Intro Special Edition Nadila - Cerita Dewasa - Cerita Sex Panas - Cerita Sex - Kluber Sex
5298
post-template-default,single,single-post,postid-5298,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,qode-theme-ver-11.1,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
Cerita Hot

Intro Special Edition Nadila

Setelah kunikmati tubuhnya, Beby sering menggodaku. Dari di antara pacarku, Nadila yang terlihat paling cemburu. Bahkan pernah ribut karena memperebutkan aku.

“Kak, kalo kamu pengen poligami sama Beby, aku bakal ngasih ijin, asal kamu bisa adil sama aku, Nat, sama Beby. Kalo gagal, lepasin Beby”
Mau tak mau, aku harus bisa adil. Bapakku saja bisa adil dengan 4 istrinya. “Nad, mungkin aku lepasin Beby”
“Kak, pasti kakak gak bisa lepasin Beby kan?”
“Sesulit melupakanmu sejenak”
Nadila terdiam saat mendengar ucapanku barusan, lalu air matanya menetes.

“Nad, aku bakal terima tantanganmu” Aku mantap mengatakannya.
“Baiklah, aku yakin kakak bisa berbagi kasih dengan kami” Emosi Nadila mulai mereda. Pelukan kami erat di basement parkiran FX Sudirman sore itu sebelum kami berangkat ke theater. Nadila perform sedangkan aku masih cari makanan. Aku berbohong jika sebenarnya aku mencari sesuatu.

Oh iya, aku baru sadar, dalam waktu dekat Nadila akan ulang tahun. Aku pernah dengar curhatannya yang mengeluhkan gitarnya yang rusak akibat ditabrak Nat saat ketakutan nonton film horor. Selain itu, apakah aku cocok memberikannya sesuatu yang lebih berharga juga selain gitar?

Baca Juga: Cerita Dewasa Aku Terjerat Dalam Pergaulan Bebas

Aku berkeliling mencari gitar akustik. Kubeli gitar akustik yang canggih di mana ada indikator stem gitarnya & bisa disambung ke listrik. Aku jadi belikan gitar itu seharga kurang lebih 3 jutaan. Setelah berkeliling, aku tak sengaja melihat toko aksesoris. Aku memesan kalung dengan motif NCW dengan latar berbentuk gitar. Kalung itu jadi kemudian. Langsung kumasukkan ke bagasi mobil agar Nadila tak mengetahuiku.

Tak sadar jika theater selesai & sesi hi touch bubar. Sesuai kode biasanya, aku minta Nadila langsung ke basement parkir.
“Nad, maaf kakak gak datang tadi”
“Gapapa kak, aku aja pernah gak theateran pas kakak nonton”
“Beby ke mana Nad? Udah akur lagi”
“Beby gak enak badan, jenguk yuk”

Kami pun tancap gas ke kosan Beby.
“Nad” Entah mengapa aku berat memanggilnya.
“Kak, gak usah merasa bersalah” Nadila menyandarkan kepalanya di bahuku selama perjalanan. Mendengar perkataannya membuatku tenang kembali. Nadila memang berbeda dengan Nat, lebih peka perasaannya.

Related Post