Menikmati Jeritan Tante Ayu Yang Masih Sempit - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
5990
post-template-default,single,single-post,postid-5990,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,no_animation_on_touch,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita Hot

Menikmati Jeritan Tante Ayu Yang Masih Sempit

Aq mendapat cerita yang asyk dan tak dapat terlupakan sebenarnya kisah tersebut terjadi kira kira 1 tahun yang kemudian tapi rasanya baru kemarin aq rasakan, kisah ini berkisah mengenai istri dari pamanku dimana pamanku baru saja menggelar pernikahannya walaupun dapat dikata telat, sebab umurnya suah rada tua.

Pamanku terbilang orang sukses sebab dalam bisnisnya lancer semua, barangkali sebab tersebut pamanku sibuk ke bisnisnya hingga lupa pendamping hidupnya, sudah dianjurkan kepada keluarganya dan dipilihakn perempuan tapi tidak jarang kali saja terdapat pertimbangan yang eksklusif dari paman sendiri, mohon ini minta tersebut dan pada suatu ketika paman membawa wanita yang paling cantik.

Namanya Ayu laksana namanya dia pun cantik, tak cantik pula dia pun supel untuk kami, dia berusia 24 tahun dan saat tersebut ia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan rekan pamanku itu.

Kemudian kami bercakap-cakap, ternyata Ayu memang enak untuk disuruh ngobrol. Dan aq menyaksikan sepertinya pamanku tertarik sekali dengannya, sebab aq tahu matanya tidak pernah lepas memandang wajah Ayu.

Baca Juga: Ngentot Dengan Kakak Perempuanku

Tapi tidak demikian halnya dengan Ayu. Ia lebih tidak jarang memandangku, terutama saat aq berbicara, tatapannya dalam sekali, seakan-akan dapat menjebol pikiranku. Aq mulai beranggapan jangan-jangan Ayu lebih menyukaiku.

Tapi aq tidak dapat bercita-cita banyak, soalnya bukan aq yang berkeinginan dijodohkan. Tapi aq tetap saja memandangnya saat ia sedang berbicara, kupandangi dari ujung rambut ke kaki, rambutnya panjang laksana gadis di iklan sampo, kulitnya putih bersih, kakinya pun putih mulus, tapi kelihatannya dadanya agak rata, namun aq tidak terlampau memikirkannya.

Tidak terasa hari telah mulai malam. Kemudian sebkamum mereka pulang, pamanku mentraktir mereka santap di suatu restoran chinese food di sekitar rumahnya di wilayah Sunter. Ketika hingga di restorant tersebut, aq langsung pergi ke wc dulu sebab aq telah kebelet. Sebkamum aq memblokir pintu, tiba-tiba terdapat tangan yang menyangga pintu tersebut. Ternyata ialah Ayu.

“Eh, terdapat apa Yu?”

“Enggak, aq pengen kasih kartu nama aq, kelak jangan tak sempat telpon aq, terdapat yang inginkan aq omongin, oke?”

“Kenapa enggak kini aja?”

“Jangan, terdapat paman kamu, pokoknya kelak jangan lupa.”

Setelah acara santap malam itu, aq pun kembali ke lokasi tinggal dengan seribu satu pertanyaan di otakku, apa yang inginkan diomongin sama Ayu sih. Tapi aq tidak inginkan pikir panjang lagi, apalagi nanti aq bisa-bisa sulit tidur, soalnya kan kelak harus masuk kerja.

Besoknya ketika istirahat santap siang, aq meneleponnya dan bertanya langsung padanya.

“Eh, apa sih yang mau anda omongin, aq penasaran banget?”

“Eeee, penasaran ya, Ton?”

“Iya lah, mari dong buruan!”

“Eh, slow aja lagi, napsu amet sih kamu.”

“Baru tahu yah, napsu aq emang tinggi.”

“Napsu yang mana nih?” Ayu kelihatannya memancingku.

“Napsu santap dong, aq kan bkamum sempat santap siang!”

Aq sempat emosi pun rasanya, kelihatannya ia tidak tahu aq ini orang yang paling menghargai waktu, khususnya jam santap siang, soalnya aq sambil santap dapat sekaligus main internet di lokasi kerjaq, sebab saat tersebut pasti bosku pergi santap kkamuar, jadi aq bebas surfing di internet, cuma-cuma lagi.

“Yah udah, aq cuma inginkan bilang dapat enggak anda ke apartment aq senja ini abis kembali kerja, soalnya aq pengen ngobrol tidak sedikit sama kamu.”

Aq tidak berakhir pikir, nih orang mengapa tidak bilang kemarin saja.

Lalu kataq, “Kenapa enggak kemarin aja bilangnya?”

“Karena aq inginkan kasih surprise bikin kamu.” katanya manja.

“Ala, gitu aja pake surprise segala, yah udah entar aq ke lokasi kamu, kira-kira jam 6, alamat anda di mana?”

Lalu Ayu bilang, “Nih catet yah, apartment XXX (edited), lantai XX (edited), pintu no. XXX (edited), tidak boleh lupa yah!””Oke deh, tunggu aja nanti, bye!”

“Bye-bye Ton.”

Setelah telepon terputus, kemudian aq mulai menginginkan apa yang bakal dibicarakan, lalu benak nakalku mulai bekerja. Apa dapat aq menyentuhnya nanti, namun langsung aq beranggapan tentang pamanku, bagaimana bila nanti ketahuan, tentu tidak enak dengan pamanku. Lalu aq juga mulai terbenam dalam kegiatan pekerjaanku.

Tidak lama juga waktu sudah mengindikasikan pukul 17.00, telah waktunya nih, pikirku. Lalu aq juga mulai mengemudikan motorku ke tempatnya. Lumayan dekat dari lokasi kerjaq di Roxymas. Sesampainya di sana, aq juga langsung menaiki lift ke lantai yang diberitahukan. Begitu hingga di lantai tersebut, aq juga langsung melihatnya sedang membuka pintu ruanganya.

Langsung saja kutepuk pundaknya, “Hai, baru sampe yah, Yu..”

Ayu tersentak kaget, “Wah aq kira siapa, pake tepuk segala.”

“Kamu khan kasih surprise bikin aq, jadi aq pun mesti kasih surprise pun buat kamu.”

Lalu ia mencubit lenganku, “Nakal anda yah, awas nanti!”

Kujawab saja, “Siapa taqt, emang aq pikirin!”

“Ayo masuk Ton, santai aja, anggap aja lokasi tinggal sendiri.” katanya sesudah pintunya terbuka.

Ketika aq masuk, aq langsung terpana dengan apa yang terdapat di dalamnya, kulihat temboknya bertolak belakang dengan tembok lokasi tinggal orang-orang pada umumnya, temboknya dilukis dengan gambar-gambar pemandangan di luar negeri. Dia kelihatannya orang yang berjiwa seniman, pikirku. Tapi hebat pun kalau hanya kerja sebagai sekretaris dapat menyewa apartment. Jangan-jangan ini cewek simpanan, pikirku.

Sambil aq berkeliling, Ayu berkata, “Mau minum apa Ton?”

“Apa saja lah, asal bukan racun.” kataq bercanda.

“Oh, bila gitu nanti saya campurin obat istirahat deh.” kata Ayu seraya tertawa.

Sementara ia sedang menciptakan minuman, mataq secara tidak sengaja tertuju pada rak VCD-nya, saat kulihat satu persatu, ternyata lebih tidak sedikit film yang berbau porno. Aq tidak sadar saat ia telah kembali, tahu-tahu ia nyeletuk, “Ton, kalo anda mau nonton, setel aja langsung..!”

Aq tersentak saat ia ngomong laksana itu, kemudian kubilang, “Apa aq enggak salah denger nih..?”

Lalu katanya, “Kalo anda merasa salah denger, yah aq setelin aja kini deh..!”

Lalu ia pun memungut sembarang film lantas disetelnya. Wah, tak waras juga nih cewek, pikirku, apa ia tidak tahu bila aq ini laki-laki, baru kenal sehari saja, telah seberani ini.

“Duduk sini Ton, jangan takjub aja, khan udah aq bilang anggap aja lokasi tinggal sendiri..!” kata Ayu seraya menepuk sofa menyuruhku duduk.

Kemudian aq juga duduk dan nonton di sampingnya, agak lama kami terdiam menonton film panas itu, hingga akhirnya aq juga buka mulut, “Eh Yu, tadi di telpon anda bilang inginkan ngomong sesuatu, apa sih yang mau anda ngomongin..?”

Ayu tidak langsung ngomong, namun ia lantas menggenggam jemariku, aq tidak menyangka bakal tindakannya itu, namun aq juga tidak berjuang untuk melepaskannya.

Agak lama lantas baru ia ngomong, pelan sekali, “Kamu tau Ton, semenjak kemarin bertemu, kayaknya aq merasa pengen menatap anda terus, ngobrol terus. Ton, aq suka sama kamu.”

“Tapi khan kemarin kamu diluncurkan ke Paman aq, apa anda enggak merasa kalo kamu tersebut dijodohin ke Paman aq, apa anda enggak lihat reaksi Paman aq ke kamu..?”

“Iya, namun aq enggak inginkan dijodohin sama Paman kamu, soalnya umurnya aja lain jauh, aq pikir-pikir, mengapa hari tersebut bukannya anda aja yang dijodohin ke aq..?” kata Ayu seraya mendesah.

Aq juga menjawab, “Aq sebenarnya pun suka sama kamu, namun aq enggak enak sama Paman aq, entar dikiranya aq tidak cukup ajar sama yang lebih tua.”

Ayu diam saja, demikian pun aq, sementara tersebut film semakin meningkat panas, namun Ayu tidak mencungkil genggamannya.

Lalu secara tidak sadar benak pornoku mulai bekerja, soalnya kupikir kini kan tidak terdapat orang beda ini. Lalu mulai kuusap-usap tangannya, kemudian ia menoleh padaq, kutatap matanya dalam-dalam, sambil berbicara dengan pelan, “Ayu, aq cinta kamu.”

Ia tidak menjawab, namun memejamkan matanya. Kupikir ini saatnya, kemudian pelan-pelan kukecup bibirnya seraya lidahku menerobos bertemu lidahnya. Ayu juga lalu membalasnya seraya memkamukku erat-erat.

Tanganku tidak bermukim diam berjuang untuk meraba-raba buah dadanya, ternyata agak besar juga, walaupun tidak sebesar punyanya bintang film porno. Ayu menggeliat laksana cacing kepanasan, mendesah-desah merasakan rangsangan yang diterima pada buah dadanya.

Kemudian aq berjuang membuka satu persatu kancing bajunya, kemudian kuremas-remas payudara yang masih terbungkus BRA itu.

“Aaaaahhh, buka aja BH-nya Ton, cepat.., oohh..!”

Kucari-cari pengaitnya di belakang, kemudian kubuka. Wah, ternyata cukup juga, masih padat dan kencang, walaupun tidak begitu besar. Langsung kusedot-sedot putingnya laksana anak bayi kehausan.

“Esshh.. ouww.. aduhh.. Ton.. nikmat sekali lidahmu.., teruss..!”

Setelah jenuh dengan payudaranya, kemudian kubuka skamuruh pakaiannya hingga bugil total. Ia pun tidak inginkan kalah, lalu mencungkil semua yang kukenakan. Bagi sesaat kami saling berpandangan mengagumi keindahan masing-masing. Lalu ia unik tanganku mengarah ke ke kamarnya, namun aq mencungkil pegangannya kemudian menggendongnya dengan kedua tanganku.

“Aouww Ton, anda romantis sekali..!” katanya seraya kedua tangannya menggelayut manja melingkari leherku.

Kemudian kuletakkan Ayu pelan-pelan di atas ranjangnya, kemudian aq menindih tubuhnya dari atas, guna sesaat mulut kami saling pagut memagut dengan mesranya seraya berpkamukan erat. Lalu mulutku mulai turun ke buah dadanya, kujilat-jilat dengan lembut, Ayu mendesah-desah nikmat. Tidak lama aq bermain di dadanya, mulutku pelan-pelan mulai menjilati turun ke perutnya, Ayu menggeliat kegelian.

“Aduh Ton, anda ngerjain aq yah, awas anda nanti..!”

“Tapi anda suka khan? Geli-geli nikmat..!”

“Udah ah, jilati aja memek aq Ton..!”

“Oke boss.., siap laksanakan perintah..!”

Langsung saja kubuka paha lebar-lebar, tanpa menantikan lagi langsung saja kujilat-jilat klitorisnya yang sebesar kacang kedele. Ayu menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan binal seakan-akan tidak inginkan kalah dengan permainan lidahku ini.

“Oohh esshhh aaouuw uuhh teeruss.., lebih dalemm, oohhh.. nikmat sekali..!”

Agak lama pun aq bermain di klitorisnya sehingga terlihat banjir di dekat vaginanya.

“Ton, masukkin aja titit anda ke lobang aq, aq udah enggak tahan lagi..!”

Dengan segera kuposisikan diriku untuk menjebol kemaluannya, tapi saat kutekan ujung penisku, ternyata tidak inginkan masuk. Aq baru tahu ternyata dia masih perawan.

“Ayu, apa anda tidak menyesal perawan anda aq tembus..?”

“Ton, aq rela bila kamu yang ngambil perawan aq, untuk aq di dunia ini hanya ada anda berdua aja.”

Tanpa ragu-ragu lagi langsung kutusuk penisku dengan kuat, rasanya laksana ada sesuatu yang robek, mungkin tersebut perawannya, pikirku.

“Aduh sakit Ton, tahan dulu..!” katanya menyangga sakit.

Aq juga diam sejenak, kemudian kucium mulutnya guna meredakan rasa sakitnya. Beberapa menit lantas ia terangsang lagi, kemudian tanpa buang masa-masa lagi kutekan pantatku sampai-sampai batang kemaluanku masuk semuanya ke dalam lubangnya.

“Pelan-pelan Ton, masih sakit nih..!” katanya meringis.

Kugoyangkan pinggulku pelan-pelan, lama kelamaan kulihat dia mulai terangsang lagi. Lalu gerakanku mulai kupercepat seraya menyedot-nyedot puting susunya. Kulihat Ayu sangat merasakan sekali permainan ini.

Tidak lama lantas ia mengejang, “Ton, aa.. aqu.. inginkan kkamuarr.., teruss.. terus.., aahh..!”

Aq juga mulai menikmati hal yang sama, “Yu, aq pun mau kkamuar, di dalam atau di luar..?”

“Kkamuarin di dalem aja Sayang… ohhh.. aahh..!” katanya seraya kedua pahanya mulai dijepitkan pada pinggangku dan terus menggoyangkan pantatnya.

Tiba-tiba dia menjerit histeris, “Oohh… sshh… sshh… sshh…”

Ternyata dia telah kkamuar, aq terus menggenjot pantatku semakin cepat dan keras sampai menyentuh ke dasar liang senggamanya.

“Sshh.. aahh..” dan, “Aagghh.. crett.. crett.. creet..!”

Kutekan pantatku sampai batang kejantananku menempel ke dasar liang kenikmatannya, dan kkamuarlah spermaq ke dalam liang surganya.

Saat terakhir air maniku kkamuar, aq juga merasa lemas. Walaupun dalam suasana lemas, tidak kucabut batang kemaluanku dari liangnya, tetapi menaikkan lagi kedua pahanya sampai dengan jelas aq dapat menyaksikan bagaimana rudalku masuk ke dalam sarangnya yang dikelilingi oleh bulu kemaluannya yang menggoda. Kubelai bulu-bulu tersebut sambil sesekali menyentuh klitorisnya.

“Sshh.. aahh..!” melulu desisan saja yang menjadi jawaban atas perlaqanku itu.

Setelah tersebut kami berdua sama-sama lemas. Kami saling berpkamukan sekitar kira-kira satu jam seraya meraba-raba.

Lalu ia berbicara kepadaq, “Ton, mudah-mudahan kita dapat bersatu laksana ini Ton, aq paling sayang pada kamu.”

Aq diam sejenak, kemudian kubilang begini, “Aq pun sayang kamu, tapi anda mesti janji jangan meladeni paman aq kalo dia nyari-nyari kamu.”

“Oke bossss, siap laksanakan perintah..!” katanya seraya memkamukku lebih erat.

Sejak ketika itu, kami menjadi paling lengket, tiap malam minggu tidak jarang kali kami bertingkah laksana suami istri. Tidak melulu di apartmentnya, kadang aq datang ke lokasi kerjanya dan melaqkannya bareng di WC, pasti saja setelah seluruh orang telah pulang.

Kadang ia pun ke lokasi kerjaq untuk mohon jatahnya. Katanya pamanku telah tidak pernah mencarinya lagi, soalnya tiap kali Ayu ditelpon, yang menjawabnya ialah mesin penjawabnya, kemudian tak pernah dijawab Ayu, barangkali akhirnya pamanku jadi jenuh sendiri.

Aq Dengan Calon Istri Pamanku tidak jarang jalan-jalan ke Mal-Mal, untungnya tidak pernah bertemu dengan pamanku itu. Sampai ketika ini aq masih jalan bersama, tapi saat kutanya hingga kapan inginkan begini, ia tidak menjawabnya. Aq hendak sekali menikahinya, tapi kelihatannya ia bukan tipe cewek yang hendak punya kkamuarga. Tapi lama-lama kupikir, tidak apalah, yang urgen aq bisa enaknya juga.

 

 

Related Post