Si Gadis Dengan Body Mulus Membuatku Terpesona - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
5983
post-template-default,single,single-post,postid-5983,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita Hot

Si Gadis Dengan Body Mulus Membuatku Terpesona

Aku sudah bekerja selama nyaris 6 tahun di unsur akuntansi dan pun masih menempuh kuliah semester 4 di sebuat PTS ternama di Surabaya. Aku selalu mengemudikan motor bututku ke mana aku pergi, baik tersebut ke kantor maupun aku ke kampus.

Pada sebuah hari, waktu tersebut jumat pagi aku bakal berangkat senam di kantor, aku mengemudikan motorku dengan agak tergesa-gesa, maklum telah agak terlambat. Sesampainya di jalan Ahmad Yani aku terperanjat hebat sebab ada mobil yang mencukur di depanku,

Tanpa bisa aku kuasai kesudahannya akupun menabraknya dan terjatuh dengan luka yang cukup parah, lantas aku pingsan. Aku sadar ketika aku telah di lokasi tinggal sakit AL di sekitar kawasan itu, aku membuka mataku pelan-pelan dan seorang cewek cantik telah tersenyum kepadaku.

“Mas, ampuni saya”, dia menyampaikan kata dengan sarat pesona.
“Nggak pa-pa..”, kataku lirih.
“Nama saya Rina”, kata cewek itu.
“Saya Dimas”, jawabku singkat.

Baca Juga: Cerita Porno Bayar Hutang Yang Kebablasan

Kamipun ngobrol kesana kemari, aku telah agak enakan dengan kehadirannya aku energik sekali guna segera sembuh. Sejak peristiwa tersebut aku dirawatnya sampai aku pulang, kedua orang tuanya pun tidak jarang kali menjengukku tiap senja hari, maklumlah aku anak perantauan yang jauh dari keluarga.

Setelah seminggu diasuh aku diizinkan pulang oleh pihak lokasi tinggal sakit. Semua ongkos ditanggung oleh family Rina tergolong motorku yang rusak. Aku diberi motor baru sebagai gantinya dengan asa aku bakal lebih baik, aku selalu dirasakan sebagai family Rina sampai-sampai aku diminta bermukim di rumahnya. Akupun paling berterima kasih karena akan tidak sedikit mengurangi biayaku. Rina di lokasi tinggal itu ialah anak tunggal dan tidak jarang kali dimanja.

Setelah nyaris 6 bulan aku bermukim aku mulai menikmati bahwa Rina mulai menyukaiku, memang sih umur kami tidak jauh terpaut aku masih 24 tahun sedang Rina 20 tahun. Rina kuliah pagi di PTN semester 4 juga. Rina ialah cewek yang paling cantik dengan format tubuh yang paling seksi, sehingga tidak sedikit cowok yang hendak jadi kekasihnya.

Singkat cerita, pada hari jumat senja aku di telepon ke kantor guna segera kembali sore sebab ayah dan ibunya bakal ke Jakarta. Aku segera kembali setelah jam 14.30. Sesampainya di lokasi tinggal aku mendapati lokasi tinggal dalam suasana sepi. Aku pencet bel dan Rina melulu berteriak dari dalam bahwa pintu tidak dikunci. Aku masuk ke kamarku di atas, aku yakin orang tua Rina telah berangkat, akupun mandi dan bermaksud istirahat, akan namun dari bawah Rina berteriak.

“Mas, telah saya bikinkan kopi cream di meja belajarku”, teriak Rina.
“Ya…”, aku turun dan mengetuk kamar Rina.
“Masuk saja tidak dikunci, aku lagi mandi”, jawab Rina.

Dadaku berdebar kencang saat aku lihat di sudut ruangan ada bayang-bayang body mulus Rina yang seksi itu disiram air dan melulu terhalang partisi plastik tipis (seperti di hotel-hotel). Aku duduk di meja belajar Rina dan merasakan kopi buatannya.

“Mas, udah mandi belum”, tanya Rina.
“Udah, emang kenapa?, tanyaku balik.
“Mau mandi lagi?”, kata Rina.
“Nggak”, jawabku singkat.

Aku membuka majalah di meja Rina, saat tiba-tiba Rina berteriak, “Mas, bantu ada kecoak”, dengan tanpa pikir panjang aku melompat ke kamar mandi itu. Jantungku berdegub kencang saat aku menyaksikan Rina melulu tertutup daster kecil jauh di atas lutut.

“Kecoaknya udah pergi”, Rina berbicara sambil tersenyum.

Aku terdiam dan terpana, Rina tidak merasa malu sedikitpun dia justeru menyemprotkan shower yang dia pegang ke arahku, akupun basah kuyup. Kamipun bercanda, aku ambil shower kloset dengan tak kalah cerdik aku memancar bagian tubuh Rina yang aku rasa buat geli. Rina menggeliat-geliat saat air tersebut menyemprot ke payudaranya, seolah ia menikmatinya, aku kaget ternyata Rina tidak mengenakan BH.

Aku semakin turun dan menyaksikan Rina pun tidak mengenakan celana dalam, darah laki-lakiku memuncak, tanpa kami sadari kami berdekapan dan aku menghirup serta mengulum bibir Rina yang merah dan seksi itu, Rina paling menikmatinya, tangankupun mulai meraba wilayah sensitif Rina, Rina semakin menggeliat-geliat dan daster kecil itupun luruh ke lantai kamar mandi, aku paling terpesona menyaksikan body mulus Rina tanpa sehelai benang pun, Rina semakin menantang, akupun mulai mencumbuinya.

Sedikit demi tidak banyak pakaiankupun dilucuti Rina dengan tangan halusnya. Aku bopong body mulus Rina ke lokasi tidur, Rina memamerkan vaginanya yang kelihatan rapat dan cekung memerah. Aku semakin tidak sabar, aku lepas celana dalamku cepat-cepat. Aku mulai menjilati paha Rina yang mulih halus itu. Rina menggeliat-geliat menyangga nafsu birahi.

Saat lidahku menjilati vagina Rina, Rina berteriak-teriak menyangga kenikmatan. Aku semakin ke atas dan mengulum payudaranya serta menindihnya, semakin ke atas aku mengulum bibirnya dan aku rasakan penisku menyentuk benda lembut namun panas.

Aku coba mengurangi tapi sulit sekali. Rina semakin meregangkan selangkangannya, aku mengurangi pinggangku dan aku rasakan penisku mulai panas (karena penisku menyeruak masuk ke dalam vagina Rina), semakin panas ketika aku menekannya dengan keras dan Rina menjerit sembari mendekapku erat. Sesaat kami terasa tidak sadar, lantas aku mulai memainkan pinggulku, kami paling menikmatinya sampai sesaat lamanya penisku mengejang dan cairan menyeruak di dalam vagina Rina, Rina memelukku erat sekali.

Kami keletihan namun Rina pulang menggoyangkan pinggulnya, akupun seolah tak mau untuk menarik keluar penisku yang diapit vagina Rina yang paling kuat itu, kami memainkan lagi pinggul kami paling lama. Kemudian pulang penisku mengejang dan cairan tersebut menyemprot diding rahim Rina. Dia memejamkan matanya sembari memelukku erat. Kamipun tertidur dengan posisi penisku masih menancap di vaginanya.

Setelah bangun aku merasa penisku sakit dan panas sekali, bakal tetapi ketika aku mau menarik keluar penisku, Rina pulang memelukku. Rina sungguh hebat, kamipun mengerjakan lagi. Setelah tersebut Rina melangkah ke kamar mandi, aku mengikutinya dari belakang. Rina membasuh vaginanya dan aku membasuh penisku.

“Mas, aku lapar”, kata Rina.
“Aku juga”, jawabku samabil kucium bibir Rina.

Rina mengenakan pakaian seperti ketika mandi tadi, tanpa BH dan celana dalam, aku membungkus tubuhku dengan handuk. Kami melangkah ke dapur guna masak, kami berkelakar dan tanpa aku sadari penisku sudah menegang, Rinapun begitu.

Rina duduk di meja dapur dan mengusung kakinya, vaginanya kelihatan begitu estetis dan kecil. Aku pegang penisku dan memasukkannya ke dalam vaginanya, gesekan-gesekan lembut kami kerjakan dengan tenang dan mesra. Setelah sejumlah lama cairan spermaku memancar di dalam vagina Rina. Rina tersenyum puas.

Kami melanjutkan lagi masak dan santap malam. Mulai saat tersebut setiap pagi penisku menegang, aku turun dan mengerjakan perbuatan tersebut dengan Rina, ya nyaris setiap pagi. Kami paling menikmatinya dan aku bicara untuk orang tua Rina guna meminangnya, mereka setuju.

Kami paling bahagia dan semakin gila-gilaan mengerjakan perbuatan mesum itu tanpa kenal masa-masa dan ruang.

 

 

Related Post