Gadis Penyanyi Cafe Bersetubuh Denganku - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
5989
post-template-default,single,single-post,postid-5989,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita Hot

Gadis Penyanyi Cafe Bersetubuh Denganku

Malam tersebut aku dinner dengan clientku di suatu cafe. Sebuah band tampil menghibur pengunjung cafe dengan musik jazz. Lagu “I’m Old Fashioned” dimainkan dengan lumayan baik. Aku menyimak sang penyanyi. Seorang gadis berusia kira-kira 26 tahun. Suaranya memang paling jazzy.

Gadis ini wajahnya tidak terlampau cantik. Tingginya tidak cukup lebih 160 cm/55 kg. Tubuhnya padat berisi. Ukuran payudaranya selama 36B. Kelebihannya ialah lesung pipitnya. Senyumnya manis dan matanya bersinar indah. Cukup seksi. Apalagi suaranya. Membuat telingaku fresh.

“Para pengunjung sekalian.. Malam ini saya, Felicia bareng band bakal menemani kamu semua. Jika terdapat yang ingin berdendang bersama saya, mari.. saya persilakan. Atau bila hendak request lagu.. silakan”.

Penyanyi yang ternyata mempunyai nama Felicia tersebut mulai menyapa pengunjung Cafe. Aku melulu tertarik mendengar suaranya. Percakapan dengan client menyita perhatianku. Sampai lantas telingaku menciduk perubahan teknik bermain dari sang keyboardist. Aku menyaksikan ke arah band itu dan menyaksikan Felicia ternyata bermain keyboard juga.

Baca Juga: Cerita Memekku Basah Ketika Di Rangsang Oleh Supir

Felicia bermain solo keyboard sambil mendendangkan lagu “All of Me”. Lagu Jazz yang paling sederhana. Aku merasakan semua jenis musik dan berjuang mengerti seluruh jenis musik. Termasuk jazz yang memang ‘brain music’. Musik cerdas yang menciptakan otakku beranggapan setiap mendengarnya.

Felicia ternyata bermain paling aman. Aku terkesima mengejar seorang biduan cafe yang dapat bermain keyboard dengan baik. Tiba-tiba aku menjadi paling tertarik dengan Felicia. Aku menyebutkan request laguku dan memberikannya melewati pelayan cafe tersebut.

“The Boy From Ipanema, please.. And your cellular number. 081xx. From Boy.”, tulisku di kertas request sekaligus menyebutkan nomor HP-ku. Aku melanjutkan pembicaraan dengan clientku dan tak lama lantas aku mendengar suara Felicia.

“The Boy From Ipanema.. Bagi Mr. Boy..?”

Bahasa tubuh Felicia mengindikasikan bahwa dia hendak tahu dimana aku duduk. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum ke arahnya. Posisi dudukku tepat di depan band tersebut. Jadi, dengan jelas Felicia dapat melihatku. Kulihat Felicia menjawab senyumku. Dia mulai memainkan keyboardnya.

Sambil bermain dan bernyanyi, matanya menatapku. Aku juga menatapnya. Bagi menggodanya, aku mengedipkan mataku. Aku kembali berkata dengan clientku. Tak lama kudengar suara Felicia menghilang dan berganti dengan suara biduan pria. Kulihat sekilas Felicia tidak nampak. Tit.. Tit.. Tit.. SMS di HP-ku berbunyi.

“Felicia.” terlihat pesan SMS di HP-ku. Wah.. Felicia meresponsku. Segera kutelepon dia.

“Hai.. Aku Boy. Kau dimana, Felicia?”

“Hi Boy. Aku di belakang. Ke kamar mandi. Kenapa hendak tahu HP-ku?”

“Aku tertarik denganmu. Suaramu sexy.. Sesexy penampilanmu” kataku terus terang. Kudengar tawa enteng dari Felicia.

“Rayuan ala Boy, nih?”

“Lho.. Bukan bujukan kok. Tetapi pujian yang layak buatmu yang memang sexy.. Oh ya, kembali dari cafe jam berapa? Aku antar kembali ya?”

“Jam 24.00. Boleh. Tapi kulihat kau dengan temanmu?”

“Oh.. dia clientku. Sebentar lagi dia kembali kok. Aku melulu mengantarnya hingga parkir mobil. Bagaimana?”

“Okay.. Aku tunggu ya.”

“Okay.. See you soon, sexy..”

Aku melanjutkan sebentar pembicaraan dengan client dan lantas mengantarkannya ke lokasi parkir mobil. Setelah clientku kembali aku pulang ke cafe. Waktu masih mengindikasikan pukul 23.30.

Masih 30 menit lagi. Aku pulang duduk dan memesan hot tea. 30 menit aku habiskan dengan memandang Felicia yang menyanyi. Mataku terus menatap matanya seraya sesekali aku tersenyum. Kulihat Felicia dengan percaya diri menjawab tatapanku. Gadis ini menarik sampai membuatku hendak mencumbunya.

Dalam perjalanan mengirimkan Felicia pulang, aku sengaja mengobarkan AC mobil lumayan besar sampai-sampai suhu dalam mobil dingin sekali. Felicia terlihat menggigil.

“Boy, AC-nya dikecilin yah?” tangan Felicia seraya meraih tombol AC untuk mendongkrak suhu. Tanganku segera menyangga tangannya. Kesempatan guna memegang tangannya.

“Jangan.. Udah dekat rumahmu kan? Aku tidak tahan panas. Suhu segini aku baru bisa. Kalau anda naikkan, aku tidak tahan..” alasanku.

Aku memang hendak membuat Felicia kedinginan. Kulihat Felicia dapat mengerti. Tangan kiriku masih memegang tangannya. Kuusap perlahan. Felicia diam saja.

“Kugosok ya.. Biar hangat..” kataku datar. Aku memberinya stimuli ringan. Felica tersenyum. Dia tidak menolak.

“Ya.. Boleh. Habis dingin banget. Oh ya, anda suka jazz pun ya?”

“Hampir seluruh musik aku suka. Oh ya, baru kali ini aku menyaksikan penyanyi jazz perempuan yang dapat bermain keyboard. Mainmu asyik lagi.”

“Haha.. Ini malam kesatu aku main keyboard seraya menyanyi.”

“Oh ya? Tapi tidak tampak canggung. Oh ya, kudengar tadi mainmu tidak sedikit memakai scale altered dominant ya?” aku lantas memainkan tangan kiriku di tangannya seakan-akan aku bermain piano.

“What a Boy! Kamu tahu jazz scale juga? Kamu dapat main piano yah?” Felicia terlihat terkejut. Mukanya tampak penasaran.

“Yah, dulu main klasik. Lalu tertarik jazz. Belum mahir kok.” Aku berhenti di depan lokasi tinggal Felicia.

“Tinggal dengan siapa?” tanyaku saat kami masuk ke rumahnya. Ya, aku menerima ajakannya guna masuk sebentar walaupun ini sudah nyaris jam 1 pagi.

“Aku kontrak lokasi tinggal ini dengan sejumlah temanku sesama biduan cafe. Lainnya belum kembali semua. Mungkin sekalian kencan dengan pacarnya.”

Felicia masuk kamarnya guna mengubah baju. Aku tidak mendengar suara pintu kamar dikunci.

Wah, kebetulan. Atau Felicia memang memancingku? Aku segera berdiri dan nekat membuka pintu kamarnya. Benar! Felicia berdiri melulu dengan bra dan celana dalam. Di tangannya ada suatu kaos.

Kukira Felicia bakal berteriak terkejut atau marah. Ternyata tidak. Dengan santai dia tersenyum.

“Maaf.. Aku inginkan tanya kamar mandi dimana?” tanyaku menggali alasan. Justru aku yang gugup menyaksikan pemandangan estetis di depanku.

“Di kamarku terdapat kamar mandinya kok. Masuk aja.”

Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya aku menyaksikan ada suatu keyboard. Aku tidak jadi ke kamar mandi justeru memainkan keyboardnya. Aku memainkan lagu “Body and Soul” seraya menyanyi lembut. Suaraku biasa saja pun permainanku. Tapi aku yakin Felicia bakal tertarik. Beberapa kali aku membuat kekeliruan yang kusengaja. Aku hendak melihat reaksi Felicia.

“Salah tuh mainnya.” komentar Felicia. Dia ikut bernyanyi.

“Ajarin dong..” kataku.

Dengan segera Felicia mengajariku memainkan keyboardnya. Aku duduk sementara Felicia berdiri membelakangiku. Dengan posisi laksana memelukku dari belakang, dia mengindikasikan sekilas notasi yang benar. Aku dapat merasakan nafasnya di leherku. Wah.. Sudah jam 1 pagi. Aku menimbang-nimbang apa yang mesti aku lakukan. Aku memalingkan mukaku. Kini mukaku dan Felicia saling bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak mendekap pinggangnya. Kalau ditolak, berarti dia tidak bermaksud apa-apa denganku. Jika dia diam saja, aku boleh melanjutkannya. Kemudian tangannya menepis halus tanganku. Kemudian dia berdiri. Aku ditolak.

“Katanya inginkan ke kamar mandi?” tanyannya seraya tersenyum. Oh ya.. Aku melupakan alasanku membuka pintu kamarnya.

“Oh ya..” aku berdiri.

Ada rasa sesak di dadaku menerima penolakannya. Tapi aku tak menyerah. Segera kuraih tubuhnya dan kupeluk. Kemudian kuangkat ke kamar mandi!

“Eh.. Eh, apa-apaan ini?” Felicia terkejut. Aku tertawa saja.

Kubawa dia ke kamar mandi dan kusiram dengan air! Biarlah. Kalau inginkan marah ya aku terima saja.

Yang jelas aku terus berjuang mendapatkannya. Ternyata Felicia justeru tertawa. Dia menjawab menyiramku dan kami sama-sama basah kuyup. Segera aku menyandarkannya ke dinding kamar mandi dan menciumnya!

Felicia menjawab ciumanku. Bibir kami saling memagut. Sungguh nikmat bercumbu di suhu dingin dan basah kuyup. Bibir kami saling bersaing memberikan kehangatan. Tanganku merain kaosnya dan membukanya. Kemudian bra dan celana pendeknya. Sementara Felicia pun membuka kaos dan celanaku. Kami sama-sama tinggal melulu memakai celana dalam. Sambil terus mencumbunya, tangan kananku meraba, meremas lembut dan memicu payudaranya. Sementara tangan kiriku meremas bongkahan pantatnya dan sesekali menyelinap ke belahan pantatnya. Dari pantatnya aku dapat meraih vaginanya. Menggosok-gosoknya dengan jariku.

“Agh..” kudengar rintihan Felicia. Nafasnya mulai memburu. Suaranya sexy sekali. Berat dan basah. Perlahan aku menikmati penisku ereksi.

“Egh..” aku menyangga nafas saat kurasakan tangan Felicia menggenggam batang penisku dan meremasnya.

Tak lama dia mengocok penisku sampai membuatku kian terangsang. Tubuh Felicia kuangkat dan kududukkan di bak air. Cukup susah bercinta di kamar mandi. Licin dan tidak dapat berbaring. Sewaktu Felicia duduk, aku hanya dapat merangsang payudara dan mencumbunya. Sementara pantat dan vaginanya tidak dapat kuraih. Felicia tidak inginkan duduk. Dia berdiri lagi dan menciumi puting dadaku!

Ternyata enak pun rasanya. Baru kali ini putingku dihirup dan dijilat. Felicia lumayan aktif. Tangannya tak pernah melepas penisku. Terus dikocok dan diremasnya. Sambil melakukannya, badannya bergoyang-goyang seolah-olah dia sedang menari dan merasakan musik. Merasa terganggu dengan celana dalam, aku melepasnya dan pun melepas celana dalam Felicia. Kami bercumbu kembali.

Lidahku mengurangi lidahnya. Kami saling menjilat dan menghisap.

Rintihan kecil dan desahan nafas kami saling bergantian membuat buaian musik birahi di kamar mandi. Suhu yang dingin menciptakan kami saling merapat menggali kehangatan. Ada sensasi yang bertolak belakang bercinta saat dalam suasana basah. Waktu bercumbu, terdapat rasa ‘air’ yang menciptakan ciuman bertolak belakang rasanya dari biasanya.

Aku mengobarkan shower dan lantas di bawah air yang mengucur dari shower, kami semakin hangat merapat dan saling merangsang. Aliran air yang mengairi rambut, wajah dan semua tubuh, menciptakan tubuh kami kian panas. Makin bergairah. Kedua tanganku meraih pantatnya dan kuremas agak keras, sedangkan bibirku melumat makin buas bibir Felicia. Sesekali Felicia menggigit bibirku.

Perlahan tanganku merayap naik seraya memijat enteng pinggang, punggung dan bahu Felicia. Dari bahasa tubuhnya, Felicia sangat merasakan pijatanku.

“Ogh.. Its nice, Boy.. Och..” Felicia mengerang.

Lidahku mulai menjilati telinganya. Felicia menggelinjang geli. Tangannya ikut meremas pantatku.

Aku menikmati payudara Felicia kian tegang. Payudara dan putingnya tampak begitu seksi.

Menantang dengan puting yang menonjol coklat kemerahan.

“Payudaramu seksi sekali, Felicia.. Ingin kumakan rasanya..” candaku seraya tertawa ringan. Felicia memainkan bola matanya dengan genit.

“Makan aja kalo suka..” bisiknya di telingaku.

“Enak lho..” sambungnya seraya menjilat telingaku. Ugh.. Darahku berdesir. Perlahan ujung lidahku mendekati putingnya. Aku menjilatnya serupa di ujung putingnya.

“Ergh..” desah Felicia. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.

Mulai dari ujung lidah hingga akhirnya dengan semua lidahku, aku menjilatnya. Kemudian aku menghisapnya dengan lembut, agak powerful dan kesudahannya kuat. Tak lama lantas Felicia lantas membuka kakinya dan menuntun penisku menginjak vaginanya.

“Ough.. Enak.. Ayo, Boy” Felicia memintaku mulai beraksi.

Penisku perlahan menjebol vaginanya. Aku mulai mengocoknya. Maju-mundur, berputar, Sambil bibir kami saling melumat. Aku berjuang keras membuatnya menikmati kenikmatan. Felicia dengan terampil mengekor tempo kocokanku. Kamu berkolaborasi dengan harmonis saling memberi dan menemukan kenikmatan. Vaginanya masih rapat sekali. Mirip dengan Ria. Apakah begini rasanya perawan? Entahlah. Aku belum pernah bercinta dengan perawan, kecuali dengan Ria yang selaput daranya tembus oleh jari pacarnya.

“Agh.. Agh..” Felicia merintih keras. Lama kelamaan suaranya kian keras.

“Come on, Boy.. Fuck me..” ceracaunya.

Rupanya Felicia ialah tipe perempuan yang bersuara keras saat bercinta. Bagiku menyenangkan pun mendengar suaranya. Membuatku terpacu lebih hebat
menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku kian cepat. Beberapa saat lantas aku berhenti. Mengatur nafas dan mengolah posisi kami.

Felicia menungging dan aku ‘menyerangnya’ dari belakang. Doggy style. Kulihat payudara Felicia tidak banyak terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan usil jariku meraba anusnya, lantas memasukkan jariku.

“Hey.. Perih tau!” teriak Felicia. Aku tertawa.

“Sorry.. Kupikir enak rasanya..” Aku menghentikan memasukkan jari ke anusnya namun tetap bermain-main di dekat anusnya sampai membuatnya geli.

Cukup lama kami berpacu dalam birahi. Aku menikmati saat-saat orgasmeku nyaris tiba. Aku berjuang keras menata ritme dan nafasku.

“Aku inginkan nyampe, Felicia..”

“Keluarin di dalam aja. Udah lama aku tidak menikmati semburan cairan pria” Aku agak terhenti. Gila, keluarin di dalam. Kalau hamil gimana, pikirku.

“Aman, Boy. Aku terdapat obat anti hamil kok..” Felicia meyakinkanku. Aku yang tidak yakin. Tapi masa bebal ah. Dia yang menjamin, kan? Kukocok lagi dengan gencar. Felicia berteriak kian keras.

“Yes.. Aku juga nyaris sampe, Boy.. come on.. come on.. oh yeah..”

Saat-saat tersebut makin dekat.. Aku mengejarnya. Kenikmatan tiada tara. Membuat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..

“Aku orgasme. Sesaat lantas kurasakan tubuh Felicia kian bergetar hebat. Aku berjuang keras menyangga ereksiku. Tubuhku terkejang-kejang merasakan puncak kenikmatan.

“Aarrgghh.. Yeeaahh..” Felicia menyusulku orgasme.

Dia menjerit powerful sekali lantas membalikkan badannya dan memelukku. Kami lantas bercumbu lagi. Saatnya after orgasm service. Tanganku memijat tubuhnya, memijat kepalanya dan mencumbu hidung, pipi, leher, payudara dan lantas perutnya. Aku membuatnya kegelian saat hidungku bermain-main di perutnya. Kemudian kuangkat dia.
Mengambil handuk dan mengeringkan tubuh kami berdua. Sambil terus mencuri-curi ciuman dan rabaan, kami saling menggosok tubuh kami. Dengan tubuh telanjang aku mengusungnya ke lokasi tidur, membaringkannya dan pulang menciumnya. Felicia tersenyum puas. Matanya berbinar-binar.

“Thanks Boy.. Sudah lama sekali aku tidak bercinta. Kamu sukses memuaskanku..”

Pujian yang tulus. Aku tersenyum. Aku merasa belum hebat bercinta. Aku hanya berjuang melayani masing-masing wanita yang bercinta denganku. Memperhatikan kebutuhannya.

Aku paling terkejut saat tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sial, kami tadi tak sempat mengunci pintu!! Seorang perempuan muncul. Aku tidak sempat lagi menutupi tubuh telanjangku.

“Ups.. Gak usah terkejut. Dari tadi aku udah dengar teriakan Felicia. Tadi justeru sudah mengintip kalian di kamar mandi..” kata perempuan itu. Aku kecolongan. Tapi apa boleh buat. Biarkan saja. Kulihat Felicia tertawa.

“Kenalin, dia Gladys. Mbak.. Dia Boy.” aku menganggukkan kepalaku padanya.

“Hi Gladys..” sapaku.

Kemudian aku berdiri. Dengan penis lemas terbuai aku menggali kaos dan celana pendek Felicia dan memakainya. Gladys masuk ke kamar. Busyet, ni anak tenang sekali, Pikirku. Sudah jam 2 pagi. Aku mesti pulang.

 

 

Related Post