RINA - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
5708
post-template-default,single,single-post,postid-5708,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita Hot

RINA

Aku adalah seorang mahasiswa tahun akhir di U KL Pada ketika ini aku tidak ke kuliah lagi cuma buat kerja thesis. Oleh karena itu aku sering pergi ke rumah abang ku di KL. Suatu hari aku kerumah abang ku. Ketika aku sampai ke rumah abangku, aku melihat ada tetamu, rupanya dia adalah teman kuliah abangku waktu dulu. Aku dikenalkan oleh abangku kepadanya. Rupanya ia sangat ramah denganku. Usianya 40 tahun dan sebut saja namanya Firman.

Dia pun mengundangku untuk ke rumahnya dan dikenalkan pada anak-isterinya. Isterinya, Dian, 7 tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Rina, belajar di tingkatan 4. Dan pada hari isnin, aku ditugaskan oleh Firman untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia akan pergi ke Perlis, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara isterinya. Menurutnya sakit demam berdarah dan dirawat selama 3 hari.Dia minta cuti untuk satu minggu. Dia berangkat bersama isterinya, sedangkan anaknya tidak ikut kerana sekolah. Setelah 3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah abangku, karena aku tidak sibuk dan aku pun menuju rumah Firman. Aku pun berehat sambil menyalakan VCD. Selesai satu film. Saat melihat rak, di bagian bawahnya kulihat beberapa VCD porno. Kerana memang sendirian, aku pun menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka. Aku pun tergopoh-gopoh mematikan tv dan menaruh pembungkus VCD di bawah karpet. “Hallo, Abang Mat..!” Rina yang baru masuk tersenyum. “Eh, tolong bayarkan tambang teksi… wang Rina beasr, abangnya tak ada wang kecil.” Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan tambang teksi yang cuma dua ringgit setengah.

Saat aku masuk kembali.., pucat wajahku! Rina duduk di karpet di depan tv, dan menghidupkan video porno yang sedang setengah jalan. Rina memandang kepadaku dan tertawa geli. “Ih! Abang Mat! Begitu, caranya..? Rina sering dicerita oleh kawan-kawan sekolah, tapi belum pernah lihat.” Gugup aku menjawab, “Rina… kamu tak boleh tengok itu! Kamu belum cukup umur!mati aku.” “Aahhh, Abang Mat. Jangan gitu, Tu, lihat… cuma begitu aja! Gambar yang dibawa kawan Rina di sekolah lebih ganas.” Tak tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Rina, dia akan beritahu pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Rina terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah. Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya, di dalam rumah kulihat Rina sedang tengkurap di sofa mengerjakan kerja sekolah.

Ia mengenakan baju yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih bersih, dan punggungnya membulat indah. Aku menelan air liur dan terus masuk menyiapkan makanan. Setelah makanan siap, aku memanggil Rina. Dan.., sekali lagi aku terkejut… jelas ia tidak memakai coli, karena puting susunya yang menjulang membayang di bajunya. Aku semakin gelisah kerana penisku yang tadi sudah mulai “bergerak”, sekarang benar-benar menegak dan mengganjal di seluarku. Selesai makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari celah di bajunya, buah dadanya yang indah mengintip. Ketika ia membungkuk, puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah. Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang tamu. “Abang, cuba teka. Hitam, kecil, keringetan, apa dia..!” “Ah, senang! Semut lagi push-up! Kan ada di tutup botol Fanta! Lain… putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..?” Rina menberi jawapan dan memberi beberapa cuba yang semua kusalahkan. “Yang benar… Rina pakai seragam sekolah, kepanasan di dalam teksi..!” “Aahhh… Abang Mat..!” Rina meloncat dari sofa dan berusaha mencubit lenganku. Aku menghindar dan menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan… Ia jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya, dan ia duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami termengah-mengah dalam posisi itu. Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin terangsang. Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Rina mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Rina makin kencang, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Seluar dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang. “Uuuhh… mmmhhh…” Rina sedikit meronta.

Baca Juga: The Nature of Great Color

Kesedaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahawa yang sedang kucumbu adalah seorang gadis sekolah, tapi nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun menarik lepas bajunya dari bawah ke kepalanya. Aahhh..! Rina menelentang di sofa dengan tubuh hampir terdedah! Aku segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan hingga dadanya basah mengilap oleh liurku. Tangan Rina yang mengelus belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. Aku menarik lepas seluar dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengilap oleh cairan kemaluan Rina. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya. “Ehhh… mmmaaahhh..,” tangan Rina meramas sofa dan punggungnya menggeletar ketika bibir kemaluannya kucium. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan. “Ooohh… aduuhhh..,” Rina mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Rina akan terlonjak dan nafas Rina seakan tersedak.

Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Rina tergeletak termengah-mengah, matanya terpejam. Tergesa-gesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak menunjuk ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Rina. “Mmmhh… mmmhhh… ooohhhmmm..,” ketika Rina membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku. Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya. Segera saja kemaluanku basah dan mengilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh Rina dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Rina dan aroma kemaluan Rina di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Rina, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Rina menekan pantatku dari belakang. “Baaannggg, mam… msuk… hhh… msukain… Banggg… hhh… ehekmm…” Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Rina semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja, ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Rina masih bersekolah dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil. Tetapi dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha.

Akhirnya usahaku pun berhasil. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Rina memekik kecil, dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkam kulit punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku menyentuh dasar padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak, membiarkan otot-otot kemaluan Rina terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya. Sebentar kemudian kernyit di dahi Rina menghilang, dan aku pun mulai menarik dan menekankan punggungku. Rina mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya menceracau. “Aduhhh… ssshhh… iya… terusshh… mmmhhh… aduhhh… sedap… Banggg…” Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Rina, lalu membalikkan kedua tubuh kami hingga Rina sekarang duduk di atas ku. Nampak 3/4 kemaluanku didalam kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Rina segera menggerakkan punggungnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada, kelentit dan punggungnya, dan kami pun berkejaran mencapai puncak. Beberapa waktu berlalu, gerakan punggung Rina semakin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya dan bibir kami berlumatan. Tangannya menarik rambutku, dan akhirnya punggungnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalut seluruh batang kemaluanku. Setelah tubuh Rina melemas, aku menyuruh ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Rina tentu merasakan siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang ke dua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme. “Aduh, Bang… Rina lemas. Tapi ssyok betul.” Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi ada di punggungnya dan meramas-ramas.

Kupikir tubuhku yang lelah sudah terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah lemas bangkit kembali dijepit liang vagina Rina yang masih amat kencang. Aku segera membawanya ke kamar mandi, membersihkan tubuh kami berdua dan… kembali ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku mencapai tiga kali lagi orgasme, dan Rina… entah berapa kali. Begitupun di saat bangun pagi, sekali lagi kami bergomol penuh kenikmatan sebelum akhirnya Rina kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah. Kembali ke rumah Firman, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera baring kelelahan. Di tengah tidurku aku bermimpi seolah Rina pulang sekolah, masuk ke kamar dan membuka bajunya, lalu menarik seluarku dan mengulum kemaluanku. Tapi segera saja aku sedar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat keluar kamar dan kelihatan VCD menyala, dengan film yang kemarin. Ah! Merasakan caranya memberiku “blowjob”, aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari VCD

 

Related Post