Pergantian Tahun, Aku, Fredy Dan William Menggilir Zhu Zhu - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
9715
post-template-default,single,single-post,postid-9715,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita hot

Pergantian Tahun, Aku, Fredy Dan William Menggilir Zhu Zhu

Cerita hot – Saat itu kelompok kami (4 lelaki dan 2 perempuan) melakukan pendakian gunung, Rencananya kami akan merayakan pergantian tahun baru di sana.

Sampai di tempat yang kami tuju hari telah sore, kami segera mendirikan tenda di tempat yang strategis.

Setelah semuanya selesai, kami sepakat bahwa tiga orang lelaki harus mencari kayu bakar, sisanya tetap tinggal di perkemahan.

Aku, William, dan Fredy memilih mencari kayu bakar, sedangkan Fadli, Lia dan Zhu Zhu tetap tinggal di tenda.

Baca Juga: [random_post]

Baru beberapa langkah kami beranjak pergi, tiba-tiba Zhu Zhu memanggil kami, katanya dia ingin ikut kelompok kami saja (alasannya masuk akal, dia tidak enak hati sebab Fadli adalah pacar Lia, dan Zhu Zhu tidak ingin kehadirannya di tenda mengganggu acara mereka).

Karena Fadli dan Lia tidak keberatan ditinggal berdua, kami (William, Fredy, aku dan Zhu Zhu) segera melanjutkan perjalanan.

Ada beberapa hal yang perlu aku ceritakan kepada pembaca tentang dua orang teman wanita kami. Lia sifatnya sangat lembut, dewasa, pendiam dan keibuan.

Sifat ini bertolak belakang dengan Zhu Zhu. Mungkin karena dia anak bungsu dan ketiga kakaknya semua lelaki, jadi Zhu Zhu sangat manja, tapi terkadang tomboy.

Tapi di balik semua itu, kami semua mengakui bahwa Zhu Zhu sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Lia.

Tidak berapa lama, sampailah kami pada tempat yang dituju, lalu kami mulai mengumpulkan ranting-ranting kering.

Sambil mengumpulkan ranting, kami membicarakan apa yang sedang dilakukan Fadli dan Lia di dalam tenda.

Tentu saja pembicaraan kami menjurus kepada hal-hal porno.

Setelah cukup apa yang kami cari, William mengusulkan singgah mandi dulu ke sungai yang tidak berapa jauh dari tempat kami berada. Zhu Zhu boleh ikut, tapi harus menunggu di atas tebing sungai sementara kami bertiga mandi.

Zhu Zhu setuju saja Singkat kata, sampailah kami pada sungai yang dituju.

Aku, William dan Fredy turun ke sungai, lalu mandi di situ. Zhu Zhu kami suruh duduk di atas tebing dan jangan sekali-kali mengintip kami.

Ketika sedang asyik-asyiknya kami berkubang di air, tiba-tiba kami mendengar Zhu Zhu menjerit karena terjatuh dari atas tebing. Tubuhnya menggelinding sampai akhirnya ia tercebur ke dalam air.

Cepat-cepat kami berlari mencoba menyelamatkan Zhu Zhu (kami mandi hanya menanggalkan baju dan celana panjang, sedangkan celana dalam tetap kami pakai).

William yang pandai berenang segera menjemput Zhu Zhu, lalu menariknya dari air menuju tepi sungai.

Aku dan Fredy menunggu di atas. Sampai di tepi sungai, tubuh Zhu Zhu basah kuyup, Sepintas kulihat lengan William menyentuh buah dada Zhu Zhu.

Karena Zhu Zhu memakai T-Shirt basah, aku dapat melihat dengan jelas lekuk-lekuk tubuh Zhu Zhu yang sangat menggairahkan.

Zhu Zhu merintih memegangi lutut kanannya, Aku dan Fredy terpaku tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tapi William yang pernah ikut kegiatan penyelamatan dengan sigap membuka ikat pinggang Zhu Zhu lalu mencopot celana jeans Zhu Zhu sampai lutut.

Zhu Zhu berteriak sambil mempertahankan celananya agar tidak melorot.

Sungguh, saat itu aku tidak tahu apa sebenarnya yang hendak William lakukan terhadap Zhu Zhu.

Segalanya berjalan begitu cepat dan aku tidak menyimpan tuduhan negatif terhadap William.

Aku hanya menduga, William hendak memeriksa luka Zhu Zhu.

Tapi dengan melorotnya jeans Zhu Zhu sampai ke lutut, kami dapat melihat dengan jelas celana dalam Zhu Zhu yang berwarna off-white (putih kecoklatan) dan berenda. Kontan penisku bangun.

William memerintahkan aku dan Fredy memegangi kedua tangan Zhu Zhu.

Seperti dihipnotis, kami menurut saja. Zhu Zhu semakin meronta sambil menghardik, “Rob, apa-apaan sih.., Lepas.., lepas! Atau saya teriak”.

Fredy secepat kilat membungkam mulut Zhu Zhu dengan kedua telapak tangannya. William setelah berhasil mencopot celana jeans Zhu Zhu, sekarang mencoba mencopot celana dalam Zhu Zhu.

Sampai detik ini, akhirnya aku tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Aku tidak berani melarang William dan Fredy, karena selain aku sudah merasa terlibat, aku juga sangat terangsang saat melihat kemaluan Zhu Zhu yang lebat ditumbuhi rambut-rambut hitam keriting.

Zhu Zhu semakin meronta dan mencoba berteriak, tapi cengkeraman tanganku dan bungkaman Fredy membuat usahanya sia-sia belaka, William segera berlutut di antara kedua belah paha Zhu Zhu.

Tangan kirinya menekan perut Zhu Zhu, tangan kanannya membimbing penisnya menuju kemaluan Zhu Zhu.

Zhu Zhu semakin meronta, membuat William kesulitan memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya. Fredy mengambil inisiatif.

Dia lalu duduk mengangkangi tepat di atas dada Zhu Zhu sambil tangannya terus membungkam mulut Zhu Zhu. Tiba-tiba Zhu Zhu berteriak keras sekali.

Rupanya William berhasil merobek selaput dara Zhu Zhu dengan penisnya. Secara cepat William menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur.

Untuk beberapa menit lamanya Zhu Zhu meronta, sampai akhirnya dia diam pasrah. Yang dia lakukan hanya menangis terisak-isak.

Fredy melepaskan telapak tangannya dari mulut Zhu Zhu karena dia merasa Zhu Zhu tidak akan berteriak lagi. Lalu dia mencoba menarik T-Shirt Zhu Zhu ke atas.

Di luar dugaan, Zhu Zhu kali ini tidak mengadakan perlawanan, hingga Fredy dan aku dapat melepaskan T-Shirt dan BH-nya.

Luar biasa, tubuh Zhu Zhu dalam keadaan telanjang bulat sangat membangkitkan birahi.

Tubuhnya mulus, dan buah dadanya sangat montok. Mungkin ukurannya 36B.

Fredy segera menjilati puting susu Zhu Zhu, sementara aku melihat William semakin kesetanan mengoyak-ngoyak vagina Zhu Zhu yang beberapa saat yang lalu masih perawan.

Aku sangat terangsang, lalu aku mulai memaksa mencium bibir Zhu Zhu.

Ugh, nikmat sekali bibirnya yang dingin dan lembut itu, Aku melumat bibirnya dengan sangat bernafsu.

Aku tidak tahu apa yang sedang Zhu Zhu rasakan, Aku hanya melihat, matanya polos menerawang jauh langit di atas sana yang menguning pertanda malam akan segera tiba.

Tangisnya sudah agak mereda, tapi aku masih dapat mendengar isak tangisnya yang tidak sekeras tadi. Mungkin dia sudah sangat putus asa, shock, atau mungkin juga menikmati perlakuan kasar kami.

Tiba-tiba aku mendengar William menjerit tertahan, Tubuhnya mengejang Dia menyemprotkan sperma banyak sekali ke dalam vagina Zhu Zhu.
Setengah menit kemudian William beranjak pergi dari tubuh Zhu Zhu lalu tergeletak kelelahan di samping kami. Fredy menyuruhku mengambil giliran kedua. Aku bangkit menuju Vagina Zhu Zhu.

Sepintas aku melihat sperma William mengalir ke luar dari mulut vagina Zhu Zhu, Warnanya putih kemerahan Rupanya bercak-bercak merah itu berasal dari darah selaput dara (hymen) Zhu Zhu yang robek.

Tanpa kesulitan aku berhasil memasukkan penis ke dalam vaginanya.

Rasanya nikmat sekali. Licin dan hangat bercampur menjadi satu, Dengan cepat aku mengocok-ngocok penisku maju mundur Aku mendekap tubuh Zhu Zhu.

Payudaranya beradu dengan dadaku, Dengan ganas aku melumat bibir Zhu Zhu, Fredy dan William menyaksikan atraksiku dari jarak dua meter.
Beberapa menit kemudian aku merasakan penisku sangat tegang dan berdenyut-denyut. Aku sudah mencoba menahan agar ejakulasi dapat diperlama, tapi sia-sia.

Spermaku keluar banyak sekali di dalam vagina Zhu Zhu, Aku peluk erat Tubuh Zhu Zhu sampai dia tidak dapat bernafas.

Setelah puas, aku berikan giliran berikutnya kepada Fredy.

Aku lalu duduk di samping William memandangi Fredy yang dengan sangat bernafsu menikmati tubuh Zhu Zhu.

Karena lelah, kurebahkan tubuhku telentang sambil memandangi langit yang semakin menggelap.

Beberapa menit kemudian Fredy ejakulasi di dalam vagina Setelah Fredy puas, ternyata William bangkit kembali nafsunya.

Dia menghampiri Zhu Zhu, Tapi kali ini dia malah membalikkan tubuh Zhu Zhu hingga tengkurap, Aku tidak tahu apa yang akan diperbuatnya.

Ternyata William hendak melakukan anal seks, Zhu Zhu menjerit saat anusnya ditembus penis William.

Mendengar itu William malah semakin kesetanan.

Dia menjambak rambut Zhu Zhu ke belakang hingga muka Zhu Zhu menengadah ke atas.

Dengan sigap Fredy menghampiri tubuh Zhu Zhu, Aku melihat Fredy dengan sangat kasar meremas-remas buah dada Zhu Zhu.

Zhu Zhu mengiba, “Aduhh.., sudah dong Ro.., ampun.., sakit Rob” Tapi William dan Fredy tidak menghiraukannya.

“Oh, sempit sekali”, teriak William mengomentari lubang dubur Zhu Zhu yang lebih sempit dari vaginanya Setiap William menarik penisnya aku lihat dubur Zhu Zhu monyong.

Sebaliknya saat William menusukkan penisnya, dubur Zhu Zhu menjadi kempot. Tidak lama, William mengalami ejakulasi yang kedua kalinya.
Setelah puas, sekarang giliran Fredy menyodomi Zhu Zhu, Melihat itu aku jadi kasihan juga terhadap Zhu Zhu.

Di matanya aku melihat beban penderitaan yang amat berat, tapi sekaligus aku juga melihat sisa-sisa ketegarannya menghadapi perlakuan ini.

Setelah Fredy puas, William dan Fredy menyuruhku menikmati tubuh Zhu Zhu, Tapi tiba-tiba timbul rasa kasihan dalam hatiku, Aku katakan bahwa aku sudah sangat lelah dan hari sudah menjelang gelap.

Kami sepakat kembali ke perkemahan, William dan Fredy segera berpakaian lalu beranjak meninggalkan kami sambil menenteng kayu bakar.

Zhu Zhu dengan tertatih-tatih mengambil celana dalam, jeans, lalu mengenakannya. Aku tanyakan apakah Zhu Zhu mau mandi dulu, dan dia hanya menggeleng.

Dalam keremangan senja aku masih dapat melihat matanya yang indah berkaca-kaca, Kuambil T-Shirtnya.

Karena basah, aku mengepak-ngepakkan agar lebih kering, lalu aku berikan T-Shirt itu bersama-sama dengan BH-nya. William dan Fredy menunggu kami di atas tebing sungai.

Setelah Zhu Zhu dan aku lengkap berpakaian, kami beranjak pergi meninggalkan tempat itu. William dan Fredy berjalan tujuh meter di depanku dan Zhu Zhu.

Di perkemahan, Fadli dan Lia menunggu kami dengan cemas, Lalu kami mengarang cerita agar peristiwa itu tidak menyebar, Untunglah Fadli dan Lia percaya, dan Zhu Zhu hanya diam saja.

Tepat tengah malam di saat orang lain merayakan pergantian tahun baru, kami melewatinya dengan hambar. Tidak banyak keceriaan kala itu. Kami lebih banyak diam, walau Fadli berusaha mencairkan keheningan malam dengan gitarnya.

Esoknya, pagi-pagi sekali Zhu Zhu minta segera pulang. Kami maklum lalu segera membongkar tenda, Untunglah sesampainya di kota kami, Zhu Zhu merahasiakan peristiwa ini.

Tapi tiga bulan berikutnya Zhu Zhu menghubungiku dan dia dengan memohon meminta aku bertanggung jawab atas kehamilannya, Aku sempat kaget karena belum tentu anak yang dikandungnya itu adalah anakku.

Tapi raut wajahnya yang sangat mengiba, membuatku kasihan lalu menyanggupi menikahinya.

Satu bulan berikutnya kami resmi menikah Zhu Zhu minta agar aku memboyongnya meninggalkan kota ini dan mencari pekerjaan di kota lain.
Sekarang “anak kami” sudah dapat berjalan, Lucu sekali, Matanya indah seperti mata ibunya.

Kadang terpikir untuk mengetahui anak siapa sebenarnya “anak kami” ini, Tapi kemudian aku menguburnya dalam-dalam.

Aku khawatir kebahagiaan rumah tangga kami akan hancur bila ternyata kenyataan pahitlah yang kami dapati.

Akhir Desember 1997 kami menikmati pergantian tahun baru di rumah saja, Peristiwa ini kembali menguak kenangan buruknya Matanya berkaca-kaca.

Aku memeluk dan membelai rambutnya Beberapa menit kemudian, dalam dekapanku dia mengaku bahwa sebelum peristiwa itu terjadi, sebenarnya dia sudah jatuh cinta padaku.

Dia ikut mencari kayu bakar karena dia ingin bisa dekat denganku.

Ya Tuhan, aku benar-benar menyesal. Pengakuannya ini membuat hatiku pedih tak terkira.

Kami tidak bertanggung jawab atas apapun juga karena yang kami gunakan adalah nama samaran.

Tags: