Ibu Bella Memiliki Kharisma Tinggi - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
5988
post-template-default,single,single-post,postid-5988,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita Hot

Ibu Bella Memiliki Kharisma Tinggi

Awal aku mengenalnya pada ketika dia mengundang perusahaan tempatku bekerja untuk menyerahkan penjelasan menyeluruh mengenai produk yang bakal dipesannya.

Sebagai marketing, perusahaan mengutusku guna menemuinya. Pada mula pertemuan siang itu, aku sama sekali tidak mengasumsikan bahwa Ibu Bella yang kutemui ternyata empunya langsung perusahaan. Wajahnya cantik, kulitnya putih seperti pualam, tubuhnya tinggi langsing (Sekitar 175 cm) dengan dada yang menonjol indah. Dan pinggulnya yang dibungkus span ketat membuat format pinggangnya yang ramping makin mempesona, pun pantatnya wah.. sungguh paling montok, bulat dan masih kencang.

Sepanjang percakapan dengannya, konsentrasiku tidak 100%, menyaksikan gaya bicaranya yang intelek, gerakan bibirnya yang sensual ketika sedang bicara, lagipula kalau sedang membungkuk belahan buah dadanya nampak jelas, putih dan besar.

Di sofa yang sedang di ruangannya yang mewah dan lux, kami kesudahannya sepakat mengikat kontrak kerja. Sambil menantikan sekretaris Ibu Bella menciptakan kontrak kerja, kami membual kesana-kemari bahkan hingga ke urusan yang agak pribadi. Aku berani bicara kearah sana sebab Ibu Bella sendiri yang memulai. Dari percakapan itu, baru kuketahui bahwa usianya baru 25 tahun, dia memegang jabatan direktur sekaligus empunya perusahaan menggantikan almarhum suaminya yang meninggal sebab kecelakaan pesawat.

“Pak gala sendiri usia berapa”, bisiknya dengan nada mesra.
“Saya usia 26 tahun, Bu!” balasku.
“sudah berkeluarga”, pertanyaannya semakin menjurus, aku hingga GR sendiri.
“Belum, Bu!”
Tanpa kutanya, Ibu Bella menjelaskan bahwa semenjak kematian suaminya satu tahun lalu, dia belum menemukan penggantinya.
“Ibu cantik, masih muda, saya rasa seribu pria akan bersaing mendapatkan Ibu bella”, aku tidak banyak memujinya.
“Memang, terdapat benarnya pun yang Bapak Gala ucapkan, namun mereka rata-rata pun mengincar kekayaan saya”, nadanya tidak banyak merendah.

Tiba-tiba tersiar suara ketukan di pintu, Ibu Bella bangkit berdiri membukakan pintu, ternyata sekretarisnya sudah selesai menciptakan kontrak kerjanya.

“Kalau begitu, saya permisi pulang, Bu!, semoga kerjasama ini bisa bertahan dan saling menguntungkan”, aku segera pamit dan mengulurkan tangan.
“Semoga saja”, tangannya menyambut uluran tanganku.
“Terima kasih atas kunjungannya, Pak Gala.”

Cukup lama kami bersalaman, aku menikmati kelembutan tangannya yang laksana sutera, tetapi sebentar lantas aku segera unik tanganku, fobia dikira tidak cukup ajar. Namun naluri laki-lakiku bekerja, dengan halus aku mulai merancang strategi mendekatinya.

“Oh ya, Bu Bella, sebelum saya lupa, sebagai perkenalan dan memulai kerjasama kita, bagaimana bila Ibu Bella saya undang untuk santap malam bersama”, aku mulai memasang jerat.
“Terima kasih”, jawabnya singkat.
“Mungkin beda waktu, saya hubungi Pak Gala, guna tawaran ini.”
“Saya tunggu, Bu.. permisi”

Aku enggan mendesaknya lebih lanjut. Aku segera meninggalkan kantor Ibu Bella dengan sejuta benak menggelayuti benakku. Sepanjang perjalanan, aku tidak jarang kali terbayang keelokan wajahnya, postur tubuhnya yang ideal. Ah.. kayaknya seluruh kriteria cewek idaman terdapat padanya.

Tak terasa satu bulan semenjak pertemuan itu, meskipun aku tidak jarang mampir ke lokasi Ibu Bella dalam kurun masa-masa tersebut, namun tidak kutemui firasat aku dapat mengajaknya sebatas Dinner. Meskipun hubunganku dengannya menjadi semakin akrab.

Menginjak bulan ke-2, kesudahannya aku dapat mengajaknya terbit sekedar santap malam. Aku ingat sekali waktu tersebut malam Minggu, kami laksana sepasang kekasih, meskipun pada tadinya dia ngotot hendak menggunakan mobilnya yang mewah, kesudahannya dia mau juga memakai mobil Katanaku yang bisa buat perut mules.

Beberapa kali malam Minggu kami keluar, sungguh aku jadi bingung sendiri, aku melulu berani menggenggam jarinya saja, itupun aku gemetaran, degup-degup di jantungku terasa berdetak kencang sebenarnya hubungan kami sudah paling dekat, bahkan aku dan dia sama-sama saling memanggil nama saja, tanpa embel-embel Pak atau Bu.

Sampai pada malam Minggu yang kesekian kalinya, kuberanikan diri guna memulainya, waktu tersebut kami di dalam bioskop. Dalam keremangan, aku menggenggam jarinya, kuelus dengan mesra, kelembutan jarinya mengirimkan desiran-desiran mengherankan di tubuhku, kucoba menghirup tangannya pelan, tidak terdapat respon, kulepas jemari tangannya dengan lembut. Kurapatkan tubuhku dengan tubuhnya, kupandangi wajahnya yang sedang serius menatap layar bioskop.

Dengan keberanian yang kupaksakan, kukecup pipinya. Dia terkejut, sebentar memandangku. Aku beranggapan pasti dia bakal marah, namun respon yang kuterima sungguh membuatku kaget. Dengan tiba-tiba dia memelukku, mulutnya yang mungil langsung menyambar mulutku dan melumatnya.

Sekian detik aku terpana, namun segera aku sadar dan balas melumat bibirnya, ciumannya kian ganas, lidah kami saling membelit mengupayakan menelusuri rongga mulut lawan. Sementara tangannya semakin powerful mencengkram bahuku. Aku mulai beraksi, tanganku bergerak merambat ke punggungnya, kuusap lembut punggungnya, bibirku yang terlepas menjalar ke lehernya yang jenjang dan putih, aku menggelitik belakang telinganya dengan lidahku.

“Bella, aku sayang kamu”, kubisikkan kalimat mesra di telinganya.
“Gal, akupun sayang kamu”, suaranya tidak banyak mendesah menyangga birahinya yang mulai bangkit.

Dan ketika tanganku menyusup ke dalam blousnya, erangannya semakin jelas terdengar. Aku menikmati kelembutan buah dadanya, kenyal. Kupilin halus putingnnya, sedangkan tanganku yang satunya mencari pinggangnya dan meremas-remas pinggulnya yang paling bahenol.

Segera kubuka kancing blous unsur depannya, keadaan bioskop yang gelap paling kontras sekali dengan buah dadanya yang putih. Perlahan kukeluarkan buah dadanya dari branya, sekarang di depanku terpampang buah dadanya yang paling indah, kucium dan kujilat belahannya, hidungku bersembunyi diantara belahan dadanya, lidahku yang basah dan hangat terus menciumi sekelilingnya perlahan naik sampai ke unsur putingnya.

Kuhisap pelan putingnya yang masih mungil, kugigit lembut, kudorong dengan lidahku. Bella semakin meracau. Tanganya mengurangi kuat kepalaku ketika putingnya kuhisap agak kuat. Sementara aku menikmati gerakan di celanaku semakin kuat, senjataku telah menegang maksimal.

Tanganku yang satunya telah bergerak ke pahanya, spannya kutarik ke atas sampai batang pahanya terlihat mulus, putih. Kubelai, kupilin pahanya sedangkan mulutku mengisap terus puting buah dadanya kiri dan kanan. Dan ketika jariku hingga di pangkal pahanya, aku mengejar celana dalamnya. Perlahan jari-jariku masuk lewat celah celana dalamnya, kugeser ke kiri, kesudahannya jari-jariku mengejar rambut kemaluannya yang paling lebat.

Dengan tak sabar, kugosokkan jariku di klitorisnya sedangkan mulutku masih asyik menjilati puting buah dadanya yang semakin mencuat ke atas pertanda gairahnya telah memuncak, meskipun jari-jariku tidak banyak terhalang celana dalamnya namun aku masih bisa menggesek klitorisnya, bahkan dengan cepat kumasukkan jariku ke dalam celahnya yang lembat, terasa agak basah. Jariku berputar-putar di dalamnya, hingga kutemukan tonjolan lembut bergerigi di dalam kemaluannya, kutekan dengan lembut G-spotnya itu, kekiri dan kekanan perlahan.

“Achh.. Gala.. aku telah nggak tahan.. Terus Gal.. oh..” Suaranya kian keras, birahinya telah dipuncak.

Tangannya mengurangi kepalaku ke buah dadanya sampai aku susah bernafas, sedangkan tangan yang satunya mengurangi tanganku yang di kemaluannya semakin dalam.

Akhirnya kurasakan semua tubuhnya bergetar, kuhisap powerful puting susunya, kumasukkan jariku semakin dalam.

“Ahh.. oh.. Gal.. aku ke..lu..ar..” Kurasakan jariku hangat dan basah. “Makasih Gal, telah lama aku tak merasakan

kenikmatan ini.” Aku hanya dapat diam, menyangga tegangnya senjataku yang belum terlampiaskan namun rupanya Bella paling pengertian. Dengan lincahnya dibukanya reitsleting celanaku, jari-jarinya menggali senjataku.

Aku membantunya dengan menggerakan tidak banyak tubuhku. Saat tangannya menemukan apa yang dicarinya, sungguh reaksinya paling hebat. “Oh.. besar sekali Gal.. aku suka.. aku suka barang yang besar..” Bella laksana anak kecil yang menemukan permen.

Senjataku yang telah kaku perlahan dikocoknya, aku menikmati nikmat atas perlakuannya, sedangkan tangannya asyik mengocok batang senjataku, tangan satunya membuka kancing bajuku, mulutnya yang basah menciumi dadaku dan menjilati putingku, sesekali Bella menghisap putingku.

Aliran darahku semakin panas, gairahku kian terbakar. Aku menikmati spermaku telah mengumpul di ujung, sedangkan kepala senjataku semakin basah oleh pelumas yang keluar.

“Bella, aku telah nggak tahan..”
“Tahan sebentar, Gal..”

Bella mencungkil jilatan lidahnya di dadaku dan langsung memasukkan senjataku ke dalam mulutnya, aku menikmati kuluman mulutnya yang hangat dan sempit. Kulihat mulutnya yang mungil hingga sesak oleh kemaluanku. Bella semakin powerful mengocok batang senjataku ke dalam mulutnya.

Akhirnya kakiku tidak banyak mengejang untuk mencungkil spermaku. “Awas Bell, aku inginkan keluar..” kutarik rambutnya supaya menjauh dari batang senjataku, namun Bella justeru memasukkan senjataku ke dalam mulutnya lebih dalam, aku tak tahan lagi, kulepaskan tembakanku, 7 kali denyutan lumayan memenuhi mulutnya yang mungil dengan spermaku.

Bella dengan lahap langsung menelannya dan mencuci cairan yang terbelakang di kepala senjataku dengan lidahnya. Aku unik nafas panjang menata degup jantungku yang tadi paling cepat.

Setelah lampu menyala pulang pertanda peragaan telah usai, kami sudah apik kembali. Kulihat jam di pergelangan tanganku menunjukan pukul 10.00 malam. Aku langsung mengantarnya pulang, dalam perjalanan kami tak tidak sedikit bicara, kami saling memikirkan kejadian yang baru saja kami alami bersama.

Sampai di rumahnya yang mewah di bilangan Pluit, aku langsung ditariknya mengarah ke kamar pribadinya yang paling luas. “Gal, saya belum puas, anda teruskan permainan yang tadi..” Tangannya langsung membuka kancing bajuku dan mulai membangunkan gairahku, sedangkan pikiranku semakin bingung, mengapa Bella yang awalnya kalem dapat berubah buas begini?

Tapi pikiranku kalah dengan gairah yang mulai berkobar di dadaku, terlebih ketika tangannya dengan lihai mengelus dadaku. Bagai musafir semua tubuhku dihirup dan dijilatinya dengan sarat nafsu. Aku pun enggan kalah sigap, di ranjangnya yang lunak kami bergulat saling memilin, melumat, dan saling menghisap.

Saat pakaian kami mulai tertanggal dari tempatnya. Kami saling melihat, aku menyaksikan kesempurnaan tubuhnya, lagipula di wilayah selangkangannya yang putih bersih, paling kontras dengan bulu kemaluannya yang paling hitam dan lebat. Dan Bella memandangi senjataku yang mengacung menunjuk langit-langit kamar. Hanya sebentar kami berpandangan, aku langsung meraih tubuhnya dan memapahnya ke ranjang.

Kuletakkan hati-hati tubuhnya yang gempal dan lembut, aku mulai menciumi semua tubuhnya, lidahku menari-nari dari leher hingga ke jari-jari kakinya. Kuhisap puting buah dadanya yang kemerahan, kujilat dan sesekali kugigit mesra. Ssementara tanganku yang beda meremas-remas pinggul dan pantatnya yang paling kenyal.

Pergulatan kami semakin seru, sekarang posisi kami berbalikan laksana angka 69, kami saling menghisap puting dada. Saat aku memainkan puting dadanya yang telah mencuat, lidahnya menjilati putingku. Aku turun menjilati perutnya, kurasakan pun perutku dijilati dan kesudahannya lidah kami saling menghisap kemaluan.

Aku menikmati hangat di kepala senjataku ketika lidahku menari-nari mencari celah kemaluannya, lidahku semakin dalam masuk ke dalam celah kewanitaannya yang sudah basah, kuhisap klitorisnya kuat-kuat, kurasakan tubuhnya bergetar hebat.

Lima belas menit telah kami saling menghisap, nafsuku yang telah di ubun-ubun menuntut penyelesaian. Segera aku mengembalikan tubuhku. Kini kami pulang saling melumat bibir, sedangkan senjataku yang telah basah oleh liurnya kuarahkan ke celah pahanya, sekuat tenaga aku mendorongnya tetapi sulit sekali. Tubuh kami telah bersimbah peluh.

Akhirnya tak sabar tangan Bella beri panduan senjataku, sesudah sampai di pintu kemaluannya, kutekan kuat, Bella membuka pahanya lebar-lebar dan senjataku melesak ke dalam kemaluannya. Kepala senjataku telah berada di dalam celahnya, hangat dan menggigit. Kutahan pantatku, aku merasakan remasan kemaluannya di batanganku. Perlahan kutekan pantatku, senjataku amblas sedalam-dalamnya. Gigi Bella yang runcing tertancap di lenganku ketika aku mulai menaikturunkan pantatku dengan gerakan teratur.

Remasan dan gigitan liang kewanitaannya di semua batang senjataku terasa paling nikmat. Kubalikan tubuhnya, sekarang tubuh Bella menghadap ke samping. Senjataku menghujam semakin dalam, kuangkat sebelah kakinya ke pundakku. Batang senjataku amblas hingga mentok di mulut rahimnya. Puas dari samping, tanpa menarik keluar senjataku, kuangkat tubuhnya, dengan gerakan lentur kini aku menghajarnya dari belakang.

Tanganku meremas bongkahan pantatnya dengan kuat, sedangkan senjataku terbit masuk semakin cepat. Erangan dan rintihan yang tak jelas tersiar lirih, menciptakan semangatku semakin bertambah. Ketika kurasakan terdapat yang mau terbit dari kemaluanku, segera kucabut senjataku. “Pllop..” tersiar suara ketika senjataku kucabut, mungkin sebab ketatnya lubang kemaluan Bella mencengkram senjataku. “Achh, mengapa Gal.. aku tidak banyak lagi”, protes Bella.

Dia langsung mendorong tubuhku, sekarang aku telentang di bawah, dengan sigap Bella meraih senjataku dan memasukkannya ke dalam lubang sorganya seraya berjongkok.

Kini Bella dengan buasnya menaikturunkan pantatnya, sedangkan aku di bawah telah tak mampu rasanya menyangga nikmat yang kuterima dari gerakan Bella, lagipula saat pinggulnya seraya naik-turun digoyangkan pun diputar-putar, aku bertahan sekuat mungkin.

Satu jam telah berlalu, kulihat Bella semakin cepat bergerak, cepat sampai akhirnya aku menikmati semburan hangat di senjataku ketika tubuhnya bergetar dan mulutnya meracau panjang. “Oh.. aku puas Gal, paling puas..” tubuhnya tengkurap di atas tubuhku, tetapi senjataku yang telah berdenyut-denyut belum tercabut dari kemaluannya. Kurasakan buah dadanya yang montok mengurangi tubuhku seirama dengan tarikan nafasnya.

Setelah sejumlah saat, aku sudah menikmati air maniku tidak jadi keluar, segera kubalikkan tubuhnya kembali. Kini dengan gaya konvensional aku mengupayakan meraih puncak kenikmatan, kemaluannya yang agak basah tidak meminimalisir kenikmatan.

Aku terus menggerakkan tubuhku. Perlahan gairahnya pulang bangkit, terlebih ketika batang senjataku mengorek-ngorek lubang kemaluannya kadang tidak banyak kuangkat pantatku supaya G-spotnya tersentuh. Kini pinggul Bella yang seksi mulai bergoyang seirama dengan gerakan pantatku. Jari-jarinya yang lentik mengelus dadaku, putingku dipilin-pilinnya, sampai sensasi yang kurasakan tambah gila.

Setengah jam telah aku bertahan dengan gaya konvensional. Perlahan aku mulai menikmati cairanku telah kembali ke ujung kepala senjataku. Saat gerakanku telah tak beraturan lagi, berbarengan dengan hisapan Bella pada putingku dan pitingan kakinya di pinggangku, kusemprotkan air maniku ke dalam kemaluannya, kami berbarengan orgasme.

Sejak kejadian itu, kami tidak jarang melakukannya. Aku baru tahu bahwa gairahnya paling tinggi, sekitar ini dia bersikap alim, sebab tidak inginkan sembarangan main dengan cowok. Dia inginkan denganku sebab aku sabar, baik dan tidak memburu kekayaannya. Apalagi begitu dia tahu bahwa senjataku dua kali lipat mantan suaminya, tambah lengket saja. Memang yang kukejar hanyalah kesenangan dunia yang didasari Cinta. Kalau harta sih, terdapat sukur, nggak terdapat ya.. cari dong.

 

 

Related Post