Penjual Memek Wanita Panggilan - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
1432
post-template-default,single,single-post,postid-1432,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
cerita hot

Penjual Memek Wanita Panggilan

Dari Mall belok kanan sesudah pompa bensin belok kiri (tepat di depan komplek ABRI) kemudian belok kiri sesudah melewati markas abri, tak jauh dari situ perhatikan sebelah kanan tepat disebelah toko furniture terdapat PPT dengan nama SW (Spesial Wanita).

Parkirnya ada di dalam (tetapi kalau mau parkir di depan juga boleh koq), tampak ada lima mobil &  empat motor, berarti kurang lebih ada sembilan tamu (padahal kamar biasa ada sembilan kamar &  vip ada tujuh / kalau nggak salah / diketahui sesudah pulangnya – aku nggak pernah ke kamar vip ; baca cerita di bawah ini kenapa koq pilih yangbiasa – beda dengan di SM (Spesial Masturbasi) sebaiknya pilih VIP).

Karena aku sudah pesan mbak Ixxxx dengan mbak yxxx melalui telpon xxx5084, jadi tak ada masalah dengan Wp-nya, saat nama mbak Ixxxx dipanggil melalui intercom, aku menuju ke meja resepsionis (biasa prieview dulu sebelum print) untuk melihat apakah ada nama-nama baru, siapa saja yang lagi bertugas, &  siapa yang sudah dalam pesanan(perhatikan bentuk &  logo plastic nama yang tertera di meja resepsionis sama persis dengan yang di SM, begitupula dengan peletakan WP yang tunggu, sudah dipesan, &  sedang kerja, sama dengan di SM – hanya beda nama WP/bahkan ada satu dua nama yang sama – artinya ada kemungkinan PPT ini satu group (walaupun nama sama yang pasti orangnya berbeda, misalnya di SM tingkatannya x persegi, di sini tingkatannya x kubik, &  tak diperbolehkan WP pindah PPT dengan tingkat di bawahnya / naik boleh – ada satu lagi PPT di daerah depan bank Bali jakarta selatan yang merupakan bagian group ini dengan tingkatan x kubkik+ dengan nama Marisini – yang ini notel tak terdaftar di YP).

Tampak di meja ada album foto (di SM tanpa album, sedangkan di Marisini foto dipajang dalam kotak yang ditempel di dinding), jangan terkecoh dengan wajah di foto – memang benar itu foto ybs tetapi entah
kapan , daftar tarif untuk kamar biasa satu jam $25, satu setengah jam $35, dua jam $45. Sedangkan VIP satu jam setengah $45, dua jam $54 (dengan kamar mandi di dalam &  sebuah AC split untuk 2 kamar). Kalau mau observasi melihat para WP (bagi yg pd), pilihlah kamar vip- belakang sebab melewati tempat WP istirahat (kadang lagi main kartu – tidur2an – nyulam (?); tetapi hampir semuanya nggak ada yang benar duduknya, hingga “bagasi”-nya tampak).

Baca Juga: Nafsuku Sulit ditahan

Masuk dari ruang resepsionis arah kiri adalah kamar biasa, depan &  kanan adalah VIP, aku langsung masuk ke kamar biasa (di sini bangunannya tak bertingkat) yang merupakan kamar besar (tertutup
tembok &  hanya satu pintu untuk keluar-masuk, &  pintu ini selalu tertutup) yang di dalamnya dibagi menjadi sembilan kamar – dengan partisi dua lembar triplek &  tingginya hanya dua meter setengah,
jadi tak sampai plafon (akibatnya suara/bisikan di kamar akan terdengar ke seluruh kamar), empat kamar di sebelah kiri pintu masuk (sebut saja L) dengan tirai menghadap kamar (M), dua kamar di tengah (M); dengan tirai menghadap kamar (L), empat kamar di sisi paling kanan ( R) /dibelakang dua kamar (M) tadi, sedangkan kamar mandi ada dua tepat di sebelah pintu masuk tadi.

Di atas kamar (L) ada AC split begitu pula diatas kamar ( R), saran aku sebaiknya pilih kamar (M) yang dekat dengan arah masuk (favoritku di sini, kecuali yang tak tahan AC, karena ke dua AC tersebut
arahnya ke kamar ini), alasannya kamar ini merupakan titik temu diagonal seluruh ruang yang ada di kamar ini – atau baca cerita di bawah ini.

Dari tirai yang ditutup dengan sepatu di bawah tirai, nampak WP yang sedang tugas ada enam (berarti tiga lagi ada di VIP) tetapi cukup serudengan jumlah sebesar itu ???

Sambil menunggu mbak Ixxxx, kunyalakan lampu dinding, ada asbak dengan sebuah puntung (berarti nih kamar sudah kepakai), di bawah ranjang ada beberapa sobekan “Sutra” (murah lho, $4 untuk 12 bungkus), ku injak tempat sampah – terlihat di dalamnya dua kaleng minuman &  dua”sarung” berikut isinya. Selain itu terdapat juga sebuah nakas &  kursi plastik, cermin, gantungan pakaian, &  tentunya tempat tidur

Saya  duduk di tempat tidur, terdengar sayup-sayup musik & gdut (kalau nggak salah liriiknya “hitam…… – orangnya hitam tetetapi putihisinya – itulah pilihan saya…”), aku jadi senyum sendiri, yah mana ada sih orang yang ngecret-nya warnanya starwberry atau coklat, yang pasti kan putih, dasar yang nyiptain lagu memang ngeres (apa akunya yg ngeres?) – tetapi ada juga sih WP yang lagi apes (bukan di ppt ini-lho), waktu dia lagi “karaoke” (memang lagi apes nih orang; seharian dia nggak dapet tamu+butuh uang; soalnya dia agak stnk (setengah-tuo-ning- kepenak; dia nggantiin WP yang lagi nggak sreg dengan tamunya) pas muncrat bukan sperma tetapi “d a r a h” ke mulut &  wajahnya WP (ternyata tamunya bawa penyakit – nih orang memang keterlaluan udah tahu sakit, tega-teganya ngerjain WP),

Wah keluar tuh isi perut WP di seprei (sesudah tamunya pulang kasur+sprei nya dibakar sama kantor ppt – kasihan nggak punya salah dibakar), kasihan tuh WP sampai libur nggak kerja beberapa hari+nggak bisa makan, &  kapok ber”karaoke”- ria, koq jadi ngelantur nih ceritanya (makanya setiap aku reply email, aku cantumkan perlakukan mereka selayaknya manusia – soalnya kalau mau tahu gapok-nya dia untuk satu bulan, tak lebih dariselembar pecahan terbesar uang kita, belum dipotong untuk keamanan, room boy, kadang-kadang patungan untuk teman yang sakit, jadi “tunjangannya” yang gede, yah maklumlah namanya juga “mata pencairan”,ya memang begitu (bisnis nyairin yang keras2 maksudnya; kata salah seorang WP senior).

“Selamat siang pak, mau minum apa” sapa mbak Ixxxx, “Tehh botol dingin” jawabku,

“Sebentar aku ambilkan ya pak” sambil meletakan handuk+sprei+sarung

bantal+sabun kecil ke atas kursi plastik. Terdengar suara agak gaduh di ruangan lain atau di koridor, sepertinya tamu-tamu yang lain sudah  selesai tinggal kewajiban (bayar tip) yang belum, atau melepaskan salam perpisahan (seperti di sekolahan aja).

“Kurang nih, mas” kata WP di ruang tepat di sebelah ku.

“Udah ntar kalau ke sini lagi” bujuk tamunya

“Ya kalau ke sini lagi sih lain lagi, kalau gitu depan bayar sendiri

ya..” rayu Wpnya

“Ya sudah” pasrah juga tamunya

“Enak aja mas, udah nambah, pinggang gua hampir putus tau, masak dipotong lagi” gerutu Wpnya

Aku heran juga nih sama tamunya, kayak nawar di pasar tradisonal aja, ya paling tak kalau mau nawar, sebelum pekerjaan dimulai lah.

Sedangkan suara-suara lain cekikikan, mungkin uang tip yang diberikan mencukupi atau sesuai dengan Voice of Intent (spt LOI-nya IMF aja) yang mereka buat.

“Silahkan di minum pak” kata mbak Ixxxx, mengagetkan sensor pendengaran yang sengaja aku pasang pada level more-sensitive.

“oh ya, terima kasih”

“Pernah ke sini, pak” tanya mbak Ixxxx, tuh kan pertanyaaan STD keluar juga,

“Pernah”

“Sama siapa pak” nah terus deh, urutan pertanyaannya

“Wah, nggak aku ingat” jawabku, suara di luar sudah hening, artinya hanya tinggal kita berdua saja.

“Mau dipijat pak”

“Nggak, aku mau makan” ejek ku Dia senyum saja

“Kamu aslinya mana?” tanya ku

“Kuningan – cirebon” jawabnya

Wah kejutan nih, soalnya setahuku cewek cirebon yang asli – sekali lagi asli – nggak punya bulu di kemaluan / bukan dicukur / tetapi plontos – kaya manekin.

“Nggak, koq belum di lepas bajunya, sini aku lepasin” ucap si mbak, ini lah perbedaan para WP, kalau di rumah mungkin jarang kita dilepasin sama pasangan kita, tetapi self service, makanya semboyan

“anda mendapatkan apa yang tak di dapatkan dirumah” ada benarnya.

“Jangan dulu, AC lumayan dingin nih” bayangin AC satu pk sebanyak dua unit mengarah ke kamar yang hanya tiga kali dua meter.

Sengaja aku nggak memulai karena “sikon” belum tepat, jadi kita ngobrol, nggak berapa lama, terdengar suara hak sepatu &  masuk ke kamar di belakang ku (kamar R).

Sambil ngobrol sensor pendengaran kubuat agak sensitive, di kamar sebelah pun terjadi pembicaraan STD spt halnya aku, nggak lamaterdengar

“Brett” kalau mau persis, coba sobek kondom dengan keras.

Nggak berapa lama “kret, kret, kret” sepertinya sih orang naik ketempat tidur, nih tempat tidur kalau bisa ngomong, mungkin udah minta pensiun saja.Terdengar suara erangan (sengaja nggak aku tulis biar lebih “live” jadi bayangin sendiri suka-suka lah). Tiba-tiba

“brottt, brottt, brottt”

aku ketawa, mbak Ixxxx juga, eh di kamar sumber suara malah lebih gila ketawanya – ngakak.

Mau tahu, itu bukan suara kentut, tetetapi seperti piston diruang bakar yang didorong oleh crankshaft pas titik api &  meledak di ruang bakar tetapi klep ke exhaust-nya nggak di dorong sama camshaft, jadi angin keluar melalaui memek, gile nih orang, setahu aku yang bisa gitu Cuma doggy style dengan lubang memek sempit &  tititnya segede & dang  jaman dulu – tetapi kan, buset bukannya missionary – dulu keq – masak langsung jurus pamungkas di keluarin.

“Mbak sebelah lagi ngapain sih” katakuu ppg.

“Ya pijatlah mas” jawabnya dengan meringis geli, sambil tangannya mengusap paha ke arah kemaluan, mungkin sedang periksa apakah aku sudah konak apa belum.

Terdengar lagi seperti suara orang tertindih;ngeden-enak dengan birama/ketukan dua per empat seperti lagu lagu manuk dadali atau cing cang keling (mungkin WP-nya ketindihan sakit, tetapi rasa bagian bawahnya enak sekali).

Kalau lihat suara “ngek”-nya sepertinya dia tertindih dengan tumit di atas bahu tamunya (mungkin mata kakinya wp sebagai hp/headphone tamunya, sehingga dengkulnya WP ke arah bahunya WP sendiri.
“Kret, kret, kret…..” suara tempat tidur &  suara lenguhan silih berganti, wah berisik banget nih tempat tidur, jarak antara suara ngeden dengan tempat tidur nggak ada satu detik.

Akhirnya terdengar suara teriakan (nih orang nggak punya sopan santun kali ye, mentang-mentang bayar, memangnya aku nggak bayar apa yah, nah di sinilah seninya kamar biasa, bisa ramai-ramai ke surga dunia, hanya dipisahkan triplek dua lembar setinggi dua meter lima puluh centi.) atau tepatnya lenguhan seperti sapi atau kerbau dipotong, diikuti tempat sampah yang diinjak, &  tirai yang dibuka, nggak lama suara gemercik air – kulihat jam dinding – cuma lima menit; wah untung nih WP-nya – mesin dua langkah tarikan cepat – tetapi ya cepat juga keluarnya, untung mesin ku empat langkah jadi makin panas makin kuat; atau dia menggunakan sistim fifo (first in first out).

Suara gemercik air berhenti, diikuti suara tirai, nggak lama suara tirai terbuka lagi, &  sepi – hanya tinggal kita berdua lagi. Gila benar nih orang apa enaknya “sex five minute” untung sama WP, coba
kalau sama pasangannya kalau nggak ditendang bijinya (benar hasil poling cerita lucu bahwa 2% sesudah senggama kencing, 10% ngorok, 5% ngerokok, sisanya pakai baju terus pulang ke istrinya – nah yang barusan masuk golongan terakhir ini, kali)

Mungkin tamu tadi kepalanya botak di depan, biasanya orang botak didepan itu cepat keluarnya, soalnya kalau udah keluar dia akan pegang dahi, jadi habis panas-panas terus dielus-elus karena nggak bisa nahan jadi rambutnya pada rontok, sedangkan yang botak dibagian belakang kepala, biasanya lama keluarnya, sebab si wanita akan mengelus atau menjambak atau meremas rambut si pria sambil menekan kepala si pria ke arah leher si wanita (hp sangrilla), wah jadi ngelantur nih, kita balik lagi yuk,

“mbak sini coba aku buka bajunya” saranku, aku duduk di bawah lampu, sedangkan dia duduk di tempat tidur, sehingga aku dapat melihat jelas wajahnya, sedangkan dia, akan sulit melihat wajahku, karena sinar ada di belakangku, sesudah melepas blazernya, tampak ada kaos dengan bagian dada yang cukup longgar sehingga belahan dadanya cukup tampak, hanya bagian putingnya yang tak tampak &  sinar datang dari samping (wah sayang nggak bawa tustel digitalku, soalnya posenya cukup baik), kemudian dia duduk kembali ke tempat tidur – boleh juga nih previewyang diberikan – kugantungkan bajunya dekat cermin.

“mas, mau dipijat nggak”

“ya mau lah”

“koq nggak di buka bajunya” sambil berkata demikian dia duduk dengan kaki di ayunkan &  agak mengangkang sehingga tampak celana krem dengan banyak lubang (mungkin ventilasi untuk mengurangi kelembaban) &  ada bagian yang agak gelap

“kemarin dapat berapa tamunya?”

“wah sepi mas, mungkin tanggal tua yah”

“iya kamu dapat berapa?”

“nggak dapet”

“yang benar”

“demi tuhan, mas”

“hus, jangan bawa-bawa tuhan ah”

“kalau kemarinnya lagi”

“dapat cuma satu, itupun rese”

“resenya gimana?”

“ya orangnyakan gemuk terus tititnya kecil, pas dia di atas,

masukkinnya susah banget, habis perutnya yang duluan sampai, udah gitu minta dari belakang lagi, dari depan aja sulit” katanya sambil senyum “tetapi kan enak” kilahku

“yah kerja ginian sih enak gak enak, mas” jawabnya

“tuh kan enaknya aja dua, enggaknya cuma satu”

“mbak sini deh” panggilku, dia turun dari tempat tidur &  berjalan ke arahku

“aku lepasin bajunya yah”

“mas ini mau dipijat atau main?” tanyanya

wah nantangin bikin kesepakatan kerja nih, memang sebaiknya begini jadi tak ribut diakhirnya, sebaiknya kita sanjung dulu, biasanya wanita paling senang kalau disanjung

“saya mau dipijat tetapi bayarannya bayaran main” ucapku dengan tegas &  melihat bola matanya

“loh koq gitu, rugi dong si mas”

“koq rugi ?” tanyaku

“iya lah kalau pijatkan ngasihnyakan serelanya, kalau main yah ada yang $200, $150, nggak tentu mas” jawabnya

“ya sudah $150 tak pijat tak main”

“lho koq lebih aneh lagi”

“gimana mau nggak?”

“ya sudah”

“lho koq jawabnya ya sudah, jangan pasrah gitu dong” tegasku

“iya deh mas, duh nih orang aneh amat yah, biasanya kalau orangnya kalem kayak gini nih, biasanya mainnya kasar &  lama nih” ucapnya sambil menunduk, menghindari tatapan mataku, sambil berbicara aku selalu memandang wajahnya yang tak jauh dari mataku, karena sinar lampu sangat jelas jatuh ke wajahnya, dapat kulihat kerutan-kerutan di kelopak bawah matanya, nampak kalau (mungkin) dia menikmati juga pekerjaan yang dilakoni (yang kutahu bahwa wanita orgasme yang bergetar/kejutan adalah anus, rahim, &  kejutan di rongga memek -tetapi melihat kerutan itu mungkin menambah satu info buat liputanku).

Dengan tetap duduk dikursi plastik aku mulai mencoba melepas kaosnya,sekarang tinggal cd+rok+bra, saat tangannya ke atas melepas kaos tampak bulu ketiaknya habis dicukur &  mulai tumbuh, saat matanya  tertutup kaos, dengan memejamkan mata kucium ketiaknya, basah, bau, tetapi nggak bau kecut, mungkim mbk.

Dia meronta &  terlepaslah kaosnya.

“jangan mas, bau” protesnya

“yang nyium aja nggak protes” elakku

“iya tetapi kan risih” jawabnya nggak mau kalah

Sesudah menggantungkan kaosnya dekat blazernya, aku mulai berdiri &  mendekatinya

“sini aku lepas branya” dia kusuruh membelakangiku, saat ku lepas terlihat label: triumph, 34/75 D, &  logo-logo lainnya, wah keren juganih wp, pakai bra mahal (untuk kelas PPT spt ini), &  kugantungkan bra-nya di atas kaosnya tadi (bayangin aku yang melepaskan &  aku juga yang menggantungkan – jangan terburu-buru – nikmati saja – semua gerakan lakukan dengan perlahan tanpa terburu- buru – atur napas biar tenang), saat dia membalikkan badan, tampak toket yang cukup indah, &  lobang pusar yang cukup dalam.

“udah ah, malu aku, lampunya terang banget sih” protesnya sama lampu pijar enampuluh watt, duduk di tempat tidur sambil menutup toketnya dengan kedua tangannya, tampaknya dia ingin gelap.

“Berapa anakmu?”

“koq tahu aku punya anak, mas ini seperti ahli aja”

“nggak, tadi di perut ada bekas parutan &  lubang pusarnya dalam sekali, biasanya orang hamil paling nggak bisa nahan nggaruk perut &  bekas membengkaknya perut menjadikan lobang pusarnya agak dalam”

jawabku sok tahu, padahal asal bicara saja untuk maksud tertentu.

“oh itu, jadi malu, anakku satu mas” sambil menutup perut &  pusarnya, tetapi lupa menutup toketnya, kan aku jadi bisa lihat lagi (pakai trik dong).

“berapa umurnya?”

“satu tahun”

“kamu umurnya berapa?”

“delapan belas”

“kenapa cerai?” aku sih menduga saja, lagian pembicaraan di ppt, nggak ubahnya seperti chat, bedanya hanya live.

“aku dimadu”

“kan enak manis &  lengket”

dia nggak jawab hanya senyum, duh manis banget, delapan belas, anak satu, wah otakku mulai berhitung deh.

Sesudah lama menatap toketnya sambil bicara,

“sini aku bukakan roknya”

“mas koq masih lengkap bajunya”

“iya, kamu dulu”

“nggak ah, sama-sama dong!”

ya sudah aku mengalah, terpaksa deh kedinginan, kecuali cd yang nggak aku lepas (sambil melepas aku melirik ke arah mana matanya si mbak melihat) – nampaknya masih punya rasa malu juga dia melihat pria melepas pakaian di depannya (itu perasaanku saja, nggak tahu yg lainnya) sebab dia membuang muka dengan melihat ke cermin.

“sini aku bukain” sambil duduk di kursi plastik yang kumajukan sehingga mendekati tempat tidur, dia menurut, kubuka roknya, dengan posisi dia tetap duduk di tempat tidur, dengan membukakan pengait rok di bagian belakang, sehingga mulutku mendekati toketnya, sengaja aku tak menciumnya, tetetapi hawa panas dari lubang hidung aku hembuskan secara perlahan ke putingnya (panas karena aku kedinginan,sehingga dalam berbicara terkadang aku menahan nafas), hasilnya dia menghembuskan nafasnya secara mendadak ke punggungku (dari sini aku mulai dapat signal)

Sesudah pengait terlepas aku tarik ke depan, dia membantu melorotkan rok+cdnya,

“celananya nggak usah mbak!” protesku

dan kakinya ditekuk &  diangkat ke atas, tak lupa aku melirik ke bagasinya yg tertutup, not bad, cukup mulus, selanjutnya ku gantungkan roknya dekat kaos+bh-nya (ini bukan rumus mtk, lho). Kadang wanita itu indah dilihat bila masih menggunakan bra+cd, gimana gitu.

Aku angkat kursi plastik &  melangkah mundur ke bawah lampu, wah nyesel aku nggak bawa tustel digitalku, dengan rambut sebahu, toketnya besar nggak kecil nggak dengan warna hitam nggak coklat nggak (apa dong?, mau tahu warnanya, ada coklat ada hitam ada pink, soalnya kan belum duapuluh, kulitnya putih nggak coklat nggak.

“coba kamu duduk di pangkuanku” pancingku untuk tujuan tertentu dia menurut, aku perhatikan cara dia berjalan, saat dia akan duduk, tirai agak bergoyang, soalnya ada tamu+wp yang lewat mau masuk kamar sebelahku

“mbak tuh kainnya kurang nutup” pancingkudia berjalan kemudian jongkok &  meletakkan sepatu dibawah tirai (artinya dikamar ada tamunya), saat dia jalan &  jongkok, tuhpinggang+pinggulnya bisa membuat jakun pria bergerak naik turun.

Dia duduk dipangkuan dengan jari memutar putingku, seolah-olah memutar gelombang radio dua band &  mulutnya menjilati leher &  dauntelingaku, terpaksa tahan nafas lagi, lama-lama lemas juga mangkusubroto eh salah mangku cewe.

“yuk kita tiduran aja” usulku sambil mematikan lampu, sebab kamar sebelah menyalakan lampu yang sama terangnya.

Sesudah dia terlentang, aku membukakan cd-nya (tahu nggak saat seperti ini adalah saat yang indah buat kaum pria, karena akan tertegun melihat keindahan alam – hutan kali), kemudian dirapatkan kedua
pahanya sehingga aku tak dapat melihat lebih jelas kemaluannya (pemalu atau akting), aku turun dari tempat tidur untuk menggantungkan cd-nya &  melepas cdku dengan rudal yang males bangun (30% gitu, kalau pemula mungkin sudah 100%).

Ku angkat tangannya, &  kucium ketiak &  sekitar toketnnya tepatnya sih menggesek kumis &  jenggot yang panjangnya cuma setengah milimeter sambil membuang hawa panas),

Dia melenguh, aku pun segera protes “mbak jangan bohongin aku yah” (memang para wp mungkin lebih baik dari pemenang piala citra &  politikus untuk akting)

“maksudnya?” tanyanya

“jangan akting, aku senang yang alami”

dia mulai diam melenguh, aku meneruskan perjalan kumis &  jenggotku, dari ketiak terus ke toket bagian pinggir, pinggir pentilnya (ingat jangan dihisap, karena kamu bukan bayi – eh salah yg benar, biarkan atau tunggu hingga ada permintaan), ke perut, cukup.

Aku merasakan tubuhnya merinding &  bulu-bulu halusnya beridiri (yang ini nggak bisa akting, pasti asli)

“mas aku merinding” protesnya, ya sudah aku menghentikan jalan-jalan dengan kumis &  jenggotku, selanjutnya aku duduk diantara ke dua pahanya, dengan memanfaatkan pantulan cahaya plafon yang mendapat sinar dari kamar sebelah, aku mulai melihat keindahan alam (pernah saking larisnya wp, sampai sperma yang tececer lupa dibersihkan sehingga membentuk kerak di antara memek &  anus).

Nampak bulu kemaluannya bagian kiri ke kanan, sedangkan yang kanan ke kiri, bertemu tepat di garis penalti, eh salah, celah memek, &  menjulang tinggi tetapi ketekan sama helm, eh bukan cd, jadi bentuknya gimana yah, bayangin sendiri deh.

“mbak kamu cirebonnya mana sih” tanyaku, soalnya koq nggak botak”kuningan” jawabnya, wah pantesan aja, aku sedikit senyum sendiri  “koq senyum, mas, kenapa punya aku lucu yah” protesnya dengan mata di buat melotot, padahal dia juga tersenyum. Wah aku menertawakan kuningan-nya, tetapi karena di depan memek jadi, disalah tafsirkan.

“nggak, nggak apa-apa”

Artinya nih rambut belum ada yang ngacak-ngacak, alias aku yang pertama (hari ini, maksudku), tetapi otakku kadang iseng,

“kamu hari ini sudah dapat berapa tamu?” tanyaku

“belum, kenapa sih koq tanya gitu?” balasnya

benerkan, otakku emang otak ngeres kali.

“nggak nih rambut masih rapih, apa habis dari salon” ledekku, selanjutnya aku buka labia minor &  menunduk untuk bercermin, eh bukan lihat doang koq.

“mas jangan dijilat, aku nggak suka” elaknya

“ya sudah” jawabku, padahal siapa yang akan nyium, lha aku Cuma cek fisik (seperti orang gudang aja), tetapi aku lihat bekas melahirkannya sempurna tak tampak, &  bibir kecilnya tak jatuh (karena kecil-pendek &  gemuk+rapet, ini kalau kemasukkan rudal pasti ditusuk ngikut ditarik nurut)

“mbak, katanya punya anak satu, tapi, bibirnya koq………” ucapku

“iya kan dirawat mas” jawabnya

wah apa dioperasi plastik, atau gurah memek.

Saat aku menyentuh clit, &  memijatnya (aku dapat menyentuh clit tanpa membuka bibirnya, karena clit-nya bukan tipe yang tersembunyi, alias tampak dengan jelas seperti helm tentara yang sembunyi di semak belukar) dia mulai bergoyang.

“ingat jangan akting” protesku dia diam saja, &  bergoyang, saat aku akan memasukkan jariku, “jangan dimasukkan pakai jari mas, kalau mau sama punya mas aja!” wah, sulit juga nih, oral nggak nggak boleh, pakai jari nggak boleh, jurus delapanku nggak laku deh, “kenapa sih koq nggak boleh” protesku “takut kukunya melukai punyaku, nanti infeksi” jawabnya wah betul juga, yah nggak ada akar rotanpun jadi (kebalik yah), aku meludah ke telapak tangan kiriku &  ku olesi jari telunjuk kananku, selanjutnya, aku tetap memijat clit-nya dari arah bawah ke atas, &  “mencium” ketiak &  sekitar toketnya, &

terdengar suara erangan, kaget juga aku, kupikir mbak yang bersama aku, tetapi ternyata dari kamar seberang, &  nggak lama terdengar lagi  lebih keras, &  ada yang mengerang lebih keras lagi, wah nih suara jadi surround gini, ternyata di sebelah kiri, belakang &  depan, kamarku wp-wp-nya pada mengerang, sampai

“mir, kecilin dikit volumenya” bentak wanita yang kutindih

“biarin aja mbak” bisikku takut terdengar

nggak lama terdengar beberapa tempat tidur berderit &  diikuti suara lenguhan, ternyata semua kamar telah mematikan lampu sehingga suasana gelap gulita.

Nampaknya pijatan jariku di clit-nya membuat bergoyang makin kuat &  tanpa disadari jariku masuk dengan sendirinya, langsung deh pakai  jurus delapan (baca liputan ke dua – untuk lebih jelasnya), ternyata di dalamnya sudah banyak cairan, semakin lama, terdengar bunyi aneh di memeknya, &  tampak matanya hanya bagian putih saja (serem lho, seperti orang mati) dari penyesuaian mataku terhadap gelap &  memanfaatkan cahaya remang dari pintu masuk, aku dapat melihat getaran-getaran kecil di kelopak bagian bawahnya, pantes cepat keriput, nahan enak, enak itu harusnya dilepas jangan ditahan ntar jerawatan.

“mbak, kalau tititnya tamu gede, apa nggak sakit?” tanyaku

“aku cepat sekali basahnya, mas” jawabnya sambil menggoyangkan pantatnya tanpa mengubah matanya yang tetap putih &  getaran kelopak matanya

karena suasana gelap dengan suara lenguhan beberapa wp yang saling bersahutan dam diikuti derit tempat tidur mengakibatkan rudalku mengeras (susasananya jadi seperti gang bang)

“mas udahan ah, malu aku, sudah banjir tuh” bisiknya memang sih cairan bening telah melelehi kelingking &  jari manisku “ya sudah, aku di bawah, kamu di atas” usulku
aku terlentang, kemudian dia membersihkan memeknya yang banjir dengan ujung kain sprei baru, kemudian mengangkangi rudalku, saat digenggam &  akan dimasukkan,

“eit, jangan dimasukkan”

“kenapa, mau pakai kondom, tuh di bajuku ada”

“nggak mau” rengekku seperti anak kecil

“dimasukkin nggak mau, pakai karet nggak mau, terus maunya apa?”

tanyanya seperti seorang ibu yang kesal sama anaknya

“kamu tidur saja di atasku” gantian luh tadi aku juga dengan susah payah membuat kamu basah dengan kriteria yang cukup sulit, sekarang gantian ucapku dalam hati

Nampaknya dia tahu isi hatiku, dia mulai menindihku, saat akan mencium bibirku aku membuang muka (ingat jangan sekali-kali mencium wp, bisa jadi dia melakukan oral sex, jadi kesehatan mulutnya tak terjamin), dia tahu penolakanku &  melakukan jilatan di sekitar kuping &  leher berjalan perlahan dengan lidahnya ke arah putingku (lidahnya seperti ular saja) &  melumat habis putingku sehingga warna lipstick berpindah ke putingku, hisapan &  pijatan dengan lidah, kemudian jilatan lidah turun ke pusar, terus ke ujung rudal, sampai lubang rudalpun dijilati, memasukkan sebagian palkon saja ke mulut tanpa memegang, jilatan ke arah biji, terus ke arah anus, tetapi anus tak dijilat (karena enak aku mencoba mengangkat pantat, agar anuskuterjilat, tetapi dia tahu &  kepalanya pun ikut ke atas)  nampaknya dia juga mencoba menyiksaku,

Kembali dia menjilat biji &  ke palkon kali ini dia memegang batangnya &  memasukkan ke mulut, saat masuk dihabisi sampai palkonku menyentuh langit-langit bagian belakang mulutnya, saat ditarik hisapannya kuat sehingga mulutnya agak kempot, saat kedua gerakan itu berlangsung ditambahi dengan jilatan lubang rudal, wah sensasinya, ditambah lagi dengan kegelapan &  suara lenguhan &  derit tempat tidur tetangggaku, ku gigit bibir bawahku, untuk meyakinkan ini alam nyata atau mimpi.

Ternyata sakit, wah berarti aku ada di alam nyata, saat dia menghisap, matanya menatap ke arahku (kepalaku kuganjal dengan bantal yang kutekuk jadi dua; jadi aku dapat melihat aktifitasnya), untuk ke tiga kalinya aku menyesali atas tertinggalnya tustel digitalku

“mbak jangan terburu-buru untuk mengeluarkan, yah” rayuku

“iya, tetapi jangan dikeluarkan dimulut yah” mohonnya

akhirnya tumbang juga saat akan keluar, aku benar-benar lupa, akibatnya karena dia tahu akan keluar buru-buru dicekik batangku, &  sesudah keluar mulut baru dilepaskan sehingga letupannya menembak
dinding triplek &  tampak seperti dahak meleleh (coba kalau seng pasti bunyi), diikuti degan lenguhan orgasme para tamu di sekeliling kamarku (wah orgasme bareng nih – suaranya surround).

Sambil melap mulutnya yang banyak ludah, dia bilang

“mas aku kan tadi nafsu banget, kenapa sih koq nggak dimasukkin aja?”
rayunya

“nggak apa-apa”

“pasti ini kesayangan istrinya” sambil memijat rudalku

“bisa aja kamu, kenapa kamu koq nafsu banget?” balasku

“habis keras sih, udah gitu akukan sudah lama nggak dapet tamu, jadi yah gatel gitu” ucapnya sambil senyum genit &  melap memeknya dengan sprei bersih

“kamu bisa aja” jawabku

“mas sudah lama nggak keluar yah, koq kentel banget?” tanyanya sambil menatap “dahak” yang menempel di tembok

“koq tahu”

“lah itu” jawabnya sambil melap “dahak” dengan kain sprei yang kita pakai

“aku mandi dulu yah” dengan melilitkan handukku sebatas menutupi toket &  bokongnya dia keluar kamar, nggak lama dia kembali dengansedikit berlari &  gemetar kedinginan.

“sini aku pakaikan” kataku, sambil mengambil cd-nya, kupakaikan, tak lupa kupukul pantatnya, dianya melotot, &  kupakaikan bra-nya dari belakang sambil meniup telinganya “geli ah, ntar nambah nih” protesnya sesudah lengkap dia minta ijin,

“aku keluar dulu mau ambil handuk bersih buat kamu” aku mengangguk sesudah handuk ku pakai aku menuju kamar mandi, karena kamar mandi tanpa pintu hanya menggunakan tirai plastik buram &  posisi tertutup juga tak ada bunyi gemericik air aku langsung masuk,

“oups, maaf mbak” jawabku, tanpa berusaha keluar kamar, tampak seorang wanita dengan bulu ketek lebat &  bulu vag yang sangat lebat, dengan posisi jongkok (jingkat persisnya – bertumpu pada jari kaki) sedang membersihkan memeknya dengan shower, sambil menggerakkan jari keluar masuk memek (yg jelas sih bukan lagi masturbasi – tetapi membersihkan bagasi)

“maaf mas, bisa keluar nggak?” katanya setengah berbisik, saran yang baik coba kalau bukan di ppt, pasti akan dengar lolongan ala tarzan “oh, iya, boleh tahu namanya?” bisa yah, kenalan di kamar mandi &  lagi telanjang

“Exxx” jawabnya

“ya, terima kasih” aku langsung keluar sebelum disiram, &  langsung masuk kamar mandi satunya

Selesai mandi langsung ke kamar, sprei telah diganti (inikan spreiyang buat melap vag-nya tadi), &  si mbak telah rapi, kuberikan uang jasanya

“jarang lho tamu kayak mas”

“maksudnya”

“iya nggak main, nggak nambah, nggak rese” cerocosnya

“kamu kalau nyanjung jangan tinggi-tinggi ntar aku jatuh” ledekku

“eh di sini, yang bulu keteknya lebat siapa sih?”

“oh itu sih mbak Exxx” jawabnya, wah berarti nggak bohong tuh cewek

“bisa nggak satu tamu dengan dua wp?” tanyaku

“boleh asal bayarnya tetap double!” jawabnya

“kalau satu kamar dengan dua wp &  dua tamu?”

“sama, boleh asal bayarnya double!, kenapa mau double”

“kamu biasa double sama siapa?” tanyaku

“sama mbak Exxx” jawabnya

“yah, sudah terima kasih ya” ucapku, sambil mencium pipinya

“balik lagi ya mas” bujuknya

“nggak janji” jawabku

Aku menuju resepsionis membayar kamar sekaligus memberi tip buat si mbak (bukan apa-apa, nanti kalau sewaktu-waktu aku butuh dia ; bukan tubuhnya lho, kecuali dia mau; untuk pesan wp biar mudah), &  meuju tempat parkir belakang. Si mbak nyusul sampai pintu &

“gus” teriaknya ke petugas parkir sambil tangannya memberi kode, maksudnya jangan diminta biaya parkir.

Sesampainya dekat vw-kodokku

“selamat sore pak” tegurnya, pria hitam berumur duapuluh tahunan

“sore, siapa nama kamu?” tanyaku

“Agus, pak” jawabnya

“apa kerja kamu?” tanyaku

“kadang tukang parkir, kadang bawain mbak-mbak ke penginapan” jawabnya

“kamu pernah ngintip mbak-mbak lagi main?”

“nggak pak, paling si mbak kadang memamerkan teteknya saat di ruang tunggu belakang, atau tampak pahanya saja, kalau yang kurang ajar sih kadang nunjukin pejunya tamu yang keluar dari punyanya sebelum dicuci di wastafel saat aku bawain minum buat tamu” cerososnya”pernah nggak kamu main sama mbak-mbak di sini?” tanyaku

“duit dari mana pak, lagian mana mau mbaknya!” jawabnya

“kalau aku bayarin, mau nggak?” pancingku

“eh, yang benar pak, kapan?” jawabnya, nah dimakan deh umpanku

“saya nggak janji, tetapi kamu mau kan”

“mau, mau, pak!” aku langsung masuk mobil, &  ditutupkan pintunya olehnya, &  meluncur ke jalan besar, terpikir deh oleh otakku rencana-rencana gila.

Saat aku akan keluar nampak seorang wp naik ojek (kalau berdiri saja roknya setinggi lima jari dari lutut, kalau duduk di atas motor nah bisa bayangin kan) iseng aku mengikuti kemana dia akan dipesan, tampak tak jauh dari PPT dia turun &  masuk ke rumah yang cukup besar, aku coba menahan laju mobilku, tampak tulisan “kost putri” di depan rumah yang dimasukin wp tadi. Wah ini toh mabes-nya.

Related Post