Sekretaris Kantor - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
10178
post-template-default,single,single-post,postid-10178,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita hot

Sekretaris Kantor

Cerita hot – Hari itu aku datang ke kantor sekitar pukul 9.30 pagi, Sebenarnya aku malas untuk masuk kerja hari ini, tetapi akan ada rapat bulanan yang diikuti semua departemen. Terlebih ayahku akan datang juga dalam rapat itu, jadi akupun harus masuk kerja.

Sebenarnya aku lebih suka pergi dengan teman kuliahku dulu di Swiss yang datang ke Jakarta. Dia ingin aku ajak jalan-jalan.. Tapi yach karena ada rapat sialan ini aku harus tunda deh sampai malam nanti. Aku sudah janjian dengan dia, akan aku jemput sehabis pulang kantor nanti. Eh.. Dia malah menolak dan bilang dia yang akan ke kantorku sore nanti. Dia bilang tidak apa harus menunggu karena dia bisa bertemu dengan sekretarisku, Ria.

Temanku itu, Jack, orang swiss . Pernah dia main ke kantorku dan tampaknya dia terpesona dengan kecantikan dan kesexyan Ria. Memang sekertarisku itu cantik dan sexy sekali. Dia berumur 24 tahun, berkulit putih dengan tinggi 173 cm. Posturnya yang tinggi dan langsing, didukung dengan buah dadanya yang besar(mungkin 36D).

Wajahnya sekilas mirip Maria Ozawa bintang porno itu. Dia lulusan akademi sekretaris dan fasih berbahasa Inggris. Tak heran kalau si Jack suka sama dia dan selalu mengajak ngobrol kalau ketemu. Tetapi aku sudah peringatkan si bule itu, kalau sekertarisku tidak boleh diganggu. Hanya aku yang boleh menikmatinya.. (disamping tunangannya kali ye..).

Baca Juga: Cerita Sex Kemontokan Sri Si Janda Kembang

Begitu masuk ke lobby, aku berharap melihat Shinta di sana. Tapi ternyata yang ada di meja resepsionis bukan dia tapi si Yudi office boy kantor.

“Selamat pagi Pak” Yudi menyapaku.
“Pagi.. Lho kok kamu yang di sini, Shinta mana?”
“Hari ini nggak masuk Pak”
“Kenapa?”
“Maaf Pak.. Saya nggak tahu”

Wah.. Kenapa ya si Shinta nggak masuk hari ini. Apa karena dia tidak tahan lagi dengan perlakuanku pada dia.. pikirku. Begitu masuk ke ruanganku, aku telpon Ibu Dina atasan langsungnya.

“Bu Dina.. Shinta kenapa kok tidak masuk?” tanyaku
“Oh.. Anu Pak Harry.. Anu. Si Shinta minta ijin.. Apa.. Ibunya masuk rumah sakit.. Tadi pagi dia telpon saya.” Ibu Dina ini memang selalu gugup kalau bicara denganku.

Dia sudah bekerja lama di kantor dan sudah berumur juga. Sejak ayahku merintis perusahaan ini, dia sudah bergabung.

“Terus kamu ijinkan?” tanyaku.
“Iiya Pak.. Maaf Pak..”
“Ya sudah. Ijin berapa hari?” tanyaku.
“Dua hari Pak”
“Apa?? Dua hari?? Tidak bisa!! Bilang sama dia harus masuk besok!!” perintahku.
“Baaiikk Pak Harrryyyyyy..”

Aku memang sedang nafsu dengan keindahan gadis belia Shinta ini. Hari ini aku sudah berencana untuk memakainya sehabis meeting nanti. Beberapa kali memang aku pakai dia sewaktu jam kerja hanya untuk sekedar oral seks saja. Lain soalnya jika sudah jam pulang kantor. Jika sudah sepi aku setubuhi dia di kantorku sementara kadang kala pacarnya menunggu di lobby.

Eh.. Ternyata dia nggak masuk!! Ya sudah besok saja akan aku hukum dia. He.. He… Hm.. Memikirkan apa yang akan aku perbuat esok terhadap si Shinta ini aku tersenyum sendiri. Aku harus kreatif nih..

Meeting hari itu berlangsung sangat membosankan. Setiap kepala departemen memberikan presentasi tentang kinerja bagian masing-masing. Aku sudah tak sabar ingin cepat sore hari saja. Kulihat arloji Peneraiku detiknya kok terasa lebih lambat dari biasanya. Tapi karena ayahku ada di ruangan itu, aku pasang wajah serius.. Walaupun dalam benakku yang terlintas bukan mengenai sales turnover, competitive analysis, dan lain sebagainya yang bikin orang ngantuk itu. Tetapi aku memikirkan mau aku ajak ke mana si bule gila anak buah Didier Burkhalter itu.

Yang menarik perhatianku, para manajer di ruangan itu tampak sesekali melirik ke Ria yang duduk di sebelahku. Memang dia hari itu berpakaian sexy nan mengundang hasrat setiap lelaki normal. Bajunya berleher agak sedikit rendah sehingga belahan buah dadanya yang ranum nampak menggoda. Juga roknya yang mini dan stoking hitamnya menjadikan Ria begitu menjadi perhatian manajer-manajer di ruangan itu. Akupun tersenyum dalam hati.. Bolehlah kalian pelototin sekertarisku.. Asalkan tidak boleh sedikitpun menyentuhnya.

Setelah meeting selesai, akupun kembali ke ruanganku. Membalas e-mail termasuk beberapa e-mail yang penting. Tak lama Ria masuk ke ruanganku.

“Ada apa Ria?” tanyaku sambil masih mengetik e-mail di notebookku.
“Ini Pak.. Saya ada masalah sedikit” katanya.
“Coba ceritakan” kataku.

Lalu dia menceritakan bahwa dia merasa terganggu dengan perhatian yang berlebihan dari seorang karyawan di bagian IT bernama Supendi. Ternyata Supendi ini jatuh cinta berat sama Ria. Dia sering membelikan coklat, kue, kartu, bunga, dll. Yang paling mengesalkan Ria, si Supendi ini sering telpon ke rumah atau ke HP, kirim SMS dll.

“Padahal dia tahu saya sudah bertunangan Pak.. Tapi dia tetap nekat terus” Ria menambahkan.
“Yach habis kamu cantik sih ” kataku.

Ria tersenyum senang mendengar pujianku. Memang satu dua minggu terakhir ini Ria nampak cemburu karena perhatianku terfokus ke Shinta. Sudah agak jarang aku berikan dia kenikmatan birahi seperti dulu. Tapi hari itu aku jadi horny sekali melihat dia. Mungkin karena kecewa Shinta tidak ada, atau juga karena cara para manajer menelanjangi Ria dengan mata mereka yang membuat aku bergairah. Tetapi tentu saja penampilan Ria hari itu juga ok banget.

Tiba-tiba saja ada ide terlintas di benakku. Aku tahu kalau Ria ini seorang eksibisionis. Dia memang suka kalau keindahan tubuhnya dikagumi orang, hanya dia tidak mau kalau disentuh orang lain kecuali tunangannya dan aku tentunya. Pernah aku setubuhi dia di depan anak SMA, dan dia tampak sangat menikmatinya. Dia sendiri yang punya ide seperti itu, dan menawarkan kepada anak cowok SMA yang kita temui di mal untuk melihat dan memfoto kita saat bersetubuh.

Dapat dibayangkan betapa hornynya anak itu melihat Ria yang dengan sengaja menggoda dia saat bersetubuh denganku. Entah berapa kali anak tanggung itu beronani ria.., tanpa mendapatkan kesempatan sekalipun untuk menyentuh Ria. Mungkin hanya sedikit saat Ria meminta dia untuk membuka pengait BHnya yang ada di bagian depan itu.

“Bagaimana kalau kita kerjain si Supendi seperti anak SMA dulu itu?” usulku sambil tersenyum nakal.
“Hm.. Nanti kalau dia bilang-bilang sama yang lain gimana Pak?” Ria tampak senang dengan ide itu walaupun agak cemas dengan resikonya.
“Ah.. Nggak mungkin dia berani begitu.. Terlebih dia juga nggak punya bukti”
“Iya Pak. Kalau begitu boleh.. Biar tau rasa dia.. Masa jelek begitu mau sama saya” kata Ria tersenyum. Hm.. Memang binal sekertarisku ini.

Hari itu sekitar jam 3.30 aku pulang kantor. Aman.. Karena ayahku sudah pulang sejak meeting selesai tadi siang. Aku ajak Ria tentu saja dengan alasan mau ketemu klien. Sebenarnya aku tak perlu pakai alasan-alasan segala, tetapi Ria merasa nggak enak dengan rekan-rekan sekretaris lainnya. Jadi aku pura-pura bilang ke dia untuk bawa bahan presentasi buat si klien di depan teman-temannya. Sebenarnya aku yakin kalau kelakuanku dan si Ria ini sudah jadi rahasia umum di sini, tapi yach memang si Ria ini ada-ada saja..

Tak lupa aku ajak si Supendi. Aku telpon Pak Chandra manajer IT untuk meminjam Supendi dengan alasan untuk memperbaiki PCku yang rusak di apartemenku. Memang PCku suka ngadat.. Nggak tau kenapa.

Aku dan Ria sudah siap menunggu di depan lift, baru si Supendi nongol sambil membawa perkakas reparasinya. Kurang ajar juga nih anak, pikirku. Masak bos disuruh nunggu.

“Maaf Pak.. Tadi ada yang ketinggalan” katanya beralasan.

Kamipun langsung meluncur dengan Jaguar hitam kesayanganku menembus jalanan kota Jakarta. Ria duduk didepan disebelahku, sedang Supendi duduk dibelakang. Sabuk pengaman yang dikenakan Ria makin membuat buah dada putih 36Cnya mencuat. Mata Supendi sudah lirik sana-lirik sini, tampak dari kaca spionku. Dia melirik paha mulus milik Ria yang terbungkus stoking hitam. Dari cara duduknya tampak Ria memang sengaja menggoda dia.

Sebelumnya aku akan coba gambarkan tentang si Supendi ini. Dia berumur 22 tahun, dan tampangnya “nerdy” sekali. Yach seperti professor linglung begitulah.. Memang orangnya pintar, tapi yach itu tadi.. Penampilannya ancur-ancuran. Pantas dia kerja di IT yang berhubungan dengan mesin bukan orang.

Dia sering diledek dan diganggu oleh teman-temannya, terutama sih oleh Ria. Mungkin karena dia kesal kok bisa ditaksir orang macam Supendi. Omongan “najis”, “hey jelek..”, “gila lu ngaca dulu donk.. Mana nafsu gua ama lo” itu yang pernah aku dengar diucapkan Ria padanya. Pernah aku dengar si Supendi ini nangis karena nggak tahan dimaki-maki Ria. Gara-garanya si Supendi nekat mau traktir Ria waktu sehabis gajian. Bukannya diterima eh.. Malah dimaki secara kasar oleh Ria di depan umum.

“Daripada traktir gue mendingan lo nabung deh buat operasi plastik.. Kalau lo jadi ganteng kayak Pak Harry mungkin gue baru mau ama lo” desas-desusnya sih begitu yang dikatakan Ria saat itu. Wah.. Memang sekertarisku ini lain dari yang lain. Cantik bukan main tapi juga kejam sama orang yang lebih rendah dari dia. Juga liar di atas ranjang.. Hm.. Really my type of girl..

Singkat cerita, kamipun sampai di apartemenku. Di dalam lift Ria sudah mulai beraksi. Dia menciumiku sambil matanya tak henti menatap Supendi yang tak berkedip menatap. Ria tampak senang sekali melihat Supendi sudah mulai bernafsu. Pintu lift terbuka di lantai 10, dua orang masuk.., sehingga Riapun melepas ciumannya, tetapi tetap aku rangkul pundaknya sambil kuelus-elus. Ria tersenyum menggoda sementara Supendi wajahnya mulai memerah..

Setelah sampai di apartemenku, Supendi pun bertanya di mana PCku yang rusak.

“Nanti saja” jawabku.
“Lho Pak..”
“Iya aku ingin membicarakan hal yang lain dahulu” kataku.
“Duduk!!” perintahku sambil menunjuk sofa yang ada di ruang tamu apartemenku.

Ria sudah tersenyum geli sambil tetap menggelendot di pundakku. Wangi tubuhnya sangat merangsang..

“Ada apa Pakk” Supendi tampak takut dan gugup.
“Saya dengar kamu suka godain Ria ya? Hah?!!” bentakku.
“Nggak Pak..”
“Iya Pak bohong dia” kata Ria.

Kamipun duduk berhadapan dengan Supendi. Ria aku rangkul di sebelahku. Tanganku mengelus-elus pundaknya.

“Kamu cinta ya sama Ria? Jawab yang jujur!!” tanyaku.

Supendi nggak menjawab.. Hanya diam menunduk memandangi karpet ruang tamuku.

“Kamu harus sadar diri donk.. Masa kamu mau sama cewek cantik seperti Ria” kataku. Ria senyum-senyum sinis melihat Supendi yang tetap menunduk.
“Kamu kalau diajak omong liat sini yach!!” bentakku.

Supendi pun mendongakkan wajahnya yg bego dan berbibir tebal itu.

“Kesiann deh lo” kata Ria sambil tertawa..
“Cewek seperti Ria itu hanya untuk orang sekelas saya tau!!” kataku lagi.

Ria mulai menciumiku. Akupun membalas ciumannya. Kemudian aku tarik Ria berdiri dan kami berjalan kehadapan Supendi yang masih duduk di sofa. Ria berdiri didepan Supendi dan aku dibelakang Ria sambil menciumi lehernya yang jenjang.

“Lihat nih.. Kalau aku sih bisa menikmati wanita pujaanmu. Kalau kamu sebatas lihat aja yach” kataku.

Ria tertawa kecil sambil berkata” dasar orang jelek nggak tau diri”. Ria kemudian mengangkat tangannya ke atas memeluk kepalaku. Buah dadanya tambah membusung. Kubuka kancing bajunya satu persatu.. Akhirnya lepaslah bajunya ke lantai. Aku buka juga BHnya, Ria tampak tersenyum nakal melihat Supendi. Supendi tampak melongo melihat kejadian di depannya itu. Mungkin baru pertama kalinya dia melihat buah dada seindah itu. Aku remas-remas buah dada itu sambil aku pilin puting merah mudanya yang mulai mengeras.

“Hmm Pak Harry.. Enak..” erang Ria.
“Pen, kamu pernah lihat buah dada seindah ini?” tanyaku.
“Be.. belum Pak” jawabnya menahan nafsu.
“Sekarang aku akan isap dan jilati buah dada Ria, wanita pujaanmu.. Kamu perhatikan baik-baik ya..” kataku.

Supendi tampak gelisah menahan syahwatnya. Kudekatkan kepalaku ke buah dada ranum milik Ria, dan kuisap dan jilati putingnya. Tanganku yang satu meremas buah dadanya yang lain. Sambil melakukan foreplay ini, kami tersenyum kepada Supendi

“Lihat nih jelek.. Kalau orang ganteng sih boleh menikmati buah dadaku” Ria berkata sambil tersenyum menggoda.

Tangan Supendi sudah meraba-raba kemaluan di balik celananya. Melihat itu, Ria langsung aku lepas dari pelukkanku.

“Apa-apaan kamu.. Kamu mau mau masturbasi di sini? Jangan coba-coba yach!!” bentakku.
“Mau dipecat lo?” tanya Ria sambil tertawa kecil.

Supendi langsung menarik tangannya ketakutan. Tapi tampak celananya sudah menonjol terdesak kemaluannya yang berontak.

“Kamu saya kasih hadiah deh.. Coba kamu bukain rok dan celana dalam Ria” perintahku.
“Benerr Pak?” jawab Supendi senang. Mungkin dia berharap nanti akan dapat lebih lagi. Padahal sih nggak mungkin kali ye..
“Cepetan monyong.. Kapan lagi lu bisa liat bodi cewek secantik gue?” sahut Ria.

Supendipun bangkit dari duduknya dan berjalan ke belakang Ria. Diturunkannya retsleting rok mini sekretaris binalkku itu.

“Awas kalau berani pegang-pegang yach” kata Ria.

Riapun kini tinggal mengenakan celana dalam G-string hitam dipadu dengan stoking yang sewarna. Melihat pemandangan itu, aku berubah pikiran. Aku tak ingin celana dalam Ria dilepas. Rasanya lebih sexy kalau tetap dipakai.

“Celana dalamnya biarin aja” kataku. Supendi tampak kecewa
“Udah ngapain lo berdiri terus di situ.. Duduk sana. Gue mau ngentot sama Pak Harry nih.. Gue mau isepin kontolnya dulu.. Lo lihat aja ya.. Jelek” Ria terus menggoda sambil mencaci Supendi.

Riapun berlutut didepanku. Celanaku dibukanya. Begitu juga celana dalamku. Sementara akupun membuka kemeja dan dasiku. Ria mengenggam kemaluanku yang sudah mencapai ukuran maksimal (20 cm) itu.

“Nih.. Baru cowok..” kata Ria pada Supendi yang sudah gelisah menahan nafsunya.
“Kamu baru tahu khan.. Untuk cewek secantik Ria.. Ukuran harus besar..” kataku.

Riapun mulai menjilati kepala kemaluanku sambil matanya tak henti menatap Supendi. Kemudian dikulumnya kemaluanku. Mulutnya yang mungil tampak penuh dengan kemaluanku. Tak mampu Ria menghisap semuanya, mungkin hanya setengahnya saja yang bisa ditampungnya. Kemudian Ria mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya, dan menjilati batangnya dan buah zakarku. Kemudian dia mengulum lagi kemaluanku, begitu seterusnya. Selama itu pula dia mendesah-desah sambil menatap Supendi dengan pandangan menggoda. Akupun sibuk menyibakkan rambut Ria agar tidak menutupi pandangan Supendi saat wanita pujaan hatinya ini sedang melakukan oral-sex kepada bosnya. Mungkin baru kali ini si Supendi melihat adegan seperti itu.

“Lo liat khan.. Enak bangeth.. Ehm…” Ria terus mengulum kemaluanku.

Supendi tampak sudah tidak karuan lagi tampangnya menahan gairah. Ingin dia melakukan masturbasi tetapi dia takut padaku dan Ria.

Kami lalu pindah ke sofa di depan Supendi. Ria duduk dipangkuanku menghadap Supendi sambil membelakangiku. Aku ciumi pundaknya lalu, dia menoleh kebelakang, dan kamipun berciuman. Kusibakkan celana dalam G-stringnya, dan vaginanya yang bersih tak berambut tampak merah merekah. Kuusap-usap vagina dan klitorisnya.

“Uhh.. Pak Harry… Ria suka… Ahh.. Enak sekali Pak..” Ria sudah meracau tidak karuan.

Matanya sudah menutup menahan gairah. Dia mungkin sudah lupa akan tugasnya menggoda Supendi. Saat tanganku meraba-raba vaginanya, Ria tampak meremas-remas buah dadanya sendiri. Aku ciumi pundak dan lehernya dari belakang sambil tersenyum menatap Supendi rasa puas bisa menunjukkan kekuasaanku dan keperkasaanku di depannya.

“Masukin Pak.. Please.. Fuck me.. Fuck me.. I beg you ” kata Ria meracau.

Akupun mengarahkan kemaluanku ke liang vagina Ria. Kemudian Ria menurunkan pantatnya yang sexy itu sehingga kemaluanku perlahan memasuki liang nikmat sekertarisku ini.

“Oh.. My God… So big… I love you Pak Harry…” Ria mengerang nikmat sambil menjerit tertahan. Memang menurut Ria, ukuran tunangannya tidak begitu besar. Hanya rata-rata saja, sehingga dia sangat puas bercumbu denganku.

Ria nampak sudah tak bisa mengontrol dirinya lagi. Pantatnya dinaik turunkan dengan liar sambil mengerang dan meracau

“Ohh.. Yess.. Pak.. Fuck me.. Oh so good…”
“Ohh… Yeah.. Ohh.. Yeah..”

Sekitar 15 menit kemudian diapun mencapai orgasmenya diikuti dengan lengkingan suaranya melepas beban hasrat seksualnya. Kemudian kutarik Ria berdiri dan aku ajak menghampiri tempat duduk Supendi. Kusuruh dia berlutut didepanku tepat didepan mata Supendi.

“Ayo sayang isap… Sampai keluar ya”
“Sedangkan kamu perhatikan baik-baik” kataku pada Supendi.

Ria pun menghisap dan mengulum kemaluanku tepat didepan Supendi. Tangan kananku berkacak pinggang sedangkan tangan kiriku menyibakkan rambut Ria agar Supendi dapat melihat dengan jelas bagaimana cara memperlakukan wanita secantik Ria.

Tak lama akupun merasa ada cairan yang akan keluar, dan kemudian aku remas rambut Ria sambil menyemburkan cairan ejakulasiku ke dalam mulutnya. Sebagian tampak meleleh keluar membasahi dagunya dan jatuh menuju buah dadanya yang besar.

“Eh.. Lo jangan bengong aja.. Ambilin gue tisu” bentak Ria pada si Supendi yang sedang tertegun melihat adegan kami itu.

Dengan menurut, Supendi mengambil tisu di atas meja.. Dan memberikannya pada Ria. Ria membersihkan sisa-sisa spermaku di wajah dan buah dadanya, terus memberikan pada Supendi.

“Jelek.. Nih buangin” perintahnya.

Aku tersenyum saja melihat perlakuan Ria pada si Supendi ini. Tampak semakin sexy saja sekretarisku ini ketika dia menunjukkan kuasanya pada si malang kutu buku ini.

Setelah bersih-bersih, kamipun mengenakan pakaian kami kembali. Kemudian kami memesan pizza untuk mengisi perut kami berdua yang keroncongan setelah bertempur tadi. Sementara itu si Supendi aku suruh memperbaiki PC di kamarku.

Tiba-tiba aku teringat janjiku dengan si bule Jack. Wahh.. Aku langsung telpon dia untuk minta maaf dengan alasan ada meeting mendadak dengan klien. Untung dia bisa mengerti dan bersedia mengubah janji untuk besok malam saja.

Riapun lupa kalau dia belum telpon tunangannya. Dia kemudian menelpon dan minta maaf karena harus ikut aku ke klien dan lupa menelpon untuk tidak usah dijemput di kantor tadi. Dia tampak kelelahan, hingga aku tawarkan untuk menginap saja di apartemenku daripada pulang ke rumah ortunya di Tangerang. Diapun setuju lalu mengabari ortunya kalau dia tidak bisa pulang dengan alasan-alasan klise.

Tak lama Supendi pun selesai mereparasi komputerku. Katanya ada masalah di memorinya. Memang pintar anak itu. Aku kemudian suruh Ria untuk memberi dia uang untuk ongkos pulang. Riapun mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya dan kemudian memberikannya pada Supendi.

“Nih buat lo. Udah pulang sana. Awas ya kalau lo cerita-cerita” ancamnya.

Supendipun kemudian pamit pulang. Entah apa yang tadi ada di benaknya menyaksikan adegan persetubuhanku dengan Ria wanita pujaannya. Aku rasa dia akan masturbasi habis-habisan sesampainya di rumah Ha.. Ha..

Related Post