Lampiaskan Birahiku Dengan Om Bisma Yang Bikin Nafsu - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
1585
post-template-default,single,single-post,postid-1585,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,no_animation_on_touch,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
cerita hot

Lampiaskan Birahiku Dengan Om Bisma Yang Bikin Nafsu

Usiaku masih muda dimana yang ke 18 tahun dengan tinggi 169 cm berat 53 kg dan kulit putihku yang halus, perkenalkan namaku Heni, kebanyakan di keluargaku mempunyai badan yang ramping ramping dan seksi jadi aku juga tidak bingung kalau makan banyak, oya disini aku inign berbagi cerita yang mana saat pulang dari latihan cherers di sekolah.

Aku disuruh ayah untuk menghantarkan sebuah laporan ke rumahnya Om Bisma, jarak antara rumahku dan om Bisma hanya beberapa komplek dari rumah kami, Om Bisma sudah tua umurnya seperti umur bapak saya.

Tapi dibalik umurnya yang sudah tua gayanya masih seperti anak muda, jujur saja kalau dia maen kerumahku aku selalu melihat dia terus, karena memang aku naksir sama dia.

Walaupun rambutnya ada uban sedikit tapi malah nampak gagah bagiku, berwajah ganteng dia merupakan teman wantu kuliah jadi sangat akrab , Om Bisma juga sudah mempunyai anak tapi anaknya meneruskan studi di luar negeri, istrinya kadang pula berkegiatan di luar rumah seperti kegiatan sosial atau arisan ibu ibu.

Beberapa menit aku sudah sampai dirumahnya Om Bisma, biasanya kalau maen ke sini aku sering diaajak ayah waktu kecil, tapi setelah usiaku yang menginjak dewasa aku sudah berani untuk pergi sendiri, rumah om Bisma biasa saja kalau dilihat dai luar, tapi kalau di dalam sudah kayak bintang 5 ada kolom renang dan taman kecil.

Saat itu yang aku masih mengenakan seragam latihanku dengan rok mini dan kaos yang ketat memanggil dan memencet bel.

“ Om…. Om… Om Bisma ” ini ada tititpan dari ayah, sementara ayahku yang biasa sendiri untuk bertemu dengan om Bisma kali ini aku diminta bantuannya untuk menghantaqrkan laporan ke Om Bisma, sebab saat ini ayahku sedang rapat diluar kota dan tidak bisa diwakilkan.

Tak lama kemudian datanglah pembantu yang menghampiriku, katanya “Bp. Bisma sedang berenang, ada yang bisa dibantu”
“iya bi ni ada laporan titipan dari ayah buat om Bisma ”
“ya sebentar tunggu dulu non aku panggil Bp. Bisma ”

Kira kira sudah 15 menit aku munggu di ruang tamunya, tapi Om Bisma atau Bibi pembantu tadi tidak datang juga aku iseng berdiri dan berjalan jalan menuju pemandangan kolam renang, tak taunya saat aku buka pintu aku melihat om Bisma sedang mengeringkan badannya dengan handuk, terlihat ada gundukan yang lumayan besar di selakangannya.

Melihat itu aku langsung jadi hormy sambil tanganku sesekali menggosok memek dan payudaraku, dengan aku menatap dia ternyata om Bisma menghadapku dengan masih tangan yang menepel di memek, Om Bisma melihat itu tersenyum dan memanggilku untuk kesana.

“Hai Heni rupanya kamu yang datang, sapa Om Bisma, gimana kabarmu, lama tak maen kerumah Om”
“a..a…akku baik om kabarnya , kabar om sendiri gimana?’

“lha kamu pasti dari sekolah ya, kok masih pakai pakaian itu?”, sambil melihat dari atas ke bawah, terlihat mata om berhenti di payudaraku dan aku melihat tonjolon di selakangannya.

“Iya Om, baru latihan cheers. Tante Sari mana Om..?” ujarku basa-basi.

“Tante Sari lagi ke Bali sama teman-temannya. Om ditinggal sendirian nih.” balas Om Bisma sambil memasang kimono di tubuhnya.

“Ooh..” jawabku dengan nada sedikit kecewa karena tidak dapat melihat tubuh atletis Om Bisma dengan leluasa lagi.
“Ke dapur yuk..!”

“Kamu mau minum apa Heni..?” tanya Om Bisma ketika kami sampai di dapur.

“Air putih aja Om, biar awet muda.” jawabku asal.

Sambil menunggu Om Bisma menuangkan air dingin ke gelas, aku pindah duduk ke atas meja di tengah-tengah dapurnya yang luas karena tidak ada bangku di dapurnya.

“Duduk di sini boleh yah Om..?” tanyaku sambil menyilangkan kaki kananku dan membiarkan paha putihku makin tinggi terlihat.

“Boleh kok Heni.” kata Om Bisma sambil mendekatiku dengan membawa gelas berisi air dingin.

Namun entah karena pandangannya terpaku pada cara dudukku yang menggoda itu atau memang beneran tidak sengaja, kakinya tersandung ujung keset yang berada di lantai dan Om Bisma pun limbung ke depan hingga menumpahkan isi gelas tadi ke baju dan rokku.

“Aaah..!” pekikku kaget, sedang kedua tangan Om Bisma langsung menggapai pahaku untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

“Aduh.., begimana sih..? Om nggak sengaja Heni. Maaf yah, baju kamu jadi basah semua tuh. Dingin nggak airnya tadi..?” tanya Om Bisma sambil buru-buru mengambil lap dan menyeka rok dan kaosku.

Aku yang masih terkejut hanya diam mengamati tangan Om Bisma yang berada di atas dadaku dan matanya yang nampak berkonsentrasi menyeka kaosku. Putingku tercetak semakin jelas di balik kaosku yang basah dan hembusan napasku yang memburu menerpa wajah Om Bisma.

“Om.. udah Om..!” kataku lirih.

Dia pun menoleh ke atas memandang wajahku dan bukannya menjauh malah meletakkan kain lap tadi di sampingku dan mendekatkan kembali wajahnya ke wajahku dan tersenyum sambil mengelus rambutku.

“Kamu cantik, Heni..” ujarnya lembut.

Aku jadi tertunduk malu tapi tangannya mengangkat daguku dan malahan menciumku tepat di bibir. Dengan refleks memejamkan mata dan Om Bisma kembali menciumku tapi sekarang lidahnya mencoba mendesak masuk ke dalam mulutku. ingin sekali menolak rasanya, tapi dorongan dari dalam tidak dapat berbohong.

Namun malah balas melumat bibirnya dan tanganku meraih pundak Om Bisma, sedang tangannya sendiri meraba-raba pahaku dari dalam rokku yang makin terangkat hingga terlihat jelas celana dalam dan selangkanganku.

Ciumannya makin buas, dan kini Om Bisma turun ke leher dan menciumku di sana. Sambil berciuman, tanganku meraih pengikat kimono Om Bisma dan membukanya. Tanganku menelusuri dadanya yang bidang dan bulu-bulunya yang lebat, kemudian mengecupnya lembut.

Sementara itu tangan Om Bisma juga tidak mau kalah bergerak mengelus celana dalamku dari luar, kemudian ke atas lagi dan meremas payudaraku yang sudah gatal sedari tadi.

Aku melenguh agak keras dan Om Bisma pun makin giat meremas-remas dadaku yang montok itu. Perlahan dia melepaskan ciumannya dan aku membiarkan dia melepas kaosku dari atas. Kini aku duduk hanya mengenakan bra hitam dan rok cheersku itu.

Om Bisma memandangku tidak berkedip. Kemudian dia bergerak cepat melumat kembali bibirku dan sambil french kissing, tangannya melepas kaitan bra-ku dari belakang dengan tangannya yang cekatan.

Kini dadaku benar-benar telanjang bulat. Aku masih merasa aneh karena baru kali ini aku telanjang dada di depan pria yang bukan pacarku. Om Bisma mulai meremas kedua payudaraku bergantian dan aku memilih untuk memejamkan mata dan menikmati saja.

Tiba-tiba aku merasa putingku yang sudah tegang akibat nafsu itu menjadi basah, dan ternyata Om Bisma sedang asyik menjilatnya dengan lidahnya yang panjang dan tebal. Uh.., jago sekali dia melumat, mencium, menarik-narik dan menghisap-hisap puting kiri dan kananku.

Tanpa kusadari, aku pun mengeluarkan erangan yang lumayan keras, dan itu malah semakin membuat Om Bisma bernafsu.

“Oom.. aah.. aah..!”

“Heni, kamu kok seksi banget sih..? Om suka banget sama badan kamu, bagus banget. Apalagi ini..” godanya sambil memelintir putingku yang makin mencuat dan tegang.

“Ahh.., Om.. gelii..!” balasku manja.

“Sshh.. jangan panggil ‘Om’, sekarang panggil ‘Bisma’ aja ya, Heni. Kamu kan udah gede..” ujarnya.

“Iya deh, Om.” jawabku nakal dan Om Bisma pun sengaja memelintir kedua putingku lebih keras lagi.

“Eeeh..! Om.. eh Bisma.. geli aah..!” kataku sambil sedikit cemberut namun dia tidak menjawab malahan mencium bibirku mesra.

Entah kapan tepatnya, Om Bisma berhasil meloloskan rok dan celana dalam hitamku, yang pasti tahu-tahu aku sudah telanjang bulat di atas meja dapur itu dan Om Bisma sendiri sudah melepas celana renangnya, hanya tinggal memakai kimononya saja.

Kini Om Bisma membungkuk dan jilatannya pindah ke selangkanganku yang sengaja kubuka selebar-lebarnya agar dia dapat melihat isi vaginaku yang merekah dan berwarna merah muda.

Kemudian lidah yang hangat dan basah itu pun pindah ke atas dan mulai mengerjai klitorisku dari atas ke bawah dan begitu terus berulang-ulang hingga aku mengerang tidak tertahan.

“Aeeh.. uuh.. Bisma .. aawh.. ehh..!”

Aku hanya dapat mengelus dan menjambak rambut Om Bisma dengan tangan kananku, sedang tangan kiriku berusaha berpegang pada atas meja untuk menopang tubuhku agar tidak jatuh ke depan atau ke belakang.

Badanku terasa mengejang serta cairan vaginaku terasa mulai meleleh keluar dan Om Bisma pun menjilatinya dengan cepat sampai vaginaku terasa kering kembali. Badanku kemudian direbahkan di atas meja dan dibiarkannya kakiku menjuntai ke bawah.

Sedang Om Bisma melebarkan kedua kakinya dan siap-siap memasukkan penisnya yang besar dan sudah tegang dari tadi ke dalam vaginaku yang juga sudah tidak sabar ingin dimasuki olehnya.

Perlahan Om Bisma mendorong penisnya ke dalam vaginaku yang sempit dan penisnya mulai menggosok-gosok dinding vaginaku. Rasanya benar-benar nikmat, geli, dan entah apa lagi, pokoknya aku hanya memejamkan mata dan menikmati semuanya.

“Aawww.. gede banget sih Bisma..!” ujarku karena dari tadi Om Bisma belum berhasil juga memasukkan seluruh penisnya ke dalam vaginaku itu.

“Iyah.., tahan sebentar yah Sayang, vagina kamu juga sempitnya.. ampun deh..!”

Aku tersenyum sambil menahan gejolak nafsu yang sudah menggebu.

Akhirnya setelah lima kali lebih mencoba masuk, penis Om Bisma berhasil masuk seluruhnya ke dalam vaginaku dan pinggulnya pun mulai bergerak maju mundur. Makin lama gerakannya makin cepat dan terdengar Om Bisma mengerang keenakan.

“Ah naya enak Heni.. aduuh..!”

“Iii.. iyaa.. Om.. enakk.. ngentott.. Om.. teruss.. eehh..!” balasku sambil merem melek keenakan.

Om Bisma tersenyum mendengarku yang mulai meracau ngomongnya. Memang kalau sudah begini biasanya keluar kata-kata kasar dari mulutku dan ternyata itu membuat Om Bisma semakin nafsu saja.

“Awwh.. awwh.. aah..!” orgasmeku mulai lagi.

Tidak lama kemudian badanku diperosotkan ke bawah dari atas meja dan diputar menghadap ke depan meja, membelakangi Om Bisma yang masih berdiri tanpa mencabut penisnya dari dalam vaginaku. Diputar begitu rasanya cairanku menetes ke sela-sela paha kami dan gesekannya benar-benar nikmat.

Kini posisiku membelakangi Om Bisma dan dia pun mulai menggenjot lagi dengan gaya doggie style. Badanku membungkuk ke depan, kedua payudara montokku menggantung bebas dan ikut berayun-ayun setiap kali pinggul Om Bisma maju mundur.

Aku pun ikut memutar-mutar pinggul dan pantatku. Om Bisma mempercepat gerakannya sambil sesekali meremas gemas pantatku yang semok dan putih itu, kemudian berpindah ke depan dan mencari putingku yang sudah sangat tegang dari tadi.

“Awwh.. lebih keras Om.. pentilnya.. puterr..!” rintihku dan Om Bisma serta merta meremas putingku lebih keras lagi dan tangan satunya bergerak mencari klitorisku.

Kedua tanganku berpegang pada ujung meja dan kepalaku menoleh ke belakang melihat Om Bisma yang sedang merem melek keenakan. Gila rasanya tubuhku banjir keringat dan nikmatnya tangan Om Bisma di mana-mana yang menggerayangi tubuhku.

Putingku diputar-putar makin keras sambil sesekali payudaraku diremas kuat. Klitorisku digosok-gosok makin gila, dan hentakan penisnya keluar masuk vaginaku makin cepat. Akhirnya orgasmeku mulai lagi.

Bagai terkena badai, tubuhku mengejang kuat dan lututku lemas sekali. Begitu juga dengan Om Bisma, akhirnya dia ejakulasi juga dan memuncratkan spermanya di dalam vaginaku yang hangat.

“Aaah.. Heniiiii..!” erangnya.

Om Bisma melepaskan penisnya dari dalam vaginaku dan aku berlutut lemas sambil bersandar di samping meja dapur dan mengatur napasku. Om Bisma duduk di sebelahku dan kami sama-sama masih terengah-engah setelah pertempuran yang seru tadi.

“Sini Om..! Heni bersihin sisanya tadi..!” ujarku sambil membungkuk dan menjilati sisa-sisa cairan cinta tadi di sekitar selangkangan Om Bisma.

Om Bisma hanya terdiam sambil mengelus rambutku yang sudah acak-acakan. Setelah bersih, gantian Om Bisma yang menjilati selangkanganku, kemudian dia mengumpulkan pakaian seragamku yang berceceran di lantai dapur dan mengantarku ke kamar mandi.

Setelah mencuci vaginaku dan memakai seragamku kembali, aku keluar menemui Om Bisma yang ternyata sudah memakai kaos dan celana kulot, dan kami sama-sama tersenyum.

“Heni, Om minta maaf yah malah begini jadinya, kamu nggak menyesal kan..?” ujar Om Bisma sambil menarik diriku duduk di pangkuannya.

“Enggak Om, dari dulu Heni emang senang sama Om, menurut naya Om itu temen ayah yang paling ganteng dan baik.” pujiku.

“Makasih ya Sayang, ingat kalau ada apa-apa jangan segan telpon Om yah..?” balasnya.

“Iya Om, makasih juga yah permainannya yang tadi, Om jago deh.”

“Iya Heni, kamu juga. Om aja nggak nyangka kamu bisa muasin Om kayak tadi.”

“He.. he.. he..” aku tersipu malu.

“Oh iya Om, ini titipannya ayah hampir lupa.” ujarku sambil buru-buru menyerahkan titipan ayah pada Om Bisma.

“Iya, makasih ya Heni sayang..” jawab Om Bisma sambil tangannya meraba pahaku lagi dari dalam rokku.

“Aah.. Om, Heni musti pulang nih, udah sore.” elakku sambil melepaskan diri dari Om Bisma.

Perlakuan om Bisma dengan dia mencium bibirku, dan menghantarku ke mobil yang parkir diluar,

Sopirku rupanya menunggu terlalu lama , lhoo kok lama banget non di dalam cuman nganter laporan saja kan???

“hehe iya pak om Bisma juga ngasih cerita kepadaku jadi lama jadinya kita ngobrolnya”

Begitulah ceritaku yang aku alami dengan om Bisma.

Related Post