Pemerkosaan yang kunikmati - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
7979
post-template-default,single,single-post,postid-7979,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,no_animation_on_touch,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita Hot

Pemerkosaan yang kunikmati

Perkenalkan dulu namaku Renni. Aku memiliki wajah yang imut dengan kulit putih mulus dan body sexy. Aku baru saja lulus SMA, ini adalah pengalamanku sewaktu masih duduk di bangku kelas 1 SMU. Pada saat itu pelajaran yang diberikan oleh pak guru belum terlalu banyak, karena memang kami masih dalam tahap orientasi dari murid smp menjadi murid smu. Tak terbayang olehku dapat masuk ke smu yang masih tergolong favorit di ibu kota ini. Impianku sejak dulu adalah memakai sragam putih abu-abu karena seragam ini memiliki model rok yang lebih membuatku kelihatan seksi. Di antara teman-teman baruku ada seorang cowok yang amat menarik perhatianku, sebut saja namanya Galih. Membayangkan wajahnya saja bisa membuatku terangsang. Aku sering melakukan masturbasi sambil membayangkan Galih. Walaupun sering bermasturbasi tapi saat itu aku belum pernah bercinta atau ngentot, bahkan petting juga belum. Entah setan apa yang masuk ke dalam otakku hari itu karena aku berencana untuk menyatakan cinta kepada Galih. Maka saat istirahat aku memanggil Galih. “Gal, gua gak tau gimana ngomongnya” Aku benar-benar kalut saat itu ingin mundur tapi sudah telat. “Gal gua sayang sama elo, lo mau kan jadi cowo gw?” Aku merasa amat malu saat itu, rasanya seperti ditelanjangi di kelas (paling tidak sampai SEKARANG aku masih memakai seragam lengkap).

Galih hanya tersenyum, “nanti aja ya gua jawabnya pas pulang.” Selama jam pelajaran pikiranku tak menentu, “gimana kalau Galih gak mau?” dalam hatiku. “Pasti gua jadi bahan celaan!” Berbagai pertanyaan terus mengalir di otakku. Untungnya pelajaran belum begitu maksimal. Bel pulang pun berdering, jantungku berdegup cepat. Aku hanya duduk menunggu di bangku ku, aku tidak memiliki keberanian untuk menghampiri Galih dan menanyakan jawabannya. Saat kelas sudah berangsur sepi Galih menghampiriku. “Bentar ya Renn, gua dipanggil bentar,” katanya. Aku menunggu sendirian di kelas. “Jangan-jangan Galih ingin agar sekolah sepi dan mengajakku bercinta?” Kepalaku penuh pertanyaan, hingga aku sama sekali tidak dapat berpikir sehat. Dalam penantianku tiba-tiba ada orang datang. Aku kecewa karena bukan Galih yang datang melainkan Lilik dan Fandi dari kelas I-3. Mereka menghampiriku, Lilik di depanku dan Fandi di sampingku. Perlu diketahui mereka bisa dikatakan sangat jauh dari tampan, dengan kulit yang hitam dan badan yang kurus kering, aku rasa akan menyulitkan mereka untuk mendapatkan pacar di sekolah ini. “Lagi nungguin Galih ya Renn?” kata Lilik. “Kok tahu?” kataku. “Tadi Galih cerita.” Apa-apaan nih Galih pakai cerita segala dalam hatiku. “Loe suka ma Galih ya Renn?” tanya Lilik lagi. Aku cuma diam saja. “Kok diem?” kata Fandi. “Males aja jawabnya,” kataku.

Perasaan bete mulai menjalar tapi aku harus menahan karena pikirku Fandi dan Lilik adalah teman Galih. “Kok loe bisa suka ma Galih sih Renn?” tanya Fandi tapi kali ini sambil merapatkan duduknya kepadaku dan menaruh tangannya di pahaku. “Galih ganteng dan gak kurang ajar kayak lo!” sambil menepis tangannya dari pahaku. “Kurang ajar kaya gimana maksud lo?” tanya Fandi lagi sambil menaruh tangannya lagi di pahaku dan mulai mengelus-elusnya. “Ya kayak gini!” jawabku sambil menunjuk tangannya tapi tidak menepisnya karena aku mulai terangsang dan berpikir mungkin mereka disuruh Galih. “Tapi enak kan?” kali ini Lilik ikut bicara. Fandi mulai mengelus-elus pangkal pahaku. Aku pura-pura berontak padahal dalam hati aku ingin dia melanjutkannya. “Udah jangan sok berontak,” kata Lilik sambil menunjukkan cengiran lebarnya. Makin lama usapannya membuatku membuka lebar pahaku. “Tadi bilang kita kurang ajar, eh sekarang malah ngangkang. Nantangin yah?” kata Lilik. Dia menggeser bangku di depan mejaku dan mulai masuk ke kolong mejaku. Sekarang Fandi berganti mengerjai payudaraku, tangan kirinya mengusap payudara kananku sedangkan mulutnya menciumi dan menghisap payudara kiriku sehingga seragamku basah tepat di daerah payudaranya saja.

Lilik yang berada di kolong meja menjilat-jilat paha sampai pangkal pahaku dan sesekali lidahnya menyentuh vaginaku yang masih terbungkus celana dalam tipisku yang berwarna putih. Perbuatan mereka membuatku menggelinjang dan sesaat membuatku melupakan Galih. Fandi melepas kancing kemeja seragamku satu persatu dan kemudian melempar seragam itu entah kemana. Merasa kurang puas ia pun melepas dan melempar braku. Lidahnya menari-nari di putingku membuatnya menjadi semakin membesar. “Ough Fand udah dong, gimana nanti kalo ketauan,” kataku. “Tenang aja guru dah pada pulang,” kata Lilik dari dalam rokku. Sedangkan Fandi terus mengerjai kedua payudaraku memilinnya, meremas, memghisap, bahkan sesekali menggigitnya. Aku benar-benar tak berdaya saat ini, tak berdaya karena nikmat. Aku merasakan ada sesuatu yang basah mengenai vaginaku, aku rasa Lilik menjilatinya. Aku tak dapat melihatnya karena tertutupi oleh rokku. Perlakuan mereka sungguh membuatku melayang. Aku merasa kemaluanku sudah amat basah dan Lilik menarik lepas cdku dan melemparnya juga. Ia menyingkap rokku dan terus menjilati kemaluanku. Tak berapa lama aku merasa badanku menegang.

Baca Juga: Minggu Ini Penuh Sensasi

Aku sadar aku akan orgasme. Aku merasa amat malu karena menikmati permainan ini. Aku melenguh panjang, setengah berteriak. aku mengalami orgasme di depan 2 orang buruk rupa yang baru aku kenal. “Hahahaha..” mereka tertawa berbarengan. “Ternyata lo suka juga yah?” kata Fandi sambil tertawa. “Jelas lah,” sambung Lilik. “SMP dia kan dulu terkenal pecunnya,” kata-kata mereka membuat telingaku panas. Kemudian mereka mengangkatku dan menelentangkanku di lantai. Mereka membuka pakaiannya, “oh..” ini pertama kalinya aku melihat kontol secara langsung. Biasanya aku hanya melihat di film-film porno saja. Lilik membuka lebar pahaku dan menaruh kakiku di atas pundaknya. Pelan-pelan ia memasukkan kontolnya ke liang senggamaku. “Ough, sakit Lik,” teriakku. “Tenang Renn, entar juga lo keenakan,” kata Lilik. “Ketagihan malah,” sambung Fandi. Perlahan-lahan ia mulai menggenjotku, rasanya perih tapi nikmat. Sementara Fandi meraih tanganku dan menuntunnya ke kontol miliknya. Ia memintaku mengocoknya. Lilik memberi kode kepada Fandi, aku tidak mengerti maksudnya. Fandi mendekatkan kontolnya ke mulutku dan memintaku mengulumnya. Aku menjilatinya sesaat dan kemudian memasukkannya ke mulutku. “Isep kontol gua kuat-kuat Renn,” katanya.

Aku mulai menghisap dan mengocoknya dengan mulutku. Tampaknya ini membuatnya ketagihan. Ia memaju mundurkan pingangnya lebih cepat. Di saaat bersamaan Lilik menghujamkan kontolnya lebih dalam. “Mmmffhh,” aku ingin berteriak tapi terhalang oleh kontol Fandi. Rupanya arti dari kode mereka ini, agar aku tak berteriak. Aku sadar kevirginanku diambil mereka, oleh orang yang baru beberapa hari aku kenal. “Ternyata masih ada juga anak SMP SB yang masih virgin.” “Vagina cewek virgin emang paling enak,” kata Lilik. Dia menggenjotku semakin liar, dan tanpa sadar goyangan pinggulku dan hisapanku terhadap kontol Fandi juga semakin cepat. Tak lama aku orgasme untuk yang kedua kalinya. Akupun menjadi sangat lemas tapi karena goyangan Lilik, Lilik semakin liar aku pun juga tetap bergoyang dan meghisap dengan liarnya. Tak lama Lilik menarik keluar kontolnya dan melenguh panjang disusul derasnya semprotan maninya ke perutku. Ia merasa puas dan menyingkir. Sudah 45 menit aku menghisap kontol Fandi tapi ia tak kunjung orgasme juga. Ia mencabut kontolnya dari mulutku, aku pikir ia akan orgasme tapi aku salah. Ia telentang dan memintaku naik di atasnya. Aku disetubuhi dengan gaya woman on top. Aku berpegangan pada dadanya agar tidak jatuh, sedangkan Fandi leluasa meremas susuku.

Sekitar 10 menit dengan gaya ini tiba-tiba Lilik mendorongku dan akupun jatuh menindih Fandi. Lilik menyingkap rokku yang selama bergaya woman on top telah jatuh dan menutupi bagian bawahku. Ia mulai mengorek-ngorek lubang anusku. Aku ingin berontak tapi aku tidak ingin saat ini selesai begitu saja. Jadi aku biarkan ia mengerjai liang duburku. Tak lama aku yang sudah membelakanginya segera ditindih. Kontolnya masuk ke dalam anusku dengan ganas dan mulai mengaduk-aduk duburku. Tubuhku betul-betul terasa penuh. Aku menikmati keadaan ini. Sampai akhirnya ia mulai memasukkan penuh kontolnya ke dalam anusku. Aku merasakan perih dan nikmat yang tidak karuan. Jadilah aku berteriak-teriak sekeras-kerasnya. Aku yang kesakitan tidak membuat mereka iba tetapi malah semakin bersemangat menggenjotku. Sekitar 15 menit mereka membuatku menjadi daging roti lapis dan akhirnya aku orgasme lagi untuk yang kesekian kalinya. Kali ini aku berteriak amat keras dan kemudian jatuh lemas menindih Fandi. Saat itu penjaga sekolah masuk tanpa aku sadar dan menonton aku yang sedang dikerjai 2 orang biadab ini. Goyangan mereka semakin buas menandakan mereka akan segera orgasme. Aku yang sudah lemas hanya bisa pasrah saja menerima semua perlakuan ini.

Tak lama mereka berdua memelukku dan melenguh panjang mereka menyemprotkan maninya di dalam kedua liangku. Aku dapat merasakan cairan itu mengalir keluar karena vaginaku tidak cukup menampungnya. Mereka mencabut kedua kontol mereka. Aku yang lemas dan hampir pingsan langsung tersadar begitu mendengar Fandi berkata, “nih giliran pak Maman ngerasain Renn.” Aku melihat penjaga sekolah itu telah telanjang bulat dan kontolnya yang lebih besar dari Fandi dan Lilik dengan gagahnya mengangkangiku seakan menginginkan lubang untuk dimasuki. Dia menuntun kontolnya ke mulutku untuk kuhisap. Aku kewalahan karena ukurannya yang sangat besar. Melihat aku kewalahan tampaknya ia berbaik hati mencabutnya. Tetapi sekarang ia malah membuatku menungging. Ia mengorek-ngorek kemaluanku yang sudah basah sehingga makin lama akupun mengangkat pantatku. Aku sungguh takut ia menyodomiku. Akhirnya aku bisa sedikit lega saat kontolnya menyentuh bibir kemaluanku. Dua jarinya membuka vaginaku sedangkan kontolnya terus mencoba memasukinya. Entah apa yang aku pikirkan, aku menuntun kontolnya masuk ke vaginaku. Ia pun mulai menggoyangnya perlahan. Aku secara tak sadar mengikuti irama dari goyangannya. Rokku yang tersingkap dibuka kancingnya dan dinaikkannya sehingga ia melepas rok abu-abuku melalui kepalaku.

Saat ini aku telah telanjang bulat. Tangannya meremas payudaraku dan terus menggerayangi tubuhku. Di saat-saat kenikmatan ini, aku tak sengaja menoleh dan melihat Galih duduk di pojok. Dewi teman sebangkuku mengoralnya dan yang lebih mengagetkan lagi, ia memegang handycam dan itu mengarah ke diriku. Aku kesal tapi terlalu horny untuk berontak. Akhirnya aku hanya menikmati persenggamaan ini sambil direkam oleh orang yang aku sukai. Pak Maman semakin ganas meremas dadaku dan gerakannya pun semakin cepat. Tapi entah kenapa dari tadi aku selalu lebih dulu orgasme dibandingkan mereka. Aku berteriak panjang dan disusul pak Maman yang menjambak rambutku kemudian mencabut kontolnya dan menyuruhku menghisapnya. Ia berteriak tak karuan, menjambakku, meremas-remas dadaku sampai akhirnya ia menembakkan maninya di mulutku. Terdengar entah Lilik, Fandi, atau Galih yang berteriak telan semuanya. Aku pun menelannya. Mereka meninggalkanku yang telanjang di kelas sendirian. Setelah mereka pergi, aku menangis sambil mencari-cari seragamku yang mereka lempar dan berserakan di ruang kelas. Aku menemukan braku telah digunting tepat di bagian putingnya dan aku menemukan celana dalamku di depan kelas telah dirobek-robek, sehingga aku pulang tanpa celana dalam dan BH yang robek bagian putingnya.

Related Post