tanpa sepengetahuan Sarah.

Aku lega melihat Mbak Indah datang ke counter bus PATAS AC seperti yang diberitahukannya lewat sobekan kertas. Kulirik arloji menunjukkan jam setengah 9, berarti Mbak Indah terlambat setengah jam.

Sori terlambat. Mesti ngrayu PapaMama dulu, sebelum dikasih balik pagipagi, Mbak Indah langsung ngerocos sambil meletakkan handbagnya di kursi di sampingku yang kebetulan kosong. Sementara aku tak berkedip memandanginya. Mbak Indah nampak sangat feminin dalam kulot hitam, blouse warna krem, dan kaos yang juga berwarna hitam. Tahu aku pandangi, Mbak Indah memencet hidungku sambil ngomelngomel kecil, dan kami pun tertawa. Hanya sekitar sepuluh menit kami menunggu, sebelum bus berangkat.

Dalam perjalanan di bus, aku tak tahan melihat Mbak Indah yang merem sambil bersandar. Tanganku pun mulai mengeluelus tangannya. Mbak Indah membuka mata, kemudian bangun dari sandarannya dan mendekatkan kepalanya padaku.

Gimana, Mbaknya mau diembat juga? ledeknya sambil berbisik.

Kan lain jurusan, aku membela diri. Adiknya jurusan romanromanan, Mbaknya jurusan Aku tidak melanjutkan katakataku, tangan Mbak Indah sudah lebih dulu memencet hidungku. Selebihnya kami lebih banyak diam sambil tiduran selama perjalanan.

Yang disebut kamar kos oleh Mbak Indah ternyata sebuah faviliun. Faviliun yang ditinggali Mbak Indah kecil tapi nampak lux, didukung lingkungannya yang juga perumahan mewah.

Kok bengong, ayo masuk, Mbak Indah mencubit lenganku. Peraturan di sini cuman satu, dilarang mengganggu tetangga. Jadi, cuek adalah cara paling baik.

Aku langsung merebahkan tubuhku di karpet ruang depan, sementara setelah meletakkan handbagnya di dekat kakiku, Mbak Indah langsung menuju kulkas yang sepertinya terus on.

Nih, minum dulu, habis itu mandi, kata Mbak Indah sambil menuangkan air dingin ke dalam gelas.

Kan tadi udah mandi Mbak, kataku.

Ih, jorok. Males aku deketdeket orang jorok, Mbak Indah tampak cemberut. Kalau gitu, aku duluan mandi, katanya sambil menyambar handbag dan menuju kamar. Aku lihat Mbak Indah tidak masuk kamar, tapi hanya membuka pintu dan memasukkan handbagnya. Setelah itu dia berjalan ke belakang ke arah kamar mandi.

Mbak, Mbak Indah berhenti dan menoleh mendengar panggilanku. Aku mau mandi, tapi bareng ya?

Ih, maunya .. Mbak Indah menjawab sambil tersenyum. Melihat itu aku langsung bangkit dan berlari ke arah Mbak Indah. Langsung kupeluk dia dari belakang tepat di depan pintu kamar mandi. Kusibakkan rambutnya, kuciumi leher belakangnya, sambil tangan kiriku mengusapusap pinggulnya yang masih terbungkus kulot. Terdengar desahan Mbak Indah, sebelum dia memutar badan menghadapku. Kedua tangannya dilingkarkan ke leherku.

Katanya mau mandi? setelah berkata itu, lagilagi hidungku jadi sasaran, dipencet dan ditariknya sehingga terasa agak panas. Setelah itu diangkatnya kaosku, dilepaskannya sehingga aku bertelanjang dada. Kemudian tangannya langsung membuka kancing dan retsluiting jeansku. Lumayan cekatan Mbak Indah melakukannya, sepertinya sudah terbiasa. Seterusnya aku sendiri yang melakukannya sampai aku sempurna telanjang bulat di depan Mbak Indah.

Ih, nakal, kata Mbak Indah sambil menyentil rudalku yang terayunayun akibat baru tegang separo.

Sakit Mbak, aku meringis.

Biarin, kata Mbak Indah yang diteruskan dengan melepas blousenya kemudian kaos hitamnya, sehingga bagian atasnya tinggal BH warna hitam yang masih dipakainya. Aku tak berkedip memandangi sepasang toket Mbak Indah yang masih tertutup BH, dan Mbak Indah tidak melanjutkan melepas pakainnya semua sambil tersenyum menggoda padaku.

Birahi benarbenar sudah tak bisa kutahan. Langsung kuraih dan naikkan BHnya, sehingga sepasang toketnya yang besar itu terlepas.

Ih, pelanpelan. Kalau BHku rusak, emangnya kamu mau ganti, lagilagi hidungku jadi sasaran. Tapi aku sudah tidak peduli. Sambil memeluknya mulutku langsung mengulum tokenya yang sebelah kanan.

Mbak Indah tidak berhenti mendesah sambil tangannya mengusapusap rambutku. Aku makin bersemangat saja, mulutku makin rajin menggarap toketnya sebelah kanan dan kiri bergantian. Kukulum, kumainkan dengan lidah dan kadang kugigit kecil. Akibat seranganku yang makin intens itu Mbak Indah mulai menjeritjerit kecil di selasela desahannya.

Beberapa menit kulakukan aksi yang sangat dinikmati Mbak Indah itu, sebelum akhirnya dia mendorong kepalaku agar terlepas dari toketnya. Mbak Indah kemudian melepas BH, kulot dan CDnya yang juga berwarna hitam. Sementara bibirnya nampak setengah terbuka sambil mendesi lirih dan matanya sudah mulai sayu, pertanda sudah horny berat.

Belum sempat mataku menikmati tubuhnya yang sudah telanjang bulat, tangan kananya sudah menggenggam rudalku. Kemudian Mbak Indah berjalan mundur masuk kamar mandi sementara rudalku ditariknya. Aku meringis menahan rasa sakit, sekaligus pengin tertawa melihat kelakuan Mbak Indah itu.

Mbak Indah langsung menutup pintu kamar mandi setelah kami sampai di dalam, yang diteruskan dengan menghidupkan shower. Diteruskannya dengan menarik dan memelukku tepat di bawah siraman air dari shower. Dan

mmmmhhhh . bibirnya sudah menyerbu bibirku dan melumatnya. Kuimbangi dengan aksi serupa. Seterusnya, siraman air shower mengguyur kepala, bibir bertemu bibir, lidah saling mengait, tubuh bagian depan menempel ketat dan sesekali saling menggesek, kedua tangan mengusapusap bagian belakang tubuh pasangan, Aaaaaahhh, nikmat luar biasa.

Tak ingat berapa lama kami melakukan aksi seperti itu, kami melanjutkannya dalam posisi duduk, tak ingat persis siapa yang mulai. Aku duduk bersandar pada dinding kamar mandi, kali ku luruskan, sementar Mbak Indah duduk di atas pahaku, lututnya menyentuh lantai kamar mandi. Kemudian kurasakan Mbak Indah melepaskan bibirnya dari bibirku, pelahan menyusur ke bawah. Berhenti di leherku, lidahnya beraksi menjilati leherku, berpindahpindah. Setelah itu, dilanjutkan ke bawah lagi, berhenti di dadaku. Sebelah kanankiri, tengah jadi sasaran lidah dan bibirnya. Kemudian turun lagi ke bawah, ke perut, berhenti di pusar. Tangannya menggenggam rudalku, didorong sedikit ke samping dengan lembut, sementara lidahnya terus mempermainkan pusarku. Puas di situ, turun lagi, dan bijiku sekarang yang jadi sasaran. Sementara lidahnya beraksi di sana, tangan kanannya mengusapusap kepala rudalku dengan lembut. Aku sampai berkelojotan sambil mengerangerang menikmati aksi Mbak Indah yang seperti itu.

Pelahanlahan bibirnya merayap naik menyusuri batang rudalku, dan berhenti di bagian kepala, sementara tangannya ganti menggenggam bagian batang. Kepala rudalku dikulumnya, dijilati, berpindah dan berputarputar, sehingga tak satu bagianpun yang terlewat. Beberapa saat kemudian, kutekan kepala Mbak Indah ke bawah, sehingga bagian batanku pun masuk 2/3 ke mulutnya. Digerakkannya kepalanya naik turun pelahanlahan, berkalikali. Kadangkadang aksinya berhenti sejenak di bagian kepala, dijilati lagi, kemudian diteruskan naik turun lagi. Pertahananku nyaris jebol, tapi aku belum mau terjadi saat itu. Kutahan kepalanya, kuangkat pelan, tapi Mbak Indah seperti melawan. Hal itu terjadi beberapa kali, sampai akhirnya aku berhasil mengangkat kepalanya dan melepas rudalku dari mulutnya.

Kuangkat kepala Mbak Indah, sementara matanya terpejam. Kudekatkan, dan kukulum lembut bibirnya. Pelanpelan kurebahkan Mbak Indah yang masih memejamkan mata sambil mendesis itu ke lantai kamar mandi. Kutindih sambil mulutku melahap kedua toketnya, sementara tanganku meremasnya bergantian.

Erangannya, desahannya, jeritanjeritan kecilnya bersahutsahutan di tengah gemericik siraman air shower. Kuturunkan lagi mulutku, berhenti di gundukan yang ditumbuhi bulu lebat, namun tercukur dan tertata rapi. Beberapa kali kugigit pelan bulubulu itu, sehingga pemiliknya menggelinjang ke kanan kiri. Kemudian kupisahkan kedua pahanya yang putih,besar dan empuk itu. Kubuka lebarlebar. Kudaratkan bibirku di bibir memeknya, kukecup pelan. Kujulurkan lidahku, kutusuktusukan pelan ke daging menonjol di antar belahan memek Mbak Indah. Pantat Mbak Indah mulai bergoyanggoyang pelahan, sementara tangannya menjambak atau lebih tepatnya meremas rambutku, karena jambakannya lembut dan tidak menyakitkan. Kumasukkan jari tengahku ku lubang memeknya, ku keluar masukkan dengan pelan. Desisan Mbak Indah makin panjang, dan sempat ku lirik matanya masih terpejam. Kupercepat gerakan jariku di dalam lubang memeknya, tapi tangannya langsung meraih tanganku yang sedang beraksi itu dan menahannya. Kupelankan lagi, dan Mbak melepas tangannya dari tanganku. Setiap kupercepat lagi, tangan Mbak Indah meraih tanganku lagi, sehingga akhirnya aku mengerti dia hanya mau jariku bergerak pelahan di dalam memeknya.

Beberapa menit kemudian, kurasakan Mbak Indah mengangkat kepalaku menjauhkan dari memeknya. Mbak Indah membuka mata dan memberi isyarat padaku agar duduk bersandar di dinding kamar mandi. Seterusnya merayap ke atasku, mengangkang tepat di depanku. Tangannya meraih rudalku, diarahkan dan dimasukkan ke dalam lubang memeknya.

Oooooooooooohh , Mbak Indah melenguh panjang dan matanya kembali terpejam saat rudalku masuk seluruhnya ke dalam memeknya. Mbak Indah mulai bergerak naikturun pelahan sambil sesekali pinggulnya membuat gerakan memutar. Aku tidak sabar menghadapi aksi Mbak Indah yang menurutku terlalu pelahan itu, mulai kusodoksodokkan rudalku dari bawah dengan cukup cepat. Mbak Indah menghentikan gerakannya, tangannya menekan dadaku cukup kuat sambil kepala menggeleng, seperti melarangku melakukan aksi sodok itu. Hal itu terjadi beberapa kali, yang sebenarnya membuatku agak kecewa, sampai akhirnya Mbak Indah membuka matanya, tangannya mengusap kedua mataku seperti menyuruhkan memejamkan mata. Aku menurut dan memejamkan mataku.

Setelah beberapa saat aku memejamkan mata, aku mulai bisa memperhatikan dengan telingaku apa yang dari tadi tidak kuperhatikan, aku mulai bisa merasakan apa yang dari tadi tidak kurasakan. Desahan dan erangan Mbak Indah ternyata sangat teratur dan serasi dengan gerakan pantatnya,sehingga suara dari mulutnya, suara alat kelamin kami yang menyatu dan suara siraman air shower seperti sebuah harmoni yang begitu indah. Dalam keterpejaman mata itu, aku seperti melayanglayang dan sekelilingku terasa begitu indah, seperti nama wanita yang sedang menyatu denganku. Kenikmatan yang kurasakan pun terasa lain, bukan kenikmatan luar biasayang menhentakhentak, tapi kenikmatan yang sedikitsedikit, seperti mengalir pelahan di seluruh syarafku, dan mengendap sampai ke ulu hatiku.

Beberapa menit kemudian gerakan Mbak Indah berhenti pas saat rudalku amblas seluruhnya. Ada sekitar 5 detik dia diam saja dalam posisi seperti itu. Kemudian kedua tangannya meraih kedua tanganku sambil melontarkan kepalanya ke belakang. Kubuka mataku, kupegang kuatkuat kedua telapak tangannya dan kutahan agar Mbak Indah tidak jatuh ke belakang. Setelah itu pantatnya membuat gerakan ke kanankiri dan terasa menekannekan rudal dan pantatku.

Aaa .. aaaaaa aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh, desahan dan jeritan kecil Mbak Indah itu disertai kepala dan tubuhnya yang bergerak ke depan. Mbak Indah menjatuhkan diri padaku seperti menubruk, tangannya memeluk tubukku, sedang kepalanya bersandar di bahu kiriku. Ku balas memeluknya dan kubelaibelai Mbak Indah yang baru saja menikmati orgasmenya. Sebuah cara orgasme yang eksotik dan artistik.

Setelah puas meresapi kenikmatan yang baru diraihnya, Mbak Indah mengangkat kepala dan membuka matanya. Dia tersenyum yang diteruskan mencium bibirku dengan lembut. Belum sempat aku membalas ciumannya, Mbak Indah sudah bangkit dan bergeser ke samping. Segera kubimbing dia agar rebahan dan telentang di lantai kamar mandi. Mbak Indah mengikuti kemauanku sambil terus menatapku dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Kemudian kuarahkan rudalku yang rasanya seperti empotempotkan ke lubang memeknya, kumasukkan seluruhnya. Setelah amblas semuanya Mbak Indah memelekku sambil berbisik pelan.

Jangan di dalam ya sayang, aku belum minum obat, aku mengangguk pelan mengerti maksudnya. Setelah itu mulai kugoyanggoyang pantatku pelanpelan sambil kupejamkan mata. Aku ingin merasakan kembali kenikmatan yang sedikitsedikit tapi meresap sampai ke ulu hati seperti sebelumnya. Tapi aku gagal, meski beberapa lama mencoba. Akhirnya aku membuat gerakan seperti biasa, seperti yang biasa kulakukan pada tante Ani atau Nita. Bergerak maju mundur dari pelan dan makin lama makin cepat.

Aaaah Hoooohh, aku hampir pada puncak, dan Mbak Indah cukup cekatan. Didorongnya tubuhku sehingga rudalku terlepas dari memeknya. Rupanya dia tahu tidak mampu mengontrol diriku dan lupa pada pesannya. Seterusnya tangannya meraih rudalku sambil setengah bangun. Dikocokkocoknya dengan gengaman yang cukup kuat, seterusnya aku bergeser ke depan sehingga rudalku tepat berada di atas perut Mbak Indah.

Aaaaaaaah aaaaaaahhh crottt crotttt .., beberapa kali spermaku muncrat membasahi dada dan perut Mbak Indah. Aku merebahku tubuhku yang terasa lemas di samping Mbak Indah, sambil memandanginya yang asyik mengusap meratakan spermaku di tubuhnya.

Hampir lupa ya? lagilagi hidungku jadi sasarannya waktu Mbak Indah mengucapkan katakata itu.

Selama di bus dalam perjalanan pulang aku memejamkan mata sambil mengingatingat pengalaman yang baru saja ku dapat dari Mbak Indah. Saat di kamar mandi, dan saat mengulangi sekali lagi di kamarnya. Seorang wanita dengan gaya bersetubuh yang begitu lembut dan penuh perasaan.

Kalau sekedar mengejar kepuasan nafsu, itu gampang. Tapi aku mau lebih. Aku mau kepuasan nafsuku selaras dengan kepuasan yang terasa di jiwaku.

Kepuasan yang terasa di jiwa, itulah hal yang kudapat dari Mbak Indah dan hanya dari Mbak Indah, karena kelak setelah gontaganti pasangan, tetap saja belum pernah kudapatkan kenikmatan seperti yang kudapatkan dari Mbak Indah. Kepuasan dan kenikmatan yang masih terasa dalam jangka waktu yang cukup lama meskipun persetubuhan berakhir.

Ingat ya, jangan pernah sekalikali kamu lakukan sama Sarah. Kalau sampai kamu lakukan, aku tidak akan pernah memaafkan kamu! Aku terbangun, rupanya dalam tidurku aku bermimpi Mbak Indah memperingatkanku tentang Sarah, adiknya. Dan bus pun sudah mulai masuk terminal.

Related Post