Rasa Bercumbu Sambil Menikmati Seks - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
5980
post-template-default,single,single-post,postid-5980,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita Hot

Rasa Bercumbu Sambil Menikmati Seks

Peristiwa ini terjadi selama 2 tahun yang kemudian di Amerika. Saya kuliah di universitas yang lumayan familiar di dunia. Berhubung sekolahnya bagus, maka anak-anak Indonesia yang kuliah di sana rata-rata mahasiswa yang pintar. Cewek yang cantik saja hanya beberapa, itupun telah ada cowoknya semua. Nah awalnya, terdapat cewek yang baru datang dari Jakarta mempunyai nama Vira (nama samaran). Saya sudah tidak jarang mendengar kisah dari teman-teman bahwa Vira ini cantik dan suka berpakaian seksi, lagipula di mula Fall semester tersebut udara masih panas-panasnya.

Suatu hari di kampus, saya berpapasan dengan teman-teman cewek. Seperti biasa, saya hanya basa-basi saja sebab saya memang familiar cuek di depan cewek-cewek. Setelah basa-basi, saya bilang saya telah terlambat masuk ke kelas. Ketika balik badan, eh nyaris bertabrakan dengan cewek tinggi cantik yang sedang lewat di belakangku. Yang beda langsung tertawa.
“Alahh Ricky tentu deh disengaja agar kenalan”, kata cewek-cewek menggodaku. Ternyata tersebut yang namanya Vira.
“Alow.., saya Ricky”.
“Vira”, katanya cuek.

Setelah hari tersebut saya tidak pernah lagi bertemu dengan Vira. Sampai sebuah hari saat baru terbit dari kelas, ketika jalan kembali saya lihat Vira sedang duduk sendirian mengisap rokok di luar gedung English. Ah, peluang nih pikirku. Langsung saya hampiri dia. Wah tak waras deh.., pakaiannya membuatku tidak tahan. Baju minim bertali atasnya dan celana pendek berwarna coklat. Ketika saya didepannya, kelihatan payudaranya yang menonjol dengan tali BH hitamnya yang meningkatkan seksi penampilannya. Wah.., begini rupanya cewek-cewek Jakarta jaman sekarang. Setelah basa-basi sedikit, saya ikutan merokok bareng dia dan bercerita mengenai diri kita.
Tiba-tiba dia bertanya, “Eh Ric.., loe bila tidak ada ruang belajar lagi jalan yuk.., Saya pribumi boring banget nih”. Terus sesudah bingung inginkan jalan ke mana, kita menyimpulkan pergi ke kota H yang jaraknya 2 jam. Katanya dia inginkan ke mall, pingin shopping.
Hari tersebut kita jadi akrab sekali hingga sempat bergandengan tangan di mall. Saya tidak tahu mengapa saya yang tadinya nafsu jadi suka benar kepadanya. Anaknya cuek, asik dan lucu lagi. Apalagi dia senang saja jalan denganku yang tergolong anak “bawah” di kotaku. Mobil telah butut, fulus selalu pas-pasan. Wah.., untung deh kayaknya si Vira ini tidak matre.

Setelah sebulan jadi rekan dekat, sebuah malam kembali dari main billiard dia mengajakku ke tempatnya. Dia tinggal bareng tantenya yang telah berkeluarga dan punya 2 anak. Waktu tersebut sekitar jam 2 malam. Jadi Om dan Tantenya telah pada istirahat semua. Dia langsung mengajakku ke dapurnya yang paling besar.
“Mau beer Ky?”, tawar Vira.
“Tidak usahlah Vir.., bila loe inginkan ya satu berdua saja”, jawabku (saya memang tidak begitu suka yang namanya minuman keras).
Terus masa-masa Vira datang membawa beernya.., dia langsung jongkok di depanku yang sedang duduk di kursi. Wah.., lagi-lagi dengan di antara baju sexynya, pemandangan payudaranya serupa di depan mataku. Tanpa sadar penisku telah naik menyaksikan tonjolan payudara yang putih itu. Karena posisiku yang lagi duduk, maka penisku yang sedang tegak menjadi agak nyangkut. Langsung saya menunduk sedikit agar tegangnya tidak begitu menyiksa.

“Ky.., loe tuh telah Saya anggap rekan dekat Saya disini. Terus terang.., loe tuh satu-satunya yang cuek saja bila didepan Saya.., makanya saya suka. Cowok beda kan rata-rata suka genit-genit gitu.., ah males banget deh Saya lihat cowok gituan”, kata Vira seraya menatap tajam ke mataku.
“Jadi rekan doang nihh?”, kataku seraya ketawa kecil.
“Ini baru inginkan nanya.., loe sama Saya saja inginkan gak?”, kata Vira seraya tersenyum kecil.
“Ah canda loe.., Saya tidak terdapat modal bikin pacaran Vir”, saya menanggapinya seraya tersenyum juga.
“Sudah ah.., bila tidak inginkan ya sudah”, kata Vira dengan pura-pura cemberut.
Tidak tahu ada desakan dari mana, tiba-tiba jari telunjukku bermain di bahunya. Terus jariku naik mencari leher dan telinganya. Saya lihat Vira diam saja merasakan permainan kecilku.
Setelah sejumlah saat saya tanya, “Vir.., Saya boleh cium loe tidak?”.
“Sekali saja ya Ky..”, katanya dengan senyum nakalnya. Saya bungkukkan badan dan langsung saya cium bibirnya dengan lembut. Pertama anda main bibir saja, terus dia yang mulai memainkan lidah. Setelah sejumlah saat dia pegang tanganku seraya menuntunnya ke kamarnya.
Dengan was-was saya tanya, “Eh Oom loe tidak bangun sebentar Vir?”.
“Makanya tidak boleh ribut!”, jawab Vira cuek.

Sampai di kamar, dia duduk duluan di kasurnya yang cukup besar. Saya jongkok di depannya dan mulai menghirup bibirnya lagi. Kali ini tanganku mulai berani memegang payudaranya yang berukuran 34B. Bagi ukuran tubuhnya yang tinggi kurus payudaranya tergolong besar dan pas sekali.
Tiba-tiba Vira mendorongku menghentikan ciuman dan berbisik, “Ky.., terdapat satu yang butuh loe tau.., Saya belum pernah lho yang aneh-aneh.., Paling jauh hanya ciuman”.
Dengan kaget saya langsung bilang, “Ya telah deh Vir.., tidak usah saja ginian”.
Dengan cepet Vira mencukur omonganku, “Bukan gitu Ky.., Maksud Saya.., ya pelan-pelan saja, Saya pun tidak inginkan loe ngira Saya beginian sama seluruh cowok”.
“Saya tidak peduli pun dengan masa kemudian loe Vir.., yang urgen sekarang Saya senang sama loe.., Kalau loe dulu sering pun gak apa-apa kok.., kan jadi asik loe telah pengalaman”, candaku seraya ketawa kecil fobia Oom dan Tantenya terbangun.
“sialan loe!”, katanya ikutan ketawa kecil.

Tidak berapa lama, saya maju lagi dan mulai menghirup Vira. Setelah sejumlah menit saya buka bajunya. Tinggal BH silk yang berwarna biru muda. Tanpa melepas BH-nya, payudaranya saya keluarin dan mulai saya pindah ciumin dan mainin kedua payudaranya. Terus terang, sebelum ini belum pernah saya menyaksikan payudara sebagus ini. Penisku menjadi paling tegang. Apalagi permainan yang pelan-pelan begini menciptakan suasana kian erotis dan menyangga rasa nafsu yang menggebu-gebu membuatku semakin merasakan permainan ini.
“Vir.., Saya boleh ciumin bawah lu tidak?”, tanya saya hati-hati. Vira melulu mengangguk kecil. Kelihatan diwajahnya bahwa dia pun menikmati sekali permainan saya.
“Loe tiduran saja Vir”, kata saya seraya berdiri dan membuka baju dan celanaku. Setelah dia telentang saya buka pelan-pelan celananya. Tinggallah celana dalamnya yang pun berwarna biru muda. Saya cium kakinya dari betis naik pelan-pelan ke paha dan berhenti di selangkangannya. Dengan perlahan saya tarik ke bawah celana dalamnya. Ternyata bulu vaginanya tipis dan lurus. Pas sekali nih dalam hati saya. Saya tidak begitu suka vagina yang berbulu lebat. Mulailah saya jilati vaginanya seraya saya masukin lidahku ke dalamnya. Vira diam saja seraya sedikit bergoyang.

Setelah sejumlah menit Vira telah basah dan saya pun sudah tidak tahan dari tadi hanya tegang saja. Saya ciumi pelan pusarnya naik ke payudaranya terus leher dan melumat bibirnya. Sambil berciuman saya mengupayakan memasukkan penisku ke vaginanya. Pertama sih pelan eh tahunya tidak masuk-masuk. Penisku tidak terlampau besar, tapi cukup panjang. Saya mengupayakan lagi menusukkan penisku, eh tetap saja tidak masuk. “Benar pun nih anak masih perawan”, dalam hatiku. Sambil menciuminya, saya berbisik, “Saya jajaki agak keras ya Vir?”. Tanpa menantikan jawaban langsung saya jajaki menerobos lagi dengan lebih keras. Tetap saja tidak bisa.
Akhirnya sesudah kira-kira 10 menit tembus pun pertahanan Vira. Pertama dia terlihat kesakitan, namun lama-lama Vira mulai mendesah-deash kecil keenakan. Tangan kananku disuruhnya memblokir mulutnya agar dia tidak mendesah terlampau keras.
Sayang karena sudah ereksi semenjak tadi, saya cuma dapat bertahan 10 menit.
“Saya mau terbit nih Vir..” kataku dengan napas yang tidak teratur.
“Di luar Ky!”, jawabnya cepat.
Tidak berapa lama saya keluarin sperma saya di perutnya. Saya langsung memungut tissue dan mencuci spermaku diperutnya. Vira masih telentang diam di lokasi tidur.
“Loe tidak pa-pa Vir?”, tanyaku kawatir fobia dia menyesal.
“Aduh Ky.., sakit nih bila saya gerakin”, jawabnya dengan muka meringis.
“Pelan-pelan saja Vir”, kataku seraya berpakaian lagi.

Akhirnya Vira berdiri dan ikutan berpakaian.
“Ky.., loe balik deh.., kelak kan ada ruang belajar pagi”, kata Vira tanpa expressi.
“Iya deh Vir..”, jawabku sambil menghirup bibir dan keningnya.
Dia mengantarkanku hingga di pintu depan dan saya tanpa tidak sedikit bicara langsung pergi pulang. Ini kesatu kali saya memungut perawan cewek. Ada perasaan was-was dalam hatiku.

Besoknya di kampus laksana biasa ketemu Vira di depan Perpustakaan. Saya dengan deg-degan mengupayakan tersenyum ke Vira. Saat di depanku, dadaku ditonjok dengan keras.
“Sakit tau!”, kata Vira dengan nada keras. Saya diam saja tidak tahu inginkan ngomong apa. Eh tahunya dia langsung ketawa terbahak-bahak.
“Tidak pa-pa kok Ky.., saya tidak marah sama loe.., asal..”, katanya dengan senyum-senyum.
“Asal apaan?”, tanyaku tidak sabar.
“Asal loe jadi cowok saya mulai sekarang”, Kata Vira seraya menatap tajam.
Dengan hati senang saya langsung bilang, “Saya sih telah nganggep loe cewek saya dari dulu”.
Akhirnya anda ketawa dan sejak tersebut Vira mulai belajar seks pelan-pelan dengan saya tentunya.

 

 

Related Post